Cinta Seorang Single Daddy

Cinta Seorang Single Daddy
Episode 107


__ADS_3

Reyhan memandangi istrinya yang tertidur dengan pulasnya. Dokter berhasil menyelamatkannya. Ternyata Laras sempat mengalami serangan jantung dan kehabisan banyak darah. Namun akhirnya Laras bisa selamat. Dokter terus berusah untuk keselamatan Laras.


Tapi Laras kini dinyatakan Koma. "Ya Tuhan kembalikanlah istriku. Jangan ambil dia."


"Bangunlah sayang. Cepatlah bangun. Apa kau tidak merindukan mas dan anak - anak kita sayang." Bisik Reyhan ditangan Laras. Tangan itu begitu kecil dan lemah. Tangan yang selama ini menggenggamnya. Tangan yang selama ini menyentuhnya dengan lembut.


Reyhan bangun dari duduknya. Meskipun dengan enggan. "Mas akan segera kembali. Cepatlah bangun sayang." Reyhan mencium kening istrinya. Ia pamit kepada mama dan tante Mia sebelum meninggalkan rumah sakit.


Reyhan menaiki mobilnya dan menuju alamat yang telah diberikan kepadanya tadi. Mobil melaju dengan cepat. Sampai sekitar tiga puluh menit kemudian Reyhan sudah berada di depan sebuah bangunan yang berlogokan kepolisian.


David dan Miko sudah berada disana menunggunya. "Bagaimana?" tanya Reyhan.


Miko menggeleng. "Ada yang salah, Rey." Reyhan memandang asisten sekaligus sahabatnya itu dengan bingung. "Kau bisa menyimpulkannya jika melihatnya secara langsung." Reyhan semakin mengkerutkan dahinya.


Namun ia ikut saja ketika Miko membawanya kesebuah ruangan berukuran dua kali dua meter berpintu besi itu.

__ADS_1


Seorang wanita yang tengah duduk memeluk lutut di sudut ruangan kecil itu. Matanya terlihat tak fokus dan bibirnya berguman tak jelas. Tubuhnya bergoyang maju mundur dan sesekali menggigit kuku ibu jarinya.


"Apa yang terjadi padanya?" Reyhan memandang Miko bingung.


"Iya tidak pernah mau berbicara pada siapa pun. Dia hanya memanggil namamu. Aku rasa disudah mulai tidak waras Rey." Miko berujar, membuat Reyhan memandangi Miko.


"Kau yakin dia tidak waras? atau sebenarnya dia hanya berpura - pura tidak waras?" Jawab Reyhan sinis.


"Aku tahu kau sangat membecinya saat ini Rey. Tapi kali ini aku yakin dia tidak sedang berpura - pura. Cobalah dekati dia dan tanya dia dengan cara baik - baik." Reyhan masih memandang Miko dengan rasa tak percaya. Tapi setidaknya ia akan mencobanya.


Reyhan mencengkram pintu sel dengan kuat. "Chintya?" Reyhan memanggilnya. Wanita itu masih menggelengkan kepala. "Chintya lihat aku".


"Chintya ini aku. Maukah kau bicara kepadaku?" Reyhan begitu terkejut ketika wanita itu bergerak begitu cepat kearahnya. Kedua tangannya meraih tangan Reyhan yang mencengkram jeruji. Matanya memandang Reyhan dengan tatapan memuja. Reyhan bisa melihat ada begitu banyak yang berbeda dari wanita itu. Tatapan matanya, wajahnya, segalanya tampak berbeda.


"Rey, kau kah itu. Kau benar - benar datang kepadaku?" Tanya wanita itu seraya menggenggam kuat tangan Reyhan. "Aku yakin kau pasti akan datang kepadaku kan? Kau tahu Rey, aku telah melenyapkan penghalang itu" Katanya.

__ADS_1


Reyhan yang mendengar kata penghalang merasa geram. Yang dimaksudnya adalah Laras istrinya.


"Rey. Aku mencintaimu, aku telah melenyapkannya Rey. Dia telah merebutmu dari ku" Ucap wanita itu antusias.


Reyhan hanya terdiam. Dia pikir memang sudah tak waras wanita yang ada di hadapannya ini. Benar apa yang dikatakan Miko tadi. Reyhan pun berjalan mundur meninggalkan wanita itu.


Sementara wanita itu terus memanggil namanya. Tangannya terulur dari balik jeruji, berusaha menggapai Reyhan. Namun Reyhan mengabaikannya. Belas kasihan dalam hatinya untuk wanita itu telah hilang.


"Beri tahu kepada orang tuanya. Anaknya perempuannya tidak waras." ucap Reyhan kepada Miko.


Miko pun menghubungi pak Samsul orang tua Chintya. Tak berapa lama pak Samsul pun datang. Betapa terkejutnya dia melihat anak perempuannya berada di dalam jeruji. Dengan keadaan yang mengenaskan. Rambut yang acak - acakan. Tertawa, menangis. Yang ditakutinya selama ini benar adanya. Anaknya kembali seperti dulu. Pikirannya sudah tak waras.


"Sayang ini papa nak? Ini papa sayang." ucap pak Samsul lirih. Sedih rasa melihat Chintya seperti itu. Karena terlalu terobsesi kepada Reyhan. Hidupnya jadi seperti ini.


"Tuan Rey, tolong bebaskan anak saya. Jangan masukkan dia di penjara. Saya akan membawanya pergi jauh dari Negara ini. Saya akan mengobatinya. Chintya ... pernah seperti ini juga. Pikirannya tak waras. Saya mohon Tuan Rey." Pak Smasul benar - benar memohon.

__ADS_1


πŸ’˜πŸ’˜πