Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2
Dalam waktu tujuh hari saja..


__ADS_3

Hari-hari terus berlalu, hingga genap sudah tujuh hari Vanya bekerja di kediaman keluarga Riki. Vanya pun semakin dekat dengan Sela.


Sampai akhirnya hari ini dirinya tidak bisa datang ke rumah Sela, sebab Vanya sedang tidak enak badan. Sejak semalam terus saja meriang, mungkin karena perubahan cuaca.


Ataupun karena kemarin dia kehujanan saat pulang ke rumah, belum lagi selalu berenang dalam waktu yang cukup lama. Maka, lengkap sudah, membuatnya benar-benar harus beristirahat di rumah demi pemulihan.


Tetapi Riki merasa aneh, sebenarnya yang dekat dengan Vanya adalah Sela. Namun mengapa dirinya juga terbiasa berdebat dengan Vanya malah hari ini terasa berbeda.


Bibir Vanya yang komat-kamit mendadak membuatnya terus saja membayangkan wajah wanita tersebut.


"Ma, apa Vanya benar-benar sakit?"


Riki mendatangi Sela yang sedang berada di kamar, bahkan tanpa basa-basi sama sekali langsung masuk dan melayangkan pertanyaannya.


Sela pun sedikit bingung saat anaknya mempertanyakan tentang Vanya.


Bukankah kedua manusia tersebut adalah musuh bebuyutan, tidak pernah bisa akur sama sekali.


Lantas mengapa kini Riki mempertanyakan tentang wanita tersebut.


Sedangkan Riki menyadari tatapan mata Sela, membuatnya merasa tidak nyaman.


"Aku, cuma bertanya, Ma. Bagaimana pun dia punya masalah sama aku."


Riki pun berusaha menjelaskan, agar bisa segera menepis apapun yang kini tengah di pikirkan oleh Sela.


Sela mengangguk lemah, tetapi penjelasan Riki sama sekali tidak dapat membuatnya yakin.


"Ma, jangan bilang kalau Mama mikir aku ini tertarik pada dia," tebak Riki akan isi kepala perempuan yang sudah melahirkan nya tersebut.


Jika saja benar demikian maka Riki akan menjelaskan dan meyakinkan jika dirinya tidak tertarik sama sekali.


Sejak kapan bocah bisa membuatnya tertarik? Tapi pikiran tak sesuai dengan kenyataan.


Nyatanya Riki pun terus saja memikirkan Vanya.


"Tertarik?" Sela kembali bertanya, seakan membuat Riki terjebak.


"Ma, dia masih memiliki tanggung jawab. Kepala aku bocor gara-gara bocah ingusan itu! Jangan bilang Mama lupa."


Riki pun mengeluarkan penjelasan yang cukup masuk akal, agar tidak ada pikiran lain yang terlintas di benak Sela.


Tapi mungkinkah Sela dapat percaya dengan ucapan anaknya tersebut?


"Begitu?" Sela pun tersenyum mengejek Riki, karena dirinya tahu seperti apa watak anaknya tersebut.


Sudah pasti ada sesuatu hal lainnya, selain hanya urusan perjanjian.

__ADS_1


Riki pun memilih pergi, dari pada terus terintimidasi oleh Sela.


Tetapi pikirannya mendadak menerawang jauh, hingga akhirnya Riki pun mengambil ponselnya dari balik saku celananya.


Sesaat kemudian Riki pun menyimpan kembali, merasa tidak perlu sampai menghubungi Vanya.


"Nanti dia pikir aku tertarik padanya, dia bisa besar kepala? Tapi mungkin iya juga," gumam Riki tersenyum tanpa sadar saat mengingat wajah Vanya.


Baiklah Riki tidak bisa terus berdiam diri rumah, tampaknya harus pergi. Kemana saja asalkan tidak di rumah yang hanya membuatnya memikirkan Vanya. Hingga akhimya Riki menuju kediaman Vanya, seperti selama ini yang di ketahuinya jika Vanya hanyalah wanita biasa tanpa memiliki kekayaan ataupun kekuasaan. Riki hanya diam di dalam mobilnya, menatap rumah sederhana yang kini tengah di pandanginya.


"Bukannya aku tidak ingin ke sini?" Riki merasa bingung dengan dirinya sendiri, mengapa bisa malah menuju kediaman Vanya. Ini sungguh menjengkelkan, perasaan bingung kian menyelimuti.


Antara ingin melihat langsung keadaan Vanya ataupun tetap hanya berdiam diri di sana.


