
Dua hari kemudian.
Dua hari berlalu tidak lantas membuat Riki benar-benar hanya menyerah, selama dua hari ini dirinya hanya sedang mencoba untuk membuat keadaan menjadi lebih baik. Meredam amarah yang tengah membuncah dan semuanya mungkin saja bisa menjadi lebih baik.
Lihat saja pagi ini, dengan penuh keyakinan Riki pun menuju kantor Felix.
Ingin berbicara secara langsung dan mungkin saja bisa membuahkan hasil maksimal seperti yang diinginkannya.
Hidupnya kini hanya Vanya, tidak ada yang lain sehingga tidak akan bisa untuk mundur apapun yang terjadi kedepanya.
Tap... tap... tap...
Terdengar suara derap langkah kaki, perlahan semakin mendekat ke arah meja kerja Felix.
Dimana Felix tengah sibuk dengan banyaknya berkas-berkas di tangannya.
Felix bahkan sampai tidak menyadari kehadiran Riki, Felix hanya perduli pada pekerjaannya tanpa terkecuali.
Sementara Riki masih saja mudah masuk ke ruang Felix, sebab sudah terbiasa seperti itu.
Tapi sepertinya Riki lupa jika kini dirinya bukan lagi siapa-siapa di mata sahabatnya tersebut.
Hingga akhirnya Felix pun sejenak menghentikan pekerjaannya, melihat ke depan dan menatap Riki.
Felix pun tersenyum melihat kehadiran Riki di sana, dirinya menyangka semuanya sudah selesai.
Namun, pada kenyataannya tidak. Riki masih saja datang bisa ditebak tujuan Riki saat ini adalah Vanya.
"Apa kau pikir masih sama seperti dulu?" Felix pun tersenyum miring.
"Kau bukan lagi, siapa-siapa kurang ajar!"
Benar-benar tidak ada lagi persahabatan seperti semula, kini semuanya sudah benar-benar berubah tanpa bisa dicegah bahkan oleh Riki sekalipun.
"Jika aku kurang ajar, adik mu itu sudah tidak lagi perawan!" Papar Riki.
Sepertinya apa yang dikatakan oleh Riki benar adanya, sebab selama ini selalu bersama dengan Vanya.
Bahkan jika dirinya mau semuanya sudah terjadi, karena Vanya juga tidak akan pernah untuk menolak.
Tapi tidak, Riki tidak bisa kurang ajar pada wanita yang dicintainya itu.
Sementara Felix langsung saja bangkit dari duduknya mendengar jawaban Riki sungguh membuat darahnya mendidih seketika.
"Apa maksud mu?" Tatapan penuh kebencian pun dilayangkan pada Riki.
Sementara Riki memilih untuk tetap tenang dan duduk di sofa, terserah pada Felix saja ingin melakukan apa terhadap dirinya. Karena saat ini dirinya benar-benar ingin menikahi Vanya.
"Rasanya aku tidak perlu bercerita lebih panjang lagi, karena semuanya kau sudah tahu. Tetapi, satu hal yang harus kau tahu, aku mencintainya dan dia mencintaiku. Sebenarnya, jika saja aku mau. Sudah lama dia ku jadikan pemuasku!"
Felix pun melayangkan sebuah asbak hingga mengenai dahi Riki.
__ADS_1
Mengapa bisa demikian, karena memang Riki tidak menghindarinya sama sekali.
Sebenarnya bisa saja dengan mudahnya menghindar, tapi tidak. Jika memang harus dengan tetesan darah terakhir agar mendapatkan restu maka Riki pun tidak keberatan untuk itu.
"Kau tahu seperti apa mencintai. Jadi, aku tidak harus menjelaskannya lagi bukan? Karena, aku tahu kau lebih tahu arti mencintai"
"Pergi dari sini, jangan pernah berharap untuk mendapatkan adikku!"
"Pergi?" Riki ingin tertawa mendengarnya, bahkan dirinya memilih untuk tetap di tempatnya menatap tanpa bergerak sama sekali.
Hingga akhirnya pintu pun terbuka tampak Vanya di sana.
"Kak, ngapain sih sekarang aku kemana-mana diikutin sama bodyguard terus. Capek tahu Kak, mana bodyguardnya mesum lagi!" Kesal Vanya.
Vanya baru saja sampai, tetapi sudah memarahi Felix karena selama dua hari ini terus saja dijaga oleh bodyguard sesuai dengan perintah Felix.
Ke kampus, kemana pun Vanya pergi sungguh tidak nyaman.
"Vanya?" Riki pun terkejut melihat kehadiran Vanya, hingga bangkit dari duduknya.
Begitu juga dengan Vanya yang begitu terkejut saat mendengar suara Riki.
Dengan cepat Felix menarik tangan Vanya, keluar dari ruangannya.
"Pulang!"
