Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2
Kamu kenapa?


__ADS_3

Satu minggu pun sudah berlalu, artinya selama itu pula tidak ada komunikasi antara Vanya dan juga Riki.


Apakah Vanya baik-baik saja? Tentu saja tidak, semuanya benar-benar begitu sulit untuk di mengerti oleh pikirannya. Rasa rindu itu bahkan semakin menjadi-jadi hingga benar-benar merusak suasana hati.


Begitu juga dengan Ninda yang menjadi saksi saat-saat Vanya melalui setiap harinya tanpa Riki.


"Vanya, makan nasi goreng yuk. Aku laper nih."


"Aku lagi males banget deh, serius," tolak Vanya.


"Kamu belum makan dari pagi"


"Iya sih, tapi aku nggak laper. Gimana dong?"


"Aku aja yang beli nasi gorengnya, kamu tunggu di sini. Nanti, kita makan sama-sama di rumah, gimana?" Ninda pun memberikan sebuah ide yang di angguki oleh Vanya.


"Setuju deh."


"Ya udah, aku naik motor aja biar lebih cepat. Kalau ibu pulang bilangin aku nggak lama."


"Siip!"


Vanya pun duduk sendirian di teras sambil menunggu Ninda kembali.


Menikmati malam ini yang begitu menyedihkan, hari-hari yang berlalu tanpa Riki dan itu sangatlah menyiksa.


Hingga sebuah mobil pun berhenti di depan pintu gerbang sederhana itu, hingga tampak seorang pria yang keluar dari dalamnya


Riki baru saja sampai akan tetapi langsung menemui Vanya, menanyakan banyak hal yang membuatnya menjadi hampir gila karena Vanya tidak bisa di hubungi selama beberapa hari ini.


Sedangkan Vanya pun perlahan bangkit dari duduknya, melihat wajah Riki saja sudah membuat rasa kesalnya hilang seketika.


Apa, hilang?


Semudah itu?


Kini bahkan hati Vanya tampak berbunga meskipun belum ada penjelasan sama sekali tentang keresahan hati.


"Kenapa tidak bisa di hubungi?" Tanya Riki secara langsung.


Vanya hanya diam saja tanpa menjawab sama sekali, sebab dirinya juga tidak tahu cara menjelaskan pada Riki tentang hatinya yang tidak baik-baik saja selama beberapa hari ini.


Bahkan anehnya Vanya tidak peduli lagi pada suara wanita yang pernah terdengar saat melakukan panggilan dengan Riki beberapa hari yang lalu.


Biarkan saja, terserah pada Riki mau apa, silahkan lakukan saja.


Yang jelas saat ini Vanya begitu bahagia melihat Riki ada di hadapannya.


"Ini untuk mu," Riki pun meletakkan sebuah paperbag pada meja, tas mahal seperti apa yang di sukai oleh Vanya selama ini.

__ADS_1


Vanya pun tersenyum, kemudian duduk di kursi dengan tidak sabaran membukanya.


Matanya berbinar seketika itu, dirinya tak menyangka bisa memiliki tas limited edition itu.


Bibir Vanya benar-benar tersenyum penuh kebahagiaan.


"Kau suka?"


Vanya pun mengangguk dengan senyum yang begitu manisnya, sungguh dirinya begitu bahagia hingga mendadak kehilangan kata-kata untuk mengucapkan kata terima kasih sekali pun.


Tapi ada hal lainnya yang jauh lebih penting, Riki harus tahu jika hatinya sudah yakin untuk menerima cinta Riki.


"Vanya, kenapa kamu jadi pendiam? Tapi, syukurlah kalau kamu suka, aku sangat kebingungan memilihkan ini untuk mu. Tidakkah boleh aku memelukmu? Ini bayaran mahal bukan?" Tanya Riki sambil menunjuk tas yang ada di tangan Vanya.


Namun bagaimana dengan Vanya setelah mendengar yang di katakan oleh Riki barusan?


Dirinya terdiam dengan pikiran yang berkecamuk dan begitu membuat dada bergetar hebat.


"Apa masih kurang untuk bayarannya? Nanti aku akan mengajak mu berbelanja lagi, tapi malam ini aku ingin memeluk mu, besok aku tambah bayarannya," kata Riki lagi dengan senyum penuh kebahagiaan.


Vanya pun menutup matanya, kemudian membukanya kembali.


