Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2
Tidak mau calon istri kelelahan.


__ADS_3

Dirinya tahu pasti akan ada kejutan berupa hal aneh dari masakan Vanya, sementara Riki tidak mungkin menolak karena dirinya yang akan menjadi kompor yang teramat panas.


Sebagai lelaki sejati yang mencintai wanitanya, tentunya Riki akan menuruti keinginan Vanya untuk memakan-makan tersebut. Atau Vanya akan bersedih hati.


Ya ampun Felix sudah tidak sabar untuk melihat penderitaan Riki semakin bertambah berat.


"Ayo, suapi Kakanda Riki mu itu!" Kata Felix.


Adnan hanya tersenyum saja, sudah pasti dirinya juga menunggu dengan perasaan was-was karena masakan adiknya yang aneh itu.


"Kakandaku, Ananda membuatkan Ayah kecap spesial untuk Kakandaku," kata Vanya dengan senyuman manisnya.


Sementara Riki rasanya begitu bersemangat setelah melihat senyuman manis Vanya, kurang ajar.


Wajah calon istrinya itu memang sangat meneduhkan hati, dalam sekejap saja hanya karena senyuman bisa membuatnya mendapatkan energi kembali.


Tapi bagaimana dengan masakan Vanya, apakah senikmat kopi buatannya.


Jika membuat kopi Vanya memang sudah hebat tanpa diragukan lagi.


Namun, bagaimana dengan kali ini.


"Apa yang kau pikirkan, itu calon istrimu memintamu memakan masakannya. Apa kau tidak mau? Kau menghinanya?" Benar bukan, Felix menjadi kompor. Hingga membuat Vanya bertanya-tanya dan meragukan Riki.


"Tidak sayang..."


"Sayang... sayang, belum menikah!" Adnan pun ikut menimpali, panggilan tersebut hanya setelah menikah menurut nya.


Apa lagi dihadapan keluarga rasanya kurang sopan, kecuali sudah menikah.


Riki pun lagi-lagi kesal namun hanya bisa diam mengikuti semua perintah dari Felix maupun Adnan.


"Mas, coba ya," kata Riki dengan senyuman.


"Mas? Huuueekkk," Felix ingin muntah mendengarnya, rasanya sangat menggelikan.


"Kak Felix, apaan sih, semuanya salah!" Kata Vanya ikut kesal pada Kakak sulungnya itu.


"Tidak, seharusnya kau memanggilnya Kakanda," jawab Felix.


"Ya juga ya," Vanya pun merasa benar saat mendengar apa yang dikatakan oleh Felix.


"Hey, cepat di coba itu masakannya!" Kesal Adnan yang tak sabar menunggu.


Dari tadi menantikan detik-detik menegangkan sekali, malah sibuk berdebat hal yang tidak jelas membuatnya tidak sabar.


Riki pun akhirnya memilih untuk mencicipi masakan Vanya, dari pada terus menjadi bahan bulian kedua pria itu.

__ADS_1


Sementara Adnan dan Felix pun menunggunya.


Tepatnya menunggu saat-saat Riki merasa ingin muntah, namun terpaksa untuk menelannya karena tidak ingin Vanya kecewa.


"Enak?" Tanya Vanya penuh semangat.


"Ya, ini enak sekali. Terima kasih," Riki pun tersenyum bahkan tampak menikmati makanannya.


"Ambil lagi."


"Iya, ini masakan terlezat yang pernah aku coba."


Sementara Felix dan Adnan merasa kesal karena sepertinya apa yang mereka pikirkan tidak seperti kenyataannya.


Keduanya pun saling pandang penuh kebingungan, bertanya-tanya mungkinkah benar masakan Vanya sangat enak.


Seketika Felix mengingat apa yang pernah dikatakan Devan beberapa waktu lalu, dimana Devan yang mencoba sendiri kopi buatan Vanya. Juga nasi goreng yang terasa enak, sungguh sangat luar biasa jika dibandingkan sebelumnya. Membuat Felix pun penasaran dan berinisiatif untuk mencobanya.


