Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2
Pajangan!


__ADS_3

"Ok," Vanya memperhatikan penampilannya hingga beberapa kali, dari pantulan cermin.


"Wah, rapi bener," celetuk Ninda melihat Vanya yang tengah sibuk melihat dirinya.


"Emang kamu?"


"Aku kenapa?"


Vanya pun mendesus kemudian menarik Ninda untuk lebih dekat dengan cermin.


"Lihat penampilan kamu, kamu mau ke kampus bukan mau malak!" Kata Vanya dengan gemas.


Tidak ada jiwa seorang perempuan yang melekat pada diri Ninda, hanya terlihat persis seperti lelaki yang begitu kekar.


"Kenapa, suka-suka aku!" Kata Ninda dengan tidak suka.


"Heh, entar bawa makanan lagi ya."


"Sip, aku berangkat ya."


"Aku juga ngampus, entar kalau kamu mau balik telpon aku. Soalnya Ibu marah kalau kita nggak bareng terus kemana-mana."


"Beres."


Begitulah kedekatan mereka berdua, walaupun keduanya belum lama ini saling mengenal satu sama lainnya. Ninda yang memang menjalankan tugas dari Ina dan Vanya yang sedang berusaha untuk menemukan jati dirinya. Tak ingin terus berada di bawah ketiak Sang Ayah yang selama ini selalu menganggapnya tidak pernah dewasa.


Begitu pun Devan yang menginginkan anaknya menjadi seorang yang bertanggung jawab, tidak terus menerus dalam kesenangan tanpa tahu apa itu dunia kejam di luaran sana.


Sejenak menepikan yang lainnya, kembali pada Vanya yang kini sedang berada dalam sebuah taksi menuju kediaman Sela.


Pagi ini dirinya begitu bersemangat, karena tak mau sampai Riki menganggapnya sebagai seorang pengkhianat. Apa lagi kalau sampai ada orang lain yang tahu tentang dirinya dan akan sangat malu pada keluarga yang sudah mengecapnya sebagai anak pembuat onar.


Sesampainya di tempat tujuan Vanya pun turun dari taksi, kemudian memasuki gerbang rumah mewah tersebut.


Rumah yang tidak kalah mewah dari rumah milik kedua orang tuanya.


"Tante," Vanya pun tidak berani masuk, memilih untuk memanggil dari pintu utama yang jelas terbuka lebar.


Karena kesopanan adalah hal utama yang di terapkan oleh Nayla, Vanya tak ingin merusak kebaikan Bunda nya yang selalu mengajarkan untuk mendahulukan kesopanan.


"Vanya, Tante udah nungguin loh," Sela pun muncul, dengan seorang pekerja yang membantunya untuk mendorong kursi roda.


"Sekarang, saya sama Vanya aja ya. Kamu lanjut saja masak."


"Siap Nyonya," Inem pun kembali ke dapur sebab tugasnya memanglah di dapur.


Vanya pun mencium punggung tangan Sela, membuat hati wanita itu merasa memiliki anak perempuan yang lahir dari rahimnya.


Lagi-lagi Vanya membuatnya menjadi kagum.


"Selanjutnya, kalau datang. Kamu langsung masuk saja."


"Iya, Tante," kemudian Vanya pun mengingat kembali jika Sela menunggunya.


"Tante tadi katanya nungguin aku Maaf ya, Tante, aku telat bangun tidurnya kesiangan," Vanya pun cengengesan dengan perasaan bersalahnya.


Sebab, sudah membuat Sela menunggunya, padahal seharusnya dirinya yang menunggu Sela.


"Tidak apa," Sela pun tersenyum lembut, tanpa hentinya mengagumi kesopanan seorang Vanya.


"Kebetulan, Tante mau ngajak kamu ke sekolah taman kanak-kanak. Kebetulan juga, Tante sudah lama tidak ke sana."

__ADS_1


"Taman kanak-kanak?"


"Iya, Tante mendirikan sebuah taman kanak-kanak lima belas tahun yang lalu dan sudah lama sekali Tante tidak berkunjung karena sakit."


"Em," Vanya pun mengangguk.


"Kalau gitu, kita berangkat," seperti biasanya senyum ceria tak pernah lepas dari bibirnya.


Begitu juga dengan saat ini, apa lagi dirinya juga sangat menyukai anak-anak. Bahkan mengambil jurusan Pendidikan Anak Usia Dini atau yang disingkat dengan PAUD. Yang juga memiliki keinginan suatu hari nanti bisa memiliki sebuah sekolah miliknya yang akan dia beri namanya sendiri. Cita-cita seorang Vanya tidak begitu tinggi, bahkan begitu sederhana namun penuh makna.


"Mama, sudah siap?" Tanya Riki yang dari tadi hanya berdiri di kejauhan menyaksikan antara Sela dan juga Vanya yang tengah berinteraksi dengan begitu baik.


"Iya," Sela menjawab pertanyaan Riki, akan tetapi tersenyum pada Vanya.


Vanya membatu Sela untuk naik ke mobil, sesaat kemudian Vanya pun ikut naik.


Riki pun menyalakan mesin mobilnya, kemudian melajukan dengan kecepatan sedang.


Sedangkan Vanya dan juga Sela duduk di jok belakang sambil terus bercerita, seakan kedua begitu akrab.


"Kamu ambil jurusan apa?"


"Pendidikan Anak Usia Dini, Tante."


Sela terkejut mendengarnya, menyadari tampaknya mereka berdua memiliki keinginan yang sama.


