
Ponsel Adnan terus saja bergetar membuat Rena meliriknya. Sesaat kemudian panggilan pun mati, malah terlihat ada dua puluh panggilan tidak terjawab. Membuat Rena merasa penasaran, apa lagi yang menghubungi adalah Felix. Apa ada yang terjadi di rumah pikirnya sehingga begitu banyak panggil dari Felix.
"Mas, Kak Felix. Takutnya ada yang penting, soal Bunda mungkin, takutnya mau ngabarin apa gitu," Rena menggerakkan tangan Adnan. Hingga akhirnya mata pria itu terbuka dengan paksa, padahal dirinya begitu lelah. Tetapi ponselnya lagi-lagi berbunyi, dan Adnan pun menerimanya.
"Kurang ajar, kau ada di mana? Apa kau lupa tadi sudah mengatakan bahwa kau yang berangkat?" Cerca Felix dari sebrang sana dengan penuh kekesalan.
Adnan pun mengacak rambutnya, kesal pada Felix dan dirinya sendiri yang malah lupa dengan keberangkatannya. Itu semua terjadi karena Rena, wanita seksi yang membuatnya kehilangan akal sehat dalam sekejap saja.
Begitu pun saat ini.
Apapun akan di tinggalkan oleh seorang Adnan jika tawarannya adalah Rena.
"Kak, aku tidak bisa. Istri ku sedang sakit, bohong Adnan.
"Aku?" Rena pun kebingungan, sebab dirinya baik-baik saja. Tetapi, mengapa Adnan mengatakan dirinya sedang sakit.
"Sssst!" Adnan menutup mulut Rena agar diam.
"Kau saja yang berangkat." Kembali berbicara pada Felix.
Sesaat mengatakan itu Adnan langsung memutuskan sambungan telepon, kemudian memilih untuk memeluk istrinya kembali.
"Mas, aku nggak apa-apa. Kok, di bilang sakit?"
"Memangnya kamu tidak sakit?" Tanya Adnan kembali.
"Nggak," jawab Rena dengan yakin.
"Begitu," Adnan pun mengangguk.
"Mandi yuk."
"Mandi?" bingung tentu saja, sebab Adnan ikut mengajaknya.
Rasanya tak mungkin bukan jika Adnan ingin mandi bersama dengan dirinya.
"Iya, kamu tidak mandi?"
"Mandi."
"Ya sudah, ayo."
"Mandi bareng?"
"Iya, kenapa? Ada yang salah?"
Rena menggeleng, tidak ada yang salah. Tetapi tidak juga benar. Sebab, dirinya tak bisa mandi bersama dengan Adnan.
"Rena, kamu tidak lupakan kalau aku ini suami mu."
__ADS_1
Rena tahu Adnan adalah suaminya, tetapi bagaimana dengan mandi bersama?
Rasanya begitu menegangkan.
"Aku berangkat ya, keluar kota!" Ancaman yang bisa membuat Rena menurut padanya.
"Jangan, ya udah aku mau!"
Benar saja, Adnan menjadi pemenangnya.
Segera Rena turun dari ranjang dan berniat ingin memasuki kamar mandi, tapi malah meringis menahan sakit.
"Kenapa?"
"Sakit."
"Katanya nggak sakit," goda Adnan.
Wajah Rena pun bersemu merah, ternyata sakit yang di maksud Adnan saat berbicara dengan Felix barusan bukanlah sakit demam atau pun yang lainnya seperti apa yang dipikirkan oleh otaknya.
Tetapi sakit karena sudah berhasil membobol gawangnya. Gawang yang rapat itu kini sudah jebol karena tendangan bebas Adnan.
Rasanya sungguh luar biasa.
Bikin panas dingin, kejang-kejang, serta mendadak berkeringat.
"Kamu apaan sih?"
"Dasar aneh!"
"Ayo," Adnan pun memilih untuk mengangkat tubuh Rena, hingga akhirnya keduanya mandi bersama.
Banyak yang terjadi di dalam kamar mandi, salah satunya gosok gigi, cuci kaki, cuci muka sampai mengocok botol pasta gigi karena kehabisan.
Adnan yang kaya raya sejak belum di lahirkan ke dunia malah seakan menjadi miskin karena kehabisan pasta gigi.
"Mas Adnan miskin banget sih."
"Mas sudah kaya karena udah punya kamu," goda Adnan.
"Dasar tukang gombal!"
Bayangkan saja selama ini keduanya hanya biasa saja kini mendadak menjadi sedekat ini, bahkan sudah menyatu layaknya beras dan air yang tak lagi bisa berjauhan.
"Kocoknya agak kencang biar enak," kata Adnan.
Tetapi Rena malah merasa geli dengan apa yang barusan di katakan oleh Adnan, rasanya memang berbeda setelah merasakannya mungkin.
Ataupun mungkin mini dirinya sudah tertular virus Adnan dan itu adalah virus mesum yang tidak ada obatnya selain di berikan pada pawangnya.
__ADS_1
"Ayo mikirin apa?" Adnan pun menggoda Rena dengan senyum serta kedipan mata.
"Mas, apaan sih! aku nggak ngerti tau, maksud aku ini odolnya. Jangan aneh- aneh!"
"Ayo Mas bantu," kata Adnan sambil menggerakkan tangan Rena yang memasukan air ke dalam tempat pasta gigi.
"Gini?" Rena pun mengocok pasta gigi hingga akhirnya bisa menggosok giginya dengan bersih.
Sesaat kemudian Rena pun di minta untuk menggosok punggung Adnan.
"Lebih kencang"
"Siap!" Rena menggosok punggung Adnan sesuai dengan keinginan Adnan.
Adnan kini semakin merasa beruntung setelah menikahi Rena. Karena Rena memiliki kelebihan yaitu pintar menggosok punggungnya.
"Rena, selain kamu hebat dalam menggosok punggung, mengocok odol. Mas akui kamu juga hebat mengocok burung," ujar Adnan.
"Mas!" Rena pun berteriak keras, Adnan memang aneh tapi percayalah kini keduanya begitu bahagia dengan pernikahan ini.
"Itu kenyataan, coba kocok lagi!"
"Nggak!"
"Pasta giginya, bukan burung, kalau burung juga yang di luar. Atau kamu mikir burung Mas?"
"Mas Adnan!"
"Oh mau?"
"Nggak mau!"
"Mau."
"Nggak mau!"
"Ahahahha......"
"Gosok aja punggung mu ini sendiri!" Rena pun melilitkan handuk di tubuhnya, kemudian keluar dari kamar mandi membawa kekesalannya.
"Rena," Adnna tersenyum melihat istrinya yang sedang cemberut.
Tetapi di matanya begitu menggemaskan, kini semuanya begitu bahagia semoga selamanya akan terus begitu.
"Rena!" Panggil Adnan dari dalam kamar mandi.
"Nggak mau!" jawab Rena.
"Apa yang kamu mau? Burung mau?" Tanya Adnan dengan suaranya yang sedikit meninggi agar Rena mendengar di luar sana.
__ADS_1
"Dasar Dosen cabul!"
"Ahahahha," Adnan malah tertawa karena Rena menyebutnya sebagai dosen cabul, beruntung yang mengatakan istrinya, jika orang lain sudah pasti habis di tangannya.