Apa lagi wajah Riki sangat menikmatinya, mungkinkah Vanya sudah begitu pintar setelah menjadi mandiri.


Kurang ajar, Felix semakin dibuat penasaran saja.


"Enak Kakanda?"


"Ini sangat enak."


Lagi-lagi mulut Riki tampak begitu lahap menikmati masakan Vanya, semakin membingungkan bagi Adnan dan Felix.


Felix pun bangkit dari duduknya, mendekati piring yang di pegang Vanya. Menatap ayam yang memang tampak enak.


Dari tampilannya tidak ada yang aneh, mungkin saja benar rasa masakan itu sangat enak.


Tapi seenak apa?


"Kakak mau coba?" Tanya Vanya.


"Iya," jawab Felix dengan yakin.


"Kak Adnan?" Tanya Vanya pada Kakaknya yang satu lagi.


"Tentu," Adnan juga tidak ingin mati berdiri, sehingga mencoba secara langsung adalah pilihan tepatnya.


Keduanya pun mulai mengambil makanan tersebut dari piring yang masih di pegang oleh Vanya, sejenak menatapnya dan memang terlihat cukup menarik.


Keduanya langsung memasukan ayam kecap sepesial buatan Vanya ke dalam mulutnya, menikmati rasanya.


Dan ternyata aneh yang membuat tawa Riki pecah seketika itu juga.

__ADS_1


"Ahahahhaha!" Tawa Riki benar-benar menggelegar dengan sempurna, karena dirinya berpura-pura merasa nikmat merasakan masakan Vanya dengan rasa aneh itu.


Lihat saja, kini malah Felix dan Adnan ikut merasakannya.


Biarlah mereka merasakan rasa masakan itu bersama-sama, menderita juga bersama-sama.


"Hueekkkkkk!" Felix dan juga Adnan pun


memuntahkan isi mulutnya.


Bahkan lidah keduanya terasa ikut bengkak setelah merasakan masakan Vanya barusan.


"Kau menipu kami!" Kesal Felix.


"Ahahahhaha," Riki tertawa puas melihat wajah kedua lelaki itu.


"Vanya, apa garam di rumah ini sudah habis?" Tanya Felix pada Vanya.


"Nggak Kak, ini kurang garam, ya? Padahal aku udah kasih garam hampir setengah gelas air," jawab Vanya dengan polosnya, bahkan Vanya tampak kebingungan memikirkan garam yang kurang, seperti apa yang dikatakan oleh Felix.


"Setelah gelas garam?" Tanya Adnan tidak percaya mendengarnya.


"Iya, kurang ya Kak?" Tanya Vanya bingung.


"Kalau gitu aku tambahin setengah tempat garamnya lagi aja, biar lebih terasa."


"Dasar gila, kalian cocok sekali untuk berjodoh. Satunya gila, satunya stress!" Kata Felix kemudian pergi begitu saja.


Dengan membawa perasaan kesal, benar-benar ikut dikerjai oleh Riki.


Bahkan lebih lama di sana malah membuatnya ikut gila saja.


"Kakanda, emang rasanya aneh?" Tanya Vanya yang masih saja bingung.


"Enggak, enak banget," jawab Riki sambil menahan tawa.


Hingga akhirnya Vanya pun beralih menatap Adnan yang masih berada di tepatnya.


Adnan tampak terus meludah, mungkin saja untuk menghilangkan rasa aneh itu.


"Kak Adnan, suka? Abisin aja," Vanya pun berniat untuk memberikan piring di tangannya pada Adnan. Karena masih ada sisa makanannya. Namun Adnan merasa piring tersebut jauh lebih horor dari pada apapun di dunia ini.


"Nggak!" Adnan langsung saja melarikan diri, tepatnya menyelamatkan diri dari pada harus memakan masakan Vanya yang hanya ada rasa garamnya saja.


Vanya tidak perduli dengan kedua Kakaknya itu, kemudian beralih menatap Riki.


"Kakanda mau masakan yang lainnya?"

__ADS_1


Riki pun menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Tidak usah repot-repot, aku tidak mau calon istri ku kelelahan."


__ADS_2