Dengan amarah yang membuncah Vanya pun berjinjit dan melayangkan tangannya pada wajah Riki.


Plak!


Napas Vanya terengah-engah setelah melayangkan tangannya pada wajah Riki.


"Vanya?" Riki menatap wajah wanita itu dengan penuh tanya.


"Apa masih kurang? Aku berjanji akan memberikan mu barang yang lebih mahal lagi ataupun aku bisa memberikan salah satu rumah ku untuk mu"


Dada Vanya semakin bergemuruh hebat mendengar apa yang di katakan oleh Riki.


"Ambil!"


"Vanya, kamu kenapa?" Riki pun bingung dengan sikap Vanya, apakah ada yang salah dari ucapannya barusan?


Sepertinya tidak, lantas mengapa bisa demikian.


Bahkan Vanya masuk ke dalam rumah dengan terburu-buru, kemudian kembali lagi.


"Ambil dan pergi dari sini!" Vanya mengembalikan black card milik Riki, tak ingin memiliki benda ini lagi.


Apa yang di katakan oleh Riki barusan seakan menganggapnya sebagai wanita rendah yang bisa di bayar lalu semua selesai.


Vanya sadar jika selama ini pun demikian, tetapi tidak dengan saat ini dan seterusnya. Karena, ini menyangkut soal perasaan.


Lantas apakah perasaan bisa di perjual belikan dengan begitu saja.

__ADS_1


Sementara Riki masih kebingungan dengan sikap Vanya, bahkan wanita itu terlihat kecewa pada dirinya.


"Vanya, aku salah apa?"


"Salah, pergi dari sini dan jangan pernah sekali-kali mencoba untuk datang lagi. Terserah pada mu mau apa? Mau melaporkan aku ke polisi karena beberapa tindakan kekerasan saat yang lalu juga tidak masalah!" Papar Vanya penuh kekecewaan.


Sampai di sini semua kian semakin membingungkan, ada apa dengan wanita ini. Mengapa kini tampak begitu kecewa pada dirinya.


Rasa rindu di hati Riki sungguh sangat membuncah, hingga tanpa ke rumah orang tuanya terlebih dahulu langsung menemui Vanya.


Tetapi mengapa malah disambut dengan tamparan.


"Vanya?"


"Pergi!"


"Vanya, aku sangat merindukan mu!"


Vanya pun terdiam seketika itu, namun hatinya masih sangat tidak bisa di ajak untuk berdamai.


"Pergi dari sini, aku tidak menjual tubuh ku!" Papar Vanya, dengan suara yang lebih pelan, meskipun ada rasa sakit.


Vanya pun memilih untuk masuk, namun Riki tidak membiarkan Vanya pergi begitu saja sebelum menyelesaikan masalah yang ada.


Riki sudah cukup tersiksa dengan beberapa hari ini, hingga tidak ingin lebih tersiksa lagi.


"Vanya, aku minta maaf kalau aku salah," Riki menahan pintu dengan kakinya, hingga Vanya tidak bisa menutup pintu.


"Pergi!"


"Vanya, dengarkan aku dulu. Aku mohon."


Vanya pun menyerah kemudian memilih untuk diam di tempatnya tanpa menutup pintu seperti apa yang di inginkan awalnya.


"Ngomong, cepat! Abis itu pergi!" Kata Vanya dengan ketus.


Jangan katakan hanya Riki yang tersiksa saat mereka berjauhan, karena Vanya juga sangat merindukan Riki.


Namun apa yang di katakan oleh Riki barusan jauh lebih menyakiti.


Mana kata cinta yang di ucap oleh Riki sebelumnya? Apakah itu hanyalah sebuah kebohongan semata atau hanya sekedar candaan saja?


Sungguh sangat tidak lucu!.


"Vanya, kamu kenapa?" Riki pun bertanya dengan suara pelan, berharap hati Vanya bisa luluh dan juga bisa di ajak untuk berbicara dengan baik-baik.


Vanya pun kembali ke luar, hatinya benar-benar campur aduk dalam sekejap saja.


Begitu juga dengan Riki yang kini berdiri di belakang tubuh mungil bocah yang masih berusia sembilan belas tahun itu.

__ADS_1


Menunggu sesuatu untuk di dengarkan agar dirinya mengerti.


"Cepat, bicara. Kalau tidak ada yang perlu dibicarakan silahkan pergi!"


__ADS_2