
Kali ini Vanya tidak marah saat Riki mengetuk kepalanya melainkan tersenyum dan merasa malu.
"Aku salah ya, Om?"
Riki hanya bisa diam saat Vanya bertanya demikian, jika pun salah mungkin di mata seorang Riki, Vanya adalah wanita yang paling benar.
Bahkan tidak boleh ada yang menyalahkan wanitanya tersebut di luar sana.
Jika pun ada yang menyalahkan wanitanya itu tidak lain hanya dirinya sendiri saja yang berhak, namun tidak.
Vanya terlalu bersinar di matanya, melekat di hatinya dan begitu hangat di dekapnya.
"Enggak sayang," Riki pun tersenyum, tetapi sesaat kemudian merasa ada yang aneh.
"Ini aroma apa?"
"Hihihi, Om! Aku malu"
"Hehe, dasar konyol!" Riki juga hanya tertawa melihat kekonyolan Vanya.
"Wangi nasi goreng ini Om, enak kok," kata Vanya di selingi tawa yang menggelegar.
"Dasar bocah tengil!" Riki pun lagi-lagi mengetuk kepala Vanya, kelakuan wanita itu selalu saja aneh tanpa ada yang bisa menandinginya.
Tapi bukankah mencintai itu adalah saat kita mampu menerima segala kekurangan dari seseorang yang sudah kita pilih?
Itulah yang sedang di lakukan oleh Riki, mencintai dengan apa adanya. Menerima dengan segala kekurangan dan membina sebuah kebahagiaan dalam menjalani kehidupan ini bersama-sama.
Sehingga tidak ada kata untuk saling melepas hanya karena sebuah alasan konyol, mungkin yang cantik itu biasa. Tetapi, yang nyaman dan mampu membuat jantung berdegup kencang itu sulit untuk menemukannya.
Karena yang tepat hanya ada satu di antara ribuan manusia yang ada dan yang paling penting adalah bagaimana kita menjaga cinta itu sampai detik-detik napas penghabisan nantinya.
"Aku mengantuk, temani aku tidur." Vanya pun mengangguk saja kemudian menemani Riki untuk tidur.
Hanya menemani saja tidak lebih. Riki tidak berbohong sama sekali bahkan Vanya juga ikut terlelap dalam tidur mungkin karena terlalu lelah seharian ini.
Hingga Vanya pun terbangun saat malam harinya.
Namun, saat itu Vanya tidak melihat adanya Riki hingga membuatnya bertanya-tanya.
Segera Vanya pun bangkit dan keluar dari kamar, ternyata Riki berada di dapur membuatkan nasi goreng untuk makan malam.
"Om di sini?" Tanya Vanya.
"Kamu sudah bangun?"
"Kebiasaan deh, di tanya malah tanya balik!"
"Hehe," Riki pun terkekeh kecil melihat wajah Vanya yang kusut.
__ADS_1
"Maaf, sayang. Ini aku membuatkan nasi goreng untuk kita makan malam."
Vanya pun melihatnya dan tersenyum manis merasa berbunga-bunga.
Ya ampun, inikah jatuh cinta? Manis sekali di perlakukan seperti seorang ratu, Vanya bahkan seketika melayang di udara.
"Hihi, love-love Kakanda," Vanya tersenyum penuh kebahagiaan.
Tidak tahu cara meluapkan rasa bahagia seperti apa, yang jelas sangat bahagia tanpa terkecuali.
Sementara Riki tidak kuasa menahan tawa karena kelakuan konyol Vanya.
Dan, panggilan Vanya barusan.
Kakanda?
Sungguh sangat lucu, baiklah. Jika bocah seperti Vanya bisa membuatnya bahagia mengapa harus mencari wanita yang lainnya.
Lupakan soal keinginan Riki yang selama ini menyukai wanita dewasa yang mengerti dengan dirinya, karena ada yang lebih menarik.
Bocah polos yang tidak mengerti dengan dirinya, bahkan dirinya yang harus mengerti akan bocah itu.
Tidak masalah, selagi kenyamanan terus saja membuatnya menjadi lebih baik. Mengubur luka lama dan membuka lembaran baru dengan penuh kebahagiaan.
