Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2
Mas, ngatain aku!


__ADS_3

"Mas, kenapa?" Rima pun melihat suaminya berdiri di depan kamar, tapi tidak sendirian. Ada Devan juga hingga menimbulkan pertanyaan besar.


"Besok-besok lakukan lagi agar kalian dapat hukuman lagi!" Arini pun melenggang pergi memasuki kamar cucunya. Seketika Devan dan Aditya merasa terbebas hingga segera berdiri dengan normal. Keduanya saling tatap penuh permusuhan tidak ada kata damai dalam hal tersebut.


"Mas, kok belum kembali ke kamar?" Nayla bertanya dari arah lainnya sebab awalnya Devan berpamitan ke luar sebentar. Tetapi tidak kembali juga sampai saat ini sehingga menyusul untuk melihat Devan apa lagi dirinya mendengar suara Arini hingga semakin membuat nya penasaran.


"Ya sayang ada gangguan sedikit!" Devan pun menatap Aditya dengan kesal.


"Pergi"


"Memang aku juga mau pergi lihat istri ku sudah tidak sabar menantikan aku karena kami mau tempur!" Kata Devan lagi.


"Mas..."


"Ayo sayang Mas juga udah nggak tahan," kata Devan terus memanas-manasi Aditya.


"Dasar gila!"


Devan pun pergi bersama dengan Nayla sampai di dalam kamar melepaskan istrinya.


"Mas bohong ya?" Tanya Nayla secara langsung.


"Hehe," Devan terkekeh kecil sambil menggaruk kepalanya.


Nayla pun kesal pada Devan yang malah memanas-manasi Aditya barusan.


"Udah ah tidur yuk," Nayla pun bergegas naik ke atas ranjang dan merebahkan tubuhnya.


Devan hanya diam sambil melihat Nayla dari kejauhan, kemudian mengambil sebuah bolpoin lalu berjalan ke arah kalender.


"6 hari lagi," kata Devan dengan murung tangannya kembali melingkari dua angka.


Hingga nanti sampai pada lingkaran yang sudah berwarna hijau artinya saat warnanya sampai maka berbuka pun sudah di perbolehkan. Jika tadi Devan menertawakan Aditya, maka kini Nayla yang menertawakan Devan.


"Tadi sok ngetawain Aditya, taunya Mas juga sama saja," kata Nayla sambil terus tertawa terbahak-bahak melihat wajah masam Devan.


"Lihat saja nanti kamu akan Mas buat tidak bisa jalan!" Kesal Devan.


Nayla semakin tertawa mendengar ancaman suaminya barusan.


"Kalau Aditya mendengar apa yang Mas bilang, Mas nggak akan punya muka lagi," Nayla terus tertawa melihat wajah kesal suaminya.

__ADS_1


"Diam! Mas mau tidur!" Devan pun merebahkan dirinya di sofa, sebab tidak ingin lepas kendali jika nantinya tidur satu ranjang dengan Nayla.


"Kok di sofa tidurnya?" Nayla masih bertanya padahal sudah jelas tahu alasan nya, itu hanya untuk mengejek suaminya yang barusan mengejek Aditya. Devan memilih menutup matanya daripada harus membahas perihal tempat tidur.


Suami mana pun pasti merasakan seperti apa rasanya berpuasa selama puluhan hari, Devan bisa menahan jika satu mingguan tapi untuk yang terlalu lama bisa membuat emosi tidak stabil di buatnya.


Akhirnya Devan dan Nayla pun terlelap, sampai pagi harinya terbangun dengan tubuh yang jauh lebih segar.


Devan masuk ke dalam kamar mandi, beberapa saat kemudian keluar dengan tubuh lebih segar setelah mandi.


"Sayang kemeja Mas di mana?" Devan tidak melihat bajunya, seperti biasanya jika selesai mandi maka akan ada pakaian nya di atas ranjang yang siap untuk digunakan.


"Maaf Mas, Vanya rewel banget. Aku belum siapin, Mas ambil sendiri di lemari ya," kata Nayla dari arah sofa, Nayla tampak tengah sibuk memberikan ASI pada putri bungsu nya.


Devan pun menarik napas dengan berat, saingan terberat adalah anaknya sendiri. Padahal biasanya akan ada kopi, sarapan dan semua hal yang dibutuhkan, ada istri tercinta nya yang menyiapkan tanpa terkecuali. Sesaat kemudian Devan pun keluar dari kamar, hingga tanpa sengaja berpapasan dengan Aditya.


Seketika jiwa jahilnya kembali meronta-ronta, melihat Aditya menderita tentunya bisa membuatnya sedikit terhibur.


