
Sore harinya Vanya pun bersiap-siap untuk pulang, tetapi sebelum pulang budayakan untuk berpamitan. Karena kesopanan harus tetap di junjung tinggi, setinggi langit biru meskipun selalu saja berbuat aneh.
"Aku pamit ya, Tante."
Mencium punggung tangan Sela dan tersenyum manis membuat hati wanita itu terasa sejuk.
"Besok jangan lupa untuk kembali."
"Siap, Tante."
Setelah berpamitan pulang, akhirnya Vanya pun melangkahkan kakinya menuju gerbang. Namun, setelah beberapa lama di sana tidak juga ada kendaraan umum yang lewat. Padahal hari mulai gelap, bahkan mendung juga tampaknya akan turun hujan lebat.
Hingga akhirnya mobil Riki pun keluar dari gerbang.
"Om," Vanya pun berdiri cepat di depan mobil tersebut.
Itulah cara untuk mengehentikan laju mobil tersebut, tepatnya menghadang. Hingga Riki pun terkejut dan seketika mengerem dengan mendadak.
"Apa yang dilakukan oleh wanita gila ini!" Umpat Riki yang masih dalam keterkejutannya.
Sesaat kemudian Vanya pun mengetuk kaca mobil. Mengetuk dengan kencang hingga membuat sang pemilik mobil pun kesal bukan main. Riki pun membuka kaca dengan setengah hati dan melihat wanita gila tersebut.
Mungkin Vanya adalah wanita gila di mata Riki, karena sikap aneh lain dari yang lain yang di milikinya.
"Om, aku numpang dong. Soalnya, nggak ada taksi. Kalau kemalaman bahaya, Om naik angkutan umum ada preman, perampok, begal, dll." kata Vanya.
"Dan lainnya."
Apakah ada yang lebih gila dari wanita itu, sepertinya tidak ada. Mendengar penjelasan Vanya membuat Riki hanya bisa menarik napasnya dengan sulit. Belum juga Riki menyetujui tetapi Vanya sudah naik ke dalam mobilnya. Membuat pria itu mendesus kesal tak henti-hentinya.
Tetapi di balas dengan cengengesan. Bocah itu masih saja cengengesan tanpa rasa berdosa sekalipun.
"Om, berbuat baik antar sesama manusia itu perlu. Terutama untuk, Om!"
"Ada apa dengan saya?"
"Hehe, biar Om dapat jodoh. Soalnya Om kan.....hehe," Vanya pun menggantungkan ucapannya karena menyadari apa yang akan di katakannya.
"Soalnya saya kenapa?" Riki masih menunggu dan penasaran apa yang akan di katakan oleh bocah tengil tersebut.
"Om kan, dah tuwir......hihi," lanjut Vanya dengan menunjukkan dua baris gigi rapinya.
Tuwir sama dengan tua, artinya Vanya mengatakannya sudah tua. Tentu saja Riki menjadi marah dan bisa saja kehilangan kesabaran hingga akhirnya mencekik leher Vanya.
"Kamu..." haruskah Riki melenyapkan wanita di hadapannya tersebut atau tetap membiarkan hidup tetapi terus saja membuatnya kesal.
__ADS_1
"Maaf Om, tapi kalau Om tersinggung berarti benar," jelas Vanya dengan santai.
Riki tentunya tak ingin di anggap sebagai apa yang dipikirkan oleh Vanya, jadi memilih untuk meredam amarahnya.
Meskipun begitu sulit.
"Di mana rumah mu?" Lebih baik mengantar bocah itu segera, dari pada berdekatan terus menerus membuatnya hampir gila.
"Di atas tanah Om"
"Kau pilih tangan kanan atau kiri!"
"Becanda Om, serius amat sih. Jalan aja Om, mana tahu nyaman. Hehe, canda Om," lagi-lagi Vanya bergurau, tetapi saat melihat wajah serius Riki mendadak dirinya takut.
"Jalan Om, nanti aku kasih alamatnya," kali ini Vanya serius akan ucapannya.
Riki pun melajukan mobilnya, sesuai dengan arahan yang diberikan oleh Vanya.
Tetapi mereka malah sampai di sebuah restoran.
"Kenapa ke sini?"
"Om, aku lapar. Seharian tidak makan. Jadi, kita makan dulu ya, Om."
