Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2
Kebahagiaan Adnan.


__ADS_3

Nayla pun kini mengalami serangan darah tinggi dengan mendadak karena apa yang di dengarnya barusan.


Bahkan Cahaya sampai ketakutan dan tidak tahu bagaimana cara memeriksa keadaan Nayla lagi karena terlalu panik melihat kondisi Nayla saat ini.


Namun, beruntung Devan juga seorang Dokter hebat sehingga langsung memeriksa keadaan istrinya, bahkan mengatasinya dengan segera.


Namun, sampai saat ini juga Nayla masih berbaring di atas ranjang, bahkan belum sadarkan diri.


Membuat semua anggota keluarga semakin panik saja.


Tapi Devan tahu istrinya itu baik-baik saja, lagi pula mengingat usia yang sudah tak lagi muda tentunya sangat mudah untuk terkena berbagai macam penyakit.


"Sebaiknya kalian istirahat saja, nanti Bunda akan sadar. Tidak ada yang perlu di khawatir," jelas Devan.


Cahaya meremas kedua tangannya, dirinya sangat bingung harus bagaimana.


Sebenarnya dirinya tidak bisa meninggalkan Nayla begitu saja sebelum melihat kedua mata Nayla kembali terbuka maka pikirannya tidak akan baik-baik saja.


Rasa bersalah ini membuatnya begitu tersiksa, sambil berdoa semoga saja tidak ada hal lebih buruk terjadi pada ibu mertuanya itu.


"Ayah, Bunda pingsan karena aku," kata Cahaya mengakui kesalahannya.


Dirinya benar-benar merasa bersalah atas semua ini.


Andai saja tidak karena kecerobohannya mengucapkan kata mungkin ini tidak akan terjadi, lagi pula mengapa bisa dirinya salah mengucapkan nama.


Mungkin karena terlalu bahagia atas kehamilan Rena hingga membuatnya salah berbicara.


Cahaya benar-benar dan bingung cara menebus kesalahannya seperti apa.


"Sudahlah, tidak ada yang salah. Bunda, juga baik-baik saja, kamu juga istirahat dulu ke kamar. Ayah, tau kamu lelah seharian ini," kata Devan meyakinkan Cahaya agar tidak lagi dalam kepanikannya.


"Tapi, aku salah Yah," kata Cahaya lagi penuh penyesalan.


Entah bagaimana caranya untuk membuatnya bisa tenang, jika diminta untuk menjaga Nayla sampai kembali pulih pun Cahaya tidak akan keberatan.


Demi menebus kesalahan yang telah dilakukannya itu.


Devan pun tersenyum, merasa Cahaya tidak mungkin melakukan sebuah kejahatan. Mengingat dirinya sangat tahu siapa menantunya tersebut.


Sehingga rasanya tidak harus memikirkan apa yang terjadi, lagi pula Cahaya pun tampak menyesalinya.


Sebaiknya tidak perlu membahas lagi, karena tidak ingin Cahaya malah semakin merasa bersalah saja.


Apa lagi di mata Devan baik kedua menantunya ataupun anaknya sama saja, tidak ada menantu di rumahnya.


Cahaya juga anaknya, begitupun dengan Rena. Mungkin kecuali Riki.

__ADS_1


Ya ampun, ada apa dengan duda lapuk itu, sepertinya Devan masih sangat kesal.


Menepikan tentang Riki, akhirnya Cahaya pun menurut pada apa yang dikatakan oleh Devan dan juga sedikit kalimat yang di dengarnya dari suaminya Felix akan keadaan Nayla.


"Abang, tadi itu..."


"Tidak usah dibahas lagi, Bunda juga baik-baik saja," Felix langsung membawa Cahaya menuju kamar, karena tidak ingin membuat istrinya tersebut tidak enak hati terus-menerus tanpa hentinya.


Dirinya pun tahu Cahaya tidak mungkin berani berbuat jahat pada Nayla.


"Abang, marah nggak sama aku?"


"Enggak, lagian pasti itu cuma kebetulan aja."


"Kebetulan?"


"Iya, kebetulan Bunda pingsan pas sama kamu. Mungkin dari kemarin kemarin Bunda stres berat memikirkan permasalahan Vanya, tidak usah pikirkan lagi istri cantik ku sayang," Felix pun mengusap kepala Cahaya. Kemudian mengangkat tubuh istrinya hingga membaringkan secara perlahan pada ranjang.