Devan tersenyum samar kemudian berdiri tepat di depan Aditya hingga harus berhenti dengan mendadak.


Namun saat akan mencari jalan lainnya Devan pun dengan cepat berpindah dan begitu seterusnya sampai Aditya kesal sebab jalannya terhalang oleh Devan.


Devan pun menaik turunkan kedua alis matanya, tersenyum penuh kemenangan.


Aditya pun merasa tidak tertarik pada pembahasan Devan. Menurutnya Devan sedang berbahagia di atas dirinya yang sedang menderita. Devan pun melihat sekelilingnya, hanya mereka berdua saja, artinya tidak akan ada yang mendengar yang diucapkan.


"Semalam itu sangat panas, jadi pagi ini aku mandi. Tentu dan kau tahu rasanya seperti apa saat semalaman lembur?" Tanya Devan sambil tersenyum meremehkan Aditya.


"Dasar gila!" Geram Aditya.


Devan pun mengeluarkan sisir kecil dari saku celananya, kemudian menyisir rambutnya.


"Rasanya luar biasa, kau sensitif sekali tapi aku mengerti, kalau kau butuh di manja si istri, tenang tidak akan lama lagi." Devan menepuk pundak Aditya.


Aditya pun menepis tangan Devan, kesal pada saudaranya yang kini terus mengejek dirinya.


"Kalau kau butuh Dokter jiwa, temui aku di rumah sakit!" Aditya pun segera pergi, tidak lupa menyenggol lengan Devan terlebih dahulu.


Devan menahan tawa melihat ekspresi wajah Aditya, bukan karena kesal melainkan merasa lucu. Sebab dirinya juga masih berpuasa, dan sungguh puasanya sudah lama hingga membuat otaknya tergeser


"Ahahahha," Devan tertawa kencang seketika itu juga.

__ADS_1


Nayla yang baru saja keluar dari kamar tanpa sengaja melihat Devan tertawa sendiri, dirinya merasa bingung melihat Devan yang seperti orang kesurupan.


"Mas, kenapa?" Nayla pun bertanya langsung, berharap Devan tidak gila sungguhan. Tapi Devan hanya mencolek dagu Nayla, kemudian mencium kening istrinya itu lalu pergi begitu saja.


"Apa yang terjadi? Mas!" Nayla benar-benar takut melihat suaminya yang mendadak aneh.


"Apa semenjak berpuasa panjang Mas Devan jadi gila?" Nayla berbicara sendiri sebab Devan yang mendadak aneh.


"Nayla!" Panggil Devan dari kejauhan. Nayla pun terkejut dan bingung, bukankah tadi suaminya itu sudah pergi? Lalu kenapa tiba-tiba muncul kembali?


"Sayang kau kenapa?" Tanya Devan lagi sebab Nayla tampak terkejut melihatnya.


"Lari!" Nayla pun merasa takut dan memilih berlari ke arah lainnya asalkan tidak bertemu dengan Devan. Sampai di ruang keluarga Nayla pun bertemu dengan Ana.


"Nayla, ada apa?" Ana memegang lengan Nayla, hingga tidak bisa pergi. Sesaat kemudian ada Devan yang juga muncul.


"Kalian kenapa?" Tanya Ana. Nayla pun memeluk Ana, kemudian bersembunyi di balik tubuh Ibu mertua nya itu melindungi diri dari Devan.


"Ma, Mas Devan kesurupan!" Kata Nayla.


"Kesurupan?" Tanya Ana penasaran.


Devan pun mengerti, sebab barusan Nayla melihatnya tertawa terbahak-bahak sendirian. Seketika tawanya kembali pecah sebelum menjelaskan.


"Ahahahha"


"Nah kan Ma," kata Nayla.


Ana pun mengambil teh yang ada di meja kemudian Devan pada Devan segera, hingga tawa Adam pun terhenti seketika.


"Ma?!" Devan kesal dan menunjukkan pakaian nya yang basah.


"Mampus!" Kata Aditya yang kini berbalik menertawakan Devan.


"Kurang ajar!" Gerutu Devan.


"Mas, ngatain aku!" Nayla kesal karena saat mengatakan itu Devan melihat dirinya.


"Sayang, nggak gitu!"


Nayla mengambil kemoceng dari tangan Art, kemudian mengejar Devan.

__ADS_1


"Sayang ampun" Seru Devan sambil terus berlari berusaha menghindari amukan Nayla.


"Ahahahaha" Ana dan Aditya pun tertawa melihatnya.


__ADS_2