"Kak, aku mau ketemu sama Om Riki sebentar aja," pinta Vanya dengan memohon.
"Kak."
Akhirnya Vanya pun harus pergi karena Felix menariknya dengan paksa hingga memasukan ke dalam mobil.
Berikut dengan memerintahkan supir untuk membawa Vanya pulang ke rumah.
Setelah itu Felix pun melihat ke depan pintu masuk, ternyata Riki melihatnya dari sana.
Hingga akhirnya Riki pun berjalan ke arahnya.
"Aku mencintainya Felix, tolong mengerti," Riki memegang pundak Felix seperti biasanya saat mereka masih bersahabat dengan baik.
Tetapi Felix langsung menepisnya, tidak ada pertemanan dan juga persahabatan lagi diantara mereka berdua.
"Sebagai seorang Kakak, aku hanya ingin yang terbaik untuk adikku. Dan, kau bukan orang itu!" Papar Felix.
"Aku berjanji akan menjadi yang terbaik untuknya!" Jawab Riki dengan yakin.
Namun hanya dibalas dengan senyuman miring saja, sebab Felix tidak yakin pada apa yang dikatakan oleh Riki.
"Bukankah kau yang menginginkan aku untuk menikah? Setia pada satu wanita? Apa kau lupa dengan kata itu yang pernah kau ucapkan?" Tanya Riki yang ingin mengingatkan akan kata yang pernah diucapkan oleh Felix padanya.
"Iya benar, tapi tidak untuk menikahi adikku!"
__ADS_1
"Aku mencintainya!"
"Apakah aku percaya?" Felix tersenyum meremehkan Riki.
"Rasanya sulit untuk percaya pada penjahat wanita sepertimu."
"Felix, jika hanya aku yang mencintainya, kau boleh mengatakan ini. Tetapi, tidak. Karena, dia juga mencintaiku!"
Felix pun menatap Riki dengan baik, menatap dengan serius tanpa ada rasa gentar sama sekali.
"Tolong jangan hancurkan masa depannya, dia masih terlalu kecil untuk tahu apa itu cinta. Jangan kau anggap apa yang dikatakan itu adalah kebenaran karena dia masih labil. Satu bulan ke depan juga dia akan melupakan semua ini melupakan mu dan kata yang pernah diucapkan olehnya,"
Kali ini Felix memegang pundak Riki, berharap Riki bisa mengerti dengan perasaannya sebagai seorang Kakak yang ingin melindungi adiknya.
"Tapi, aku sungguh mencintainya Felix!" Riki masih saja dengan keyakinannya, cinta yang tulus tanpa rasa ragu sedikitpun.
"Aku harap kau bisa mencari wanita lain, tapi tidak dengan adikku."
"Felix, aku mohon."
"Pergilah, cari seseorang yang sesuai dengan keinginan mu..."
"Tapi hanya adikmu yang dapat membuatku menjadi manusia yang lebih baik!"
"Tidak, dia hanya anak kecil yang labil dan tidak mengerti apa itu cinta. Pergilah, jangan pernah untuk menemuinya. Lupakan dia, anggap saja kita juga tidak pernah saling mengenal. Semuanya sudah selesai," Tandas Felix.
Felix pun berlalu pergi, tidak perduli pada apa yang dirasakan oleh Riki.
Sebab dirinya sendiri tahu seperti apa Riki bukankah pernah Riki mengatakan bahwa. Wanita hanya sekedar untuk pemuas saja, jika bisa mendapatkan banyak wanita mengapa harus satu.
Itulah kata yang diucapkan Riki yang tak dapat dilupakan oleh seorang Felix.
Sulit dan rumit untuk dipahaminya, mungkin jika Riki adalah duda baik-baik masih bisa dipikirkan olehnya.
Namun tidak, pada kenyataannya Felix tahu seperti apa latar belakang seorang Riki.
Keputusannya terbaik adalah dengan meminta Felix untuk pergi dari hidup adiknya untuk selamanya.
Sementara Riki tidak pernah bisa untuk melakukan itu, hingga kini dirinya mengemudikan mobilnya tanpa arah.
Seiring hujan yang turun dengan derasnya, Riki pun menepikan mobilnya kemudian turun dari mobilnya tersebut.
Biar hujan membasahi tubuhnya, mungkin dengan begitu bisa membuatnya lupa akan Vanya.
Riki hanya duduk diam di sisi jalanan, sementara tubuhnya semakin basah kuyup oleh hujan yang semakin turun dengan derasnya.
Akh!
Riki meremas rambutnya karena tidak bisa untuk menuruti keinginan Felix melupakan Vanya.
Kenapa semuanya harus sesakit ini, kenapa setiap kali jatuh hati pada seorang wanita perjalanan cintanya tidak pernah mulus.
__ADS_1
Riki juga ingin bahagia, kapan kebahagiaan itu dirasakan olehnya.