
"Mana ambulance nya?" tanya Nanda.
"Sedang perjalanan menuju ke sini bos."
"Sudahlah, jumpa-jumpa di jalan saja," Nanda pun mengangkat Reyna, kemudian membawa nya masuk ke dalam mobil.
Manager bernama Roger itu pun menggaruk kepalanya bingung.
"Memang nya bisa begitu" Tanyanya bicara sendiri.
"Memangnya mereka sedang janjian?"
Benar-benar kebingungan dan tidak tahu harus melakukan apa.
"Hey, cepat! Kenapa masih diam saja!" Terdengar suara Nanda dari arah lainya, seketika Roger pun mengangguk.
"Iya Bos!"
"Lama sekali, istri ku mau melahirkan!"
"Mohon maaf Bos, saya tidak bisa menangani orang melahirkan," kata Roger.
Nanda pun mengetuk kepala Roger dan ingin membentur pada mobil.
"Aduh bos sakit!"
"Nanda, cukup!" Kata Reyna berseru dari dalam mobil, membuat Nanda mengurungkan niatnya untuk membentur kepala Roger.
"Maaf Bos," Roger pun menangkup kedua tangan nya dengan ketakutan.
"Kamu mengemudikan mobilnya, siapa juga yang mau menyuruh kamu menangani orang mau melahirkan!"
"Oh," Roger pun bernapas lega, dengan bodohnya sempat berpikir akan menjadi bidan dadakan.
"Ya ampun, ada apa ini," Reyna memijat kepalanya, semua ini benar-benar membuatnya pusing.
Roger pun segera masuk ke dalam mobil, kemudian mengemudikan mobil. Tapi malah Nanda tertinggal, belum juga masuk ke dalam mobil Roger sudah melajukan mobilnya.
"Pak, suami saya belum naik" Kata Reyna.
"Apa?"
__ADS_1
Chittt!
Roger pun mengerem mendadak membuat Reyna terdorong ke depan.
"Aduh, sakit sekali," Reyna pun mengusap kepalanya yang terbentur.
"Maaf Bu."
Nanda pun berlari kemudian masuk ke dalam mobil secepat mungkin.
"Dasar bodoh!" Nanda kesal karena dirinya hampir saja tertinggal.
Reyna sebisa mungkin menahan rasa sakitnya, sebab itu bisa menimbulkan huru-hara yang jauh lebih gila dari sekarang ini.
Sampai di rumah sakit mobil pun berhenti, sebuah brankar pun di dorong mendekati mobil mempermudah pasien untuk bisa naik ke atas brankar. Namun, tiba-tiba malah Nanda yang naik ke atasnya.
"Bos, istrinya!" Kata Roger.
"Oh, iya, salah," Nanda pun bergegas turun, kemudian mengangkat Reyna untuk naik ke atas brankar.
Seketika itu brankar pun di dorong menuju ruangan, belum juga melakukan pemeriksaan terlebih dahulu rasa sakit pada perut Reyna kembali menyerang.
Seorang bayi laki-laki pun lahir, dengan cepat Dokter pun mengurus bayi tersebut.
Bayi itu tidak menangis sama sekali, matanya terbuka dengan lidahnya yang bergerak seperti mencari sesuatu.
"Bayi nya lucu," kata Dokter tersebut yang melihat bayi Reyna.
Reyna takut anaknya kenapa-kenapa karena bayi itu tidak menangis saat dilahirkan.
"Dok, apa anak ku masih hidup?"
"Masih Bu, tapi dia tidak menangis," jelas sang Dokter.
Reyna pun takut, karena bayi pada umumnya akan menangis setelah di lahirkan.
Walaupun sudah di bersihkan bayinya tetap saja tidak menangis, benar-benar membuat Reyna takut.
"Dia belum menangis juga," kata Reyna menatap anaknya.
"Aku ingin menggendongnya," pinta Nanda dan merasa terharu kini telah menjadi seorang Ayah.
__ADS_1
Dokter pun memberikan pada Nanda, namun anehnya bayi itu langsung menangis kencang membuat Nanda terkejut.
"Wah, dia nangis Juga," Reyna pun merasa lega.
"Bagaimana ini Dok?" Tanya Nanda panik.
"Tidak apa," Dokter pun mengambilnya dan memberikan pada Reyna.
Bayi itu pun diam saat sudah di berikan ASI, bahkan sampai terlelap kembali.
Beberapa jam kemudian keluarga dari Jakarta segera menuju Bali. Mereka sangat bahagia mengetahui bahwa Reyna sudah melahirkan di sana. Terutama Arni yang terus mengucapkan syukur atas kelahiran cucunya yang sangat tampan.
Arni sampai menangis haru sambil memeluk cucunya.
"Akhirnya, penerus Opa datang juga," kata Arni.
"Wah cucu Oma," Puput pun melihat cucunya, walaupun ini sudah cucu ketiganya, karena dua cucunya adalah Cahaya dan Alvaro.
"Namanya siapa?" Tanya Pian, dirinya juga sangat bahagia melihat cucunya yang kembali bertambah.
"Sepertinya Cahaya masih menduduki peringkat cucu paling cantik kita Ma," ujar Pian sambil terkekeh.
"Iya Pa," Puput pun mengangguk membenarkan apa yang di katakan oleh suaminya.
"Ma, aku boleh gendong lagi nggak?" Nanda benar-benar tidak ingin melepaskan bayinya, dirinya belum puas untuk menggendong anaknya.
"Tentu," Arni pun memberikan pada Nanda. Tapi malah anehnya bayi itu lagi-lagi menangis saat bersama dengan Nanda.
"Sepertinya anak kita punya dendam sama kamu," kata Reyna merasa lucu, sebab saat Nanda menggendong nya maka bayi itu akan menangis.
"Ck," Nanda pun mengembalikan pada Arni.
Benar saja, seketika bayi itu langsung diam tanpa suara.
"Ahahahha," yang lainnya tertawa lucu melihat yang terjadi.
"Sepertinya benar bayi itu memiliki dendam pada mu," Arni pun membenarkan.
Lucu sekali, Arni baru melihat seorang bayi langsung menangis saat berada di pelukan sang Ayah.
"Ck," Nanda pun mengusap wajahnya mengingat dosa apa yang di lakukannya saat anaknya belum lahir sehingga begitu dendam padanya saat ini.
__ADS_1