Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2
Tidak ingin diperiksa!


__ADS_3

Jessica terbangun di tengah malam saat lelapnya mata terpejam, melepaskan diri dari pelukan Alex dengan perlahan.


Kemudian berjalan menuju dapur dengan terseok-seok, dinding menjadi pegangan menuntun diri menuju dapur.


Peluh kian membanjiri, seiringan rasa sakit yang kian semakin menjadi-jadi.


Akhirnya setelah berusaha susah payahnya Jessica pun berhasil sampai di dapur, meneguk mineral dengan sebanyak mungkin.


Berharap bisa meredamkan rasa sakit yang belum juga bisa berhenti.


"Sssstttt," Jessica pun mendudukkan dirinya di lantai, rasanya begitu menyakitkan hingga air matanya menetes begitu saja.


Menangis dengan menahan suaranya agar tak ada yang mendengar.


Memegangi perutnya terus menerus melawan rasa sakit meskipun terasa sulit.


Sampai dua puluh menit berlalu, rasa sakitnya terasa berkurang.


Jessica yang kehabisan tenaga pun hanya diam duduk di lantai tanpa berpidah, keringat masih begitu membanjiri.


Kembali meneguk mineral agar mengembalikan tenaga yang banyak terbuang. Hingga Jessica pun mendengar suara langkah kaki, sesaat kemudian lampu pun dinyalakan dan menampakkan wajahnya.


"Kamu sedang apa?" Puput terkejut melihat menantunya duduk di lantai dalam kegelapan. Bahkan di tengah malam yang begitu dingin ini, diluar sana hujan deras dengan kilat yang saling menyambar. Petir yang menggelegar.


"Kenapa duduk di lantai, gelap-gelapan lagi?" Puput pun ikut berjongkok agar mengimbangi Jessica.


Jessica tidak tahu harus mengatakan apa, dirinya tidak pandai dalam bersandiwara.


Tetapi, tidak juga untuk mengatakan yang sebenarnya.


"Kamu kenapa? Kamu terpeleset atau bagaimana?" Puput masih saja penasaran, diamnya Jessica benar-benar mengundang tanya.


"Nggak Ma, aku haus. Abis itu rasanya capek banget, dari pada jatuh mending duduk dulu sampai ada tenaga," dalam hati Jessica memohon maaf, bukan bermaksud untuk membohongi Puput. Hanya saja keputusan sudah bulat, Jessica tidak mau Puput mengatakan pada Alex. Pasti Alex akan meminta janin itu untuk diangkat.


Ibu mana yang mau melakukan itu?


Jessica tidak mau, dirinya tidak tega melenyapkan anaknya sendiri.

__ADS_1


"Kalau begitu biar Mama bantu," Puput pun membatu Jessica untuk berdiri, kemudian memapah menuju kamar.


"Aku bisa kok Ma," Jessica tidak enak hati pada mertuanya yang membantunya menuju kamar.


"Sudah, jangan banyak bicara. Kalau kamu tidak sanggup jalan, maka duduk dulu di sini," Puput pun meminta Jessica untuk duduk di sofa.


"Kamu duduk diam, Mama panggil Alex untuk mengangkat mu ke kamar. Kamu tidak bisa naik tangga."


"Ma, nggak usah. Aku nggak apa-apa."


"Kamu diam, nurut sama Mama." Puput pun segera menuju kamar putranya dan membangunkan Alex yang masih saja terlelap. Mengatakan bahwa Jessica berada di lantai satu.


"Jessica, tidak kuat berjalan! Cepat! Istri butuh bantuan, malah ngorok aja!" Omel Puput kesal pada putranya.


"Sekarang Jessica dimana Ma?" Alex panik mendengar hal tersebut, seketika itu juga meloncat dari ranjang.


"Di bawah. Cepat, sana!"


Dengan cepat Alex pun menuruni anak tangga, kemudian melihat Jessica duduk di sofa.


"Kamu kenapa? Ada yang sakit?" Alex melihat wajah pucat Jessica, mengusap peluh yang tersisa pada wajah istrinya tersebut."


"Tadi air minum di kamar habis, aku turun ke dapur ngambil minum."


"Lain kali jangan begini, minta bantuan pada ku," ujar Alex.


"Hey, hey! Kenapa membentak! Kamu itu salah, jadi suami itu harus siaga. Jangan sampai kamu menelantarkan istri mu lagi" geram Puput.


Puput sangat takut jika ternyata Alex kembali menyakiti Jessica, entah apa yang akan terjadi jika itu benar adanya.


"Ma, aku nggak begitu," Alex berusaha meyakinkan Puput, bahwa tidak akan mengulanginya kembali.


"CK! Buktinya istri mu tadi di dapur, dia duduk di lantai, gelap-gelapan. Entah berapa lama di sana, kalau Mama tidak ke dapur sampai sekarang dia masih di sana kedinginan, masuk angin, paham!" Kesal Puput tidak bisa hilang, dirinya merasa Jessica sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja.


Wajah Jessica yang sangat pucat. menimbulkan tanda tanya besar.


"Kamu duduk di lantai?" Tanya Alex.

__ADS_1


"Aku nggak apa-apa," Jessica memijat kepalanya, merasa sedikit pusing. Tetapi, juga sudah merasa mengantuk.


"Kita ke kamar ya," Alex pun mengangkat Jessica menuju kamar.


Sedangkan Jessica tidak menolak sama sekali, dirinya sudah sangat lelah. Sehingga untuk berbicara saja tidak cukup tenaga rasanya.


Perlahan Alex membaringkan di atas ranjang, dan mengambil stetoskop ingin memeriksa keadaan Jessica lebih lanjut.


Tapi Jessica menolak, dirinya benar-benar tidak ingin diperiksa oleh Alex.


"Kenapa?" Tanya Alex bingung.


"Muka mu itu tidak baik-baik saja."


"Aku nggak mau!" Mata Jessica pun berkaca-kaca merasa ketakutan.


Alex pun mengurungkan niatnya untuk memeriksa Jessica, tidak ingin Jessica merasa tertekan dan nantinya tidak nyaman dengan nya.


"Baiklah, tapi kalau membutuhkan sesuatu tolong beritahu aku."


"Aku cuma mau di peluk kamu," jawab Jessica.


Alex pun menyetujui, kemudian memberikan tangannya sebagai bantal istrinya tersebut.


Tangan Alex mencoba untuk meraba perut Jessica, tapi Jessica memilih memindahkan tangan Alex untuk memeluknya.


"Aku ngantuk, aku gampang ke bangun juga. Jangan banyak gerak," pinta Jessica.


Alex pun menarik napas panjang, menuruti apapun keinginan Jessica demi kenyamanan. Tidak lama berselang Jessica pun terlelap dalam pelukan Alex.


Alex kembali mencoba untuk memegang perut Jessica, sedikit memeriksanya.


Tetapi, mata Jessica malah terbuka.


"Apa sakit?" Tanya Alex seketika.


"Aku ngantuk."

__ADS_1


Jessica pun menepis tangan Alex dan kembali terlelap.


Akhirnya Alex pun ikut terlelap, karena Jessica benar-benar tidak ingin diperiksa sama sekali.


__ADS_2