Riki pun akhirnya memutuskan untuk pergi, tanpa melihat keadaan Vanya.


Namun tidak, hingga kembali memundurkan mobilnya dan turun. Alasannya hanya memastikan bahwa wanita itu tidak melarikan diri, sebab masih memiliki perjanjian dengannya.


Ya.


Riki yakin, tapi tidak. Riki mendadak tidak mengerti dengan dirinya sendiri.


Tok... tok... tok...


Tangan Riki bergerak mengetuk pintu, hingga Ninda pun membukanya.


"Om Riki?" Ninda cukup terkejut melihat siapa yang bertamu ke rumahnya.


Karena tidak ada yang lain selain itu, tapi apakah Vanya akan di marahi karena di anggap bolos dalam bekerja? Tapi Vanya sedang sakit saat ini, apakah harus di paksakan untuk bekerja juga.


"Vanya ada?"


Betul apa yang di pikirkan oleh Ninda, hingga menganggukkan kepalanya.


"Om, tunggu di teras aja ya. Itu ada kursi, soalnya Ibu masih belum pulang kerja. Ibu dan Bapak bisa marah kalau tahu saya menerima tamu di dalam rumah tanpa mereka," jelas Ninda dengan was-was.


Semoga saja Riki mengerti, sebab dirinya hanya mengikuti apapun yang di katakan kedua orang tuanya.


Riki pun mengangguk dan duduk di kursi yang ada di teras.


Menurutnya apa yang di katakan Ninda memang benar adanya.


Sampai di sini Riki semakin penasaran pada Vanya, dirinya yakin sekali bahwa wanita tersebut tidak liar seperti wanita yang di kenalnya selama di luaran sana.


Hingga akhirnya Vanya pun keluar, selimut tebal melilit di tubuhnya yang menggigil.


"Om, aku minta waktunya, ya. Aku masuk angin kayaknya karena kelamaan berenang," kata Vanya yang sudah duduk di kursi.

__ADS_1


Tiba-tiba saja tangan Riki memegang dahinya, benar saja suhu tubuh wanita itu cukup tinggi.


"Sudah ke Dokter?"


"Belum Om, tunggu Ibu pulang dulu."


"Blar saya antarkan sekarang."


Riki langsung menawarkan diri, karena tak ingin Vanya semakin kesakitan.


"Nggak perlu Om, tunggu Ibu saja," tolak Vanya.


"Sekarang saja," Riki langsung mengangkat tubuh Vanya, kemudian memasukannya ke dalam mobil.


Tidak perduli pada penolakan yang terlontar dari mulut Vanya.


"Om, maksa banget sih?" Kesal Vanya.


"Saya cuma kasihan sama Mama, soalnya Mama kesepian karena kamu tidak masuk bekerja," bohong Riki. Sebenamya bukan Sela tapi dirinya, biar saja Vanya menganggap Sela yang kesepian.


"Om, waktu kerja aku tinggal dua puluh tiga hari lagi kan?" Vanya tersenyum saat mengingat dirinya akan terbebas.


Tetapi Riki hanya diam saja, seakan tidak ingin membahasnya.


Setelah sampai di rumah sakit Vanya pun langsung mendapat penanganan, kemudian kembali lagi di antarkan pulang.


Akhirnya Vanya pun sampai di rumah kembali, tak di sangka ternyata ada seorang teman lelakinya yang sudah menunggu di rumah.


"Sandi," Vanya tersenyum penuh kebahagiaan, bagaimana tidak.


Lelaki tersebut adalah tetangga sebelah yang sangat tampan dan membuatnya menjadi tidak karuan.


"Cie, di jenguk. Ehem..." goda Ninda.


Ninda tahu jika Vanya dan juga Sandi sedang dalam masa pendekatan.


Meskipun Sandi hanya tahu jika Vanya adalah sepupu Ninda yang baru datang dari kampung.


"Hey, kenapa masih di luar? Masuk!" Riki langsung menarik Vanya untuk masuk ke dalam rumah.


"Om, apaan sih?" Vanya tentu saja kesal pada kelakuan aneh Riki.


Tetapi Riki tak menghiraukan sama sekali yang ada malah mengusir Sandi.


"Pergi!"


Sandi pun terpaksa pergi, meskipun sebenarnya masih ingin lebih lama lagi bertemu dengan Vanya.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan menuju rumah Riki terus saja memikirkan Vanya.


Riki sadar sudah jatuh hati pada seorang bocah ingusan dalam waktu tujuh hari saja.


__ADS_2