"Jangan lagi pikirkan itu!"


"Tapi seharusnya Abang dengerin dulu apa yang tadi aku bilang..."


"Nggak perlu, jangan di bicarakan lagi. Sudah makan kamu harus istirahat. Besok kamu harus ke rumah sakitkan?"


Cahaya pun mengangguk menurut pada Felix, sebab dirinya takut lagi-lagi malah membuat kesalahan.


Sementara di kamar lainnya ada yang sedang berbahagia, betapa tidak. Adnan, terus saja tersenyum tanpa hentinya setelah mengetahui kehamilan Rena yang tak lain adalah istrinya.


Lelahnya terbayar sudah, selama ini peras keringat akhirnya jadi juga cetakannya.


Tinggal menunggu hari yang menunjukkan nanti lebih mirip dirinya atau Rena.


Jika lebih mirip Rena artinya lebih banyak Rena yang mengeluarkan keringat.


Namun, jika sebaliknya. Maka itu berarti Adnan yang lebih banyak berusaha dalam pencetakan ini.


Sungguh Adnan sangat bangga karena berhasil mencetak sebuah karya seni yang begitu luar biasa.


Baiklah jangan pikirkan dulu itu, karena saat ini Adnan hanya ingin memeluk istrinya penuh rasa bahagia.


Rasa cinta dan juga rasa kagum lagi-lagi membayangkan akan di panggil Papa oleh anaknya nanti.


Tangannya yang memegang perut Rena sambil berkata sesuatu hal tak cukup penting.


Rasanya ini jauh lebih penting dari apa saja, termasuk apapun saat ini.


"Maaf ya Nak, kamu baru bisa jadi sekarang. Soalnya dulu, Papa sibuk ngejar-ngejar Mama kamu yang nggak tahu Papa sayang sama dia."

__ADS_1


Rena pun terkejut mendengarnya, siapa sangka jika suaminya itu bisa berucap demikian.


Aneh bukan, begitulah adanya.


"Mas Adnan, apaan sih!"


"Hehe," Adnan pun terkekeh geli melihat wajah istrinya yang kesal.


"Mau di tengokin nggak?" Kata Adnan lagi menggoda Rena, tapi jika dianggap serius juga Adnan tidak berkeberatan, memang dirinya sangat lelah, tetapi tubuhnya akan segar jika hanya untuk menjenguk anaknya itu.


"Mas ish!" Rena pun kesal dan memilih menjauh, tetapi tetap saja Adnan menarik Rena ke dalam pelukannya.


"Kira-kira kalau sudah lahir kita kasih nama siapa ya?"


"Apaan sih Mas, masih lama juga. Belum di periksa ke Dokter kandungan juga."


"Mas, tidak sabar"


"Sama, aku juga pengen lihat dia besok pas di USG," Rena pun tersenyum, membayangkan bahwa dirinya tidak akan lama lagi menjadi seorang Ibu.


Sungguh itu sangat membahagiakan yang tak dapat diungkapkan oleh bibirnya.


"Kira-kira dia udah sebesar apa ya Mas, aku juga udah nggak sabar. Kita sama-sama nggak sabar pengen lihat dia."


"Enak aja, Mas nggak sabar bukan pengen lihat dia besok di Dokter," jelas Adnan.


Sebab Rena salah dalam menebak apa yang ada dipikirannya.


Rena pun menatap Adnan penuh tanya, tidak mengerti dengan maksud dari suaminya itu.


"Terus Mas nggak sabar apa?" Tanya Rena.


"Nggak sabar pengen ngasih adik buat dia," Adnan pun kembali mengusap perut Rena yang masih rata itu.


Terdengar konyol mungkin, tetapi di telinga Rena lebih terdengar aneh.


"Ya ampun Mas, jangan aneh-aneh. Ini aja belum lahir!"


"Ya nggak apa-apa, namanya mikirin masa depan yang indah."


"Tau ah!" Rena pun memilih untuk naik ke atas ranjang, lebih baik segera beristirahat dari pada mendengarkan ocehan nyeleneh suaminya itu.


"Kamu ngajak bikin adik buat dia ya!"


"Mas!" Seru Rena.


"Hehe, kirain gitu," Adnan pun menyusul naik ke atas ranjang, memeluk istrinya dengan penuh kebahagiaan yang tidak terkira.

__ADS_1


__ADS_2