"Kamu juga suka anak-anak?"


"Iya, Tante. Soalnya anak-anak itu lucu, mereka sangat membuat terhibur." Vanya pun tersenyum, membayangkan wajah bocah-bocah lucu jika sudah menjadi seorang guru.


"Benar sekali," Sela pun mengangguk setuju.


Sampai akhirnya di tempat tujuan, sekolah taman kanak-kanak milik Sela.


Walaupun sebenarnya Sela masih duduk di kursi roda dengan Vanya yang mendorongnya.


Sampai akhirnya ada seorang anak yang berlarian, lalu tiba-tiba terjatuh. Dengan cepat Vanya pun mendekatinya, kemudian membantunya untuk bangkit kembali. Anak itu terus menangis, membuat Vanya merasa kasihan.


"Sini, biar Tante obati. Jangan nangis lagi, kan sudah besar," Vanya menghapus air mata anak itu, kemudian menghiburnya sambil meniup kaki anak itu yang sedikit lebam.


Sesaat kemudian anak itu pun kembali tersenyum.


"Tante, punya permen. Kamu mau?"


Anak itupun mengangguk cepat setelah Vanya memberikannya, bibirnya pun tersenyum.


"Nama kamu siapa?"


"Faiz, Tante."


"Nama yang bagus, kamu masuk kelas lagi ya. Anak pintar."


Anak itupun kembali masuk ke kelasnya, membuat bibir Vanya tersenyum.


"Kamu mau menjadi guru di sini?" Tanya Sela tiba-tiba.


Dari tadi Sela terus saja memperhatikan Vanya, melihat interaksi antara keduanya membuatnya merasa tersentuh.


"Memangnya boleh Tante?" Vanya begitu bahagia, karena ini adalah keinginannya sejak lama.


"Bisa, tapi. Setiap paginya kita kesini bersama-sama."

__ADS_1


"Siap Tante," Vanya pun memberikan hormat, seakan sedang berhadapan dengan atasannya.


"Ahahahha," Sela tersenyum bahagia dengan kelucuan Vanya.


Sederhana tapi tetap saja apa yang terjadi membuatnya semakin merasa nyaman dengan seorang Vanya.


Begitu juga dengan Riki yang dari tadi terus saja memperhatikan Vanya. Tanpa sadar bibirnya tersenyum melihat kebahagian Sela, itu karena Vanya. Terhitung hari kedua Vanya menjadi teman sehari-hari Sela. Cukup baru tetapi mampu membuat Sela tersenyum bahkan tertawa dengan lepas.


Lama sekali tidak melihat senyuman itu. Hingga Riki lupa jika Sela pernah tersenyum, dan entah kapan terakhir kalinya melihat senyuman seperti ini.


"Vanya, kita ke sana yuk. Tante, sudah lama tidak ke sana."


"Aku, dorong kursi rodanya lagi ya."


"Iya."


Keduanya terus mengelilingi sekolah tersebut, menyaksikan banyaknya anak-anak yang lucu dan menggemaskan. Membuat hati tenang seakan tak memiliki masalah dalam hidup ini.


"Kamu, sudah punya pacar belum?" Tanya Sela.


"Belum Tante, nggak ada yang mau sama aku."


Mendengar jawaban Vanya membuat Sela kembali tertawa terbahak-bahak, jawaban sederhana namun begitu konyol.


"Hehe," Vanya pun tersenyum kecut, merasa malu.


"Aku, aneh ya, Tante?" Tanya Vanya lagi dengan rasa malu.


Sela pun menghentikan tawanya, kemudian menggeleng.


"Kamu itu lucu sekali, mana ada orang secantik kamu nggak ada yang mau," kata Sela lagi dengan di selingi tawa yang masih tersisa.


"Memang begitu, Tante," Vanya mengangkat bahunya, sampai saat ini dirinya memang belum memiliki kekasih hati.


Walaupun sebenarnya tidak lagi ingin menjadi jomblo terus menerus.


"Riki," panggil Sela.


Riki pun melihat Sela, dari tadi dirinya hanya mengikuti kemanapun wanita dihadapannya melangkah.


"Ada yang jomblo," celetuk Sela menunjuk Vanya.


Dengan refleks Riki pun melihat Vanya, tak ada yang menarik dari bocah itu.


Kriteria wanita impian Riki bukan anak bau kencur, dirinya menginginkan wanita dewasa dan terlahir dari keluarga berada. Sebab wanita dari kalangan bawah hanya bisa memanfaatkannya.


"Tante, jangan ngomong gitu. Malu," Vanya pun mendesus kesal.


Tak mengerti jika Sela ingin menjadikan dirinya sebagai menantunya. Hingga lagi-lagi Sela geleng-geleng kepala karena kepolosan seorang Vanya.


"Kenapa harus malu, nanti kalau sudah waktunya juga pasti ketemu. Nggak seperti anak Tante," Sela pun menyinggung Riki.


Begitu pun dengan Vanya yang kini beralih menatap wajah datar Riki.


"Emang Om Riki kenapa Tante?" Tanya Vanya penasaran.


Sela memilih mengangkat bahunya, karena tak ingin membahas putranya yang tak bisa lepas dari masa lalunya itu.


Hingga kemudian Sela pun mengatakan.


"Ya kan Om Riki," celetuk Sela.

__ADS_1


"Ahahahha, Om Riki ngambek Tante," kata Vanya sambil mengejek Riki yang hanya menunjukkan wajah datarnya.


__ADS_2