Riki pun mengangkat Vanya untuk duduk di atas meja, mencium bibir Vanya dengan penuh kehangatan yang tampaknya sudah mulai menjadi candunya. Jika biasanya Riki sangat tidak suka melakukan itu, maka kini berbeda.
"Buka mulutnya."
Vanya pun menerima suapan hingga akhirnya keduanya pun makan bersama dalam piring yang sama pula. Begitu juga dengan minum dalam gelas yang sama sampai akhirnya terdengar suara petir. Vanya pun dengan cepat meloncat, beruntung Riki bisa menangkapnya.
Hingga Riki seperti menggendong anak kecil, sementara Vanya terus berlindung sambil memeluk leher Riki.
"Mas, aku takut," kata Vanya.
Mas? Memang ada-ada saja wanita ini, Mas, Om, Kakanda?
Entahlah, semua sangat tidak penting. Karena yang terpenting adalah memiliki Vanya dengan seutuhnya.
"Nggak apa-apa ada Mas," Riki terus saja memeluk Vanya dengan eratnya, benar-benar ingin membuat Vanya lebih tenang. Kemudian meminta Riki untuk menurunkannya, dengan perlahan Riki pun menurunkan Vanya. Sesaat kemudian semuanya semakin membaik Vanya pun merasa lebih tenang.
"Udah kenyang, aku mau mandi dulu ya Om. Kebetulan juga aku juga tadi belanja baju."
Vanya langsung menuju kamar Riki kemudian memandikan tubuhnya dan terasa lebih segar.
Namun sesaat kemudian Riki mendengar suara dari dalam kamar, siapa lagi kalau bukan Vanya.
"Om!"
Riki pun segera menuju kamar namun matanya melihat Vanya hanya dengan balutan handuk miliknya.
__ADS_1
Mata Riki tidak dapat berkedip sama sekali, dada Vanya yang tidak terlalu besar tapi tidak juga terlalu kecil malah membuatnya semakin pusing. Belum lagi kaki mulusnya yang terpampang nyata, ini benar-benar ujian yang begitu nyata.
"Om! Mana belanjaan aku kok nggak ada?"
Vanya si kecil polos itu tidak mengetahui apa yang sedang terjadi pada seorang duda yang berdiri di hadapannya.
Apakah tidak tahu ini sangat menyiksa seseorang yang menyandang status sebagai duda itu?
"Om?" Pekik Vanya sebab Riki hanya diam saja.
"Kenapa kau hanya dengan balutan handuk?"
"Kenapa? Lagian aku juga lagi nyari belanjaan aku, Om!"
"Ada di mobil."
"Ya udah, ambilin!"
Riki masih diam di tempatnya hingga akhirnya Vanya yang berjalan ke arahnya.
"Om!"
"Iya, tapi kenapa kau berani sekali seperti ini di hadapan ku?"
"Kenapa? Om, juga nggak selera sama aku, gitu kan Om bilang?" Vanya memang paling benar, tidak perduli sama sekali pada keadaan.
Kemudian segera berjalan ke arah cermin melihat wajahnya di sana.
"Ya ampun, muka aku kok kasar banget ya."
Riki masih saja diam di tempatnya menatap Vanya yang kurang ajarnya sedang membuatnya panas dingin.
"Om, buruan! aku mau pulang!"
Riki pun segera mengambil barang-barang milik Vanya hingga akhirnya kembali ke kamar.
"Om, dalamnya bagus yang pink atau yang merah atau yang hitam?" Tanya Vanya dengan polosnya.
'Ya ampun' Riki pun membatin sambil mengusap dahinya yang kian mengeluarkan keringat dingin.
Pertanyaan Vanya benar-benar membuatnya menegang di tambah lagi wanita itu masih menggunakan handuk di tubuhnya.
Riki pun tidak ingin semakin menyiksa diri sehingga lebih memilih pergi tanpa menjawab pertanyaan Vanya.
"Om!" Seru Vanya saat melihat punggung Riki yang kian menjauh.
"Dasar duda lapuk!" Umpat Vanya penuh kekesalan.
Kemudian memilih salah satunya dan memakainya, lanjut dengan pakaian baru yang di belinya beberapa saat yang lalu.
__ADS_1