
"Dia siapa?" Tanya Alex yang tidak mengerti.
"Dia itu lelaki yang pernah dijodohkan dengan Nayla," terang Jessica.
Sambil melihat Rian yang berjalan ke arah Jessica.
Beberapa Tahun silam Ana berniat menjodohkan Nayla dengan seorang CEO di perusahaan cabang miliknya, saat ini Nayla sedang mengandung anak pertama nya.
Bahkan sudah menjadi istri gelap Devan, hingga Devan membawanya pergi diam-diam dari vila saat Ana mengatur waktu pertemuan antara Nayla dan Rian. Namun, kini lelaki itu muncul kembali.
"Ibu Jessica, apa kabar?" Rian pun mengulurkan tangannya.
"Baik," Jessica pun tersenyum ramah dan membalas uluran tangan Rian.
"Ini suami saya," Jessica pun memperkenalkan Alex.
"Saya Rian Dok," Rian mungkin sering melihat Alex saat bersama Devan.
Dirinya yang sudah sejak lama bekerja di perusahaan milik keluarga Devan tentu tahu.
Hanya saja Alex yang tidak memperhatikan dengan pasti, sehingga merasa tidak mengenal sama sekali.
"Alex," Alex membalas uluran tangan Rian dengan baik.
Kemudian Rian melihat Nayla yang berdiri di samping Devan.
"Apa kabar? Sudah punya anak dua, sepertinya akan bertambah lagi," sapa Rian sambil mengulurkan tangannya.
Nayla pun tersenyum, bersiap mengangkat tangan untuk membalas uluran tangan Rian.
Namun, tiba-tiba Devan yang terlebih dahulu menerima uluran tangan Rian tersebut.
"Keadaan istri saya baik, dia sehat, kami juga bahagia. Kesukaan kami adalah membuat anak sebanyak-banyaknya," jelas Devan dengan panjang lebar.
"Mmmmfffffpp," Jessica tidak kuasa menahan tawa, melihat ekspresi Devan yang luar biasa menandakan pria itu sedang cemburu buta.
Sedangkan Alex mengangkat sebelah alisnya, mengetahui sahabatnya sedang dalam mode panas dingin mendadak.
Beda lagi dengan Nayla. Nayla sampai melongo melihat Devan, mungkin ini sangat aneh sekaligus lucu. Yang jelas rasanya seperti nano-nano.
"Ah, iya," Rian kehabisan kata-kata, tangan nya menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil menatap Devan dan Nayla bergantian.
"Mas..." baru saja Nayla ingin berbicara, mengucapkan sedikit basa-basi untuk membuat Rian tidak merasa aneh melihat akan tingkah laku suaminya, tetapi lagi-lagi Devan menimpalinya dengan cepat. Secepat kilat.
__ADS_1
"Apa sudah tidak ada yang ditanyakan lagi?" Tanya Devan.
Rian bingung harus mengatakan apa, dirinya masih berdiri di tempatnya tanpa tahu harus melakukan apa.
Berbicara apa?
Sepertinya Devan tidak suka pada dirinya, mungkin karena pernah di jodohkan dulunya.
"Mas, kamu ke sini untuk apa?" Akhirnya kali ini Nayla pun bisa bertanya.
"Iya, saya..." lagi-lagi Rian hanya bisa diam tanpa bisa berkata-kata
"Sudah pasti untuk berobat," jawab Devan cepat.
Nayla pun memutuskan untuk diam dan memijat dahinya.
"Iya, benar," Rian tersenyum kecut, sambil memasukkan kedua tangannya pada saku celananya.
"Hay, Hay!" Reyna pun berseru, sampai akhirnya melihat Rian.
"Wah ini Mas, yang pernah di jodohkan Mama Ana dengan Nayla kan? Wah tambah tampan saja, aku Reyna sahabat Nayla, ingatkan dulu pernah ikut nemenin kamu jalan sama Nayla?" Reyna pun tersenyum dengan polosnya, tanpa tahu keadaan seorang pria yang semakin terbakar api kecemburuan.
Rian pun mengangguk setelah mengingat Reyna.
"Baik," Reyna pun membalas uluran tangan Rian.
"Jangan bilang anda mau melamar Nayla!" Ujar Reyna dengan asal.
Nayla langsung memukul kepala Reyna, sahabatnya tersebut memang sedikit gila. Beralih Nayla melihat wajah Devan yang semakin menegang, apa lagi setelah datang Reyna.
"Aduh sakit!" Keluh Reyna.
"Nggak Mbak, saya ke sini ingin mengantarkan istri cek kandungan," jelas Rian.
"Kamu sudah menikah?" Tanya Nayla dengan nada kencang agar Devan mendengar.
"Sudah, itu istri saya..." Rian pun menunjuk seorang wanita yang perlahan berjalan ke arahnya.
Nayla pun merasa mengenal wanita tersebut, tapi kini wanita itu terlihat berbeda. Lebih cantik dari yang dulunya.
"Kamu Aliya bukan?" Tanya Nayla langsung.
Wanita itu pun segera melihat Nayla dan mengangguk.
__ADS_1
"Nayla!" berseru dengan refleks menunjuk Nayla, dirinya juga terkejut melihat Nayla dihadapan nya.
"Iya, apa kabar?"
Keduanya pun bersalaman dan berpelukan ala-ala wanita.
"Kalian saling kenal?" Tanya Rian.
"Ini temen aku Mas, kita itu sahabat. Satu lagi Nanda, apa kabar ya dia?" Tanya Aliya yang tiba-tiba juga teringat wajah Nanda.
"Dia baik, nanti kita kumpul bareng biar seru," kata Nayla tidak kalah antusias.
"Tentu, tapi sekarang aku pamit dulu," setelah saling bertukar nomer ponsel Aliya pun pergi bersama dengan Rian.
Nayla pun mencubit lengan Devan.
"Mas, dengar kan? Mereka sudah menikah!" Kesal Nayla.
Devan pun komat-kamit tidak jelas sambil menatap arah lainnya.
"Wajar dong, kan dulu kalian pernah jalan bareng. Cemburu tanda cinta," ujar Reyna.
Devan semakin kesal, dan segera pergi dari pada harus mendengarkan yang lainnya lagi tentang Nayla dan laki-laki lain.
"Dasar kamu ya!" Nayla sangat kesal pada Reyna yang menjengkelkan.
"Aku salah ya?" Reyna pun menunjukkan wajah bingung, dan tidak mengetahui letak kesalahannya.
"Mau aku bilang sesuatu nggak?" Tanya Nayla dengan emosi.
"Dia itu mantan kekasih Nanda, mereka pernah..." Nayla pun menunjukkan kedua tangannya yang mengerucut dan menggabungkan nya.
Kemudian melenggang pergi begitu saja, menyusul Devan yang sudah kembali ke ruangan.
"Kakak Ipar, aku salah ya?"
"Kamu nggak salah, aku yang salah," jawab Jessica, membuat Alex menahan tawa mendengar nya.
"Terus, maksudnya Nayla apa ya?" Tanya Reyna pada Jessica.
"Mereka pernah ciuman!" Jelas Jessica, kemudian Jessica pun pergi bersama Alex.
"Ciuman?" Reyna bergumam, sambil menahan kekesalannya.
__ADS_1
"Abang jahat!" Reyna pun menangis, kesal pada Nanda yang pernah mencium wanita lain.