Vanya pun memucat, setelah itu kepalanya pun menggeleng.
Tetapi saat itu bertepatan dengan suara perutnya yang berbunyi, lagi-lagi Riki mendadak kasihan.
"Ya sudah, ayo turun!"
Vanya pun tersenyum, kemudian ikut turun setelah Riki.
Akhirnya Vanya pun memesan banyak makanan, bahkan sampai membungkus untuk dibawa pulang.
Meskipun dirinya makan enak tapi tidak lantas membuatnya lupa pada Ninda yang pasti sedang khawatir karena dirinya yang di bawa paksa oleh seorang pria asing di depan matanya.
"Dasar wanita aneh!"
Riki hanya bisa diam melihat Vanya yang membawa banyak paperbag berisi makanan.
"Maaf Om, aku jarang-jarang makan enak begini. Jadi, sekali makan harus ingat yang di rumah ada saudara aku yang pasti cuma makan tempe goreng aja," Vanya pun tersenyum penuh kemenangan.
Berbohong sedikit untuk mengerjai Riki rasanya tak masalah.
Lagi pula dirinya tidak ingin makan enak sendiri, karena bagaimana pun Ninda kini sudah menjadi sahabatnya.
__ADS_1
Sedangkan Ninda yang sedang memakan mie instan malah mendadak terbaruk-batuk.
"Apa ada yang mengingat ku? Kalau iya, aku sedang makan mie instan, aku juga sedang memikirkan Vanya. Entah apa yang aku katakan pada Ibu nanti kalau sampai Vanya belum pulang juga."
Sesaat kemudian terdengar suara mobil, membuat Ninda pun melihat dari jendela. Tampak Vanya yang turun dari sebuah mobil mewah.
Dengan bahagia Ninda pun segera keluar dari rumah, dirinya ingin memastikan bahwa tak ada yang terjadi pada Vanya.
"Vanya!" Ninda langsung menghambur memeluk Vanya, dirinya akan sangat bertanggung jawab jika terjadi sesuatu hal buruk pada Vanya.
Tetapi Ninda bersyukur karena dirinya terselamatkan dari omelan Ina.
"Aku nggak apa-apa, Om nya baik kok. Ini aku bawakan makanan," Vanya pun memberikan paperbag di tangannya pada Ninda.
"Wah, makan enak ni," bibir Ninda tersenyum puas dan rasa khawatirnya sudah terbayarkan dengan makanan tersebut.
"Makanan aja langsung lupa sama aku!"
"Maacih, bestie!"
Sedangkan Vanya kini beralih tersenyum pada Riki.
"Makasih ya Om. Besok aku datang lagi, janji," seru Vanya.
Riki pun tak perduli, karena segera melesatkan mobilnya. Jika sudah malam begini club malam adalah tempatnya untuk mencari hiburan. Mencari ketenangan yang selama ini tidak pernah bisa didapatnya bahkan tidur saja tak pernah lama. Dalam satu malam bisa hanya satu jam saja, tak pernah lebih dari itu.
"Vanya, kamu nggak jual dirikan?" Tanya Ninda. Karena menyadari bahwa Vanya pulang di antar oleh seorang pria dewasa.
"Jangan asal kamu, itu halal!"
Keduanya pun langsung masuk ke dalam rumah, apa lagi Vanya sangatlah lelah hari ini.
"Terus, kamu di apain? Kenapa bisa dia mendadak mengantarkan kamu bahkan membeli makanan begini banyak?"
"Jadi, dia itu Om-om yang malam tadi aku hajar pakai botol dan aku pun satu bulan ke depan harus menemani Mamanya yang sakit kanker, untuk membayar apa yang sudah aku lakukan," jelas Vanya dengan sejelasnya agar Ninda tak lagi berpikir hal buruk tentang dirinya.
"Gitu ya?" Ninda pun terus saja mengunyah makanannya, karena makanan tersebut memang sangat nikmat.
"Iya, aku mandi dulu. Soalnya, besok aku harus kerja keras. Ini rahasia kita Ninda, soalnya aku mau buktiin ke Ayah kalau aku udah dewasa, caranya begini. Aku menyelesaikan masalah ku sendiri!"
"Iya, besok juga jangan lupa bawa makanan beginian lagi. Aku suka!"
"Dasar!"
"Hehe..."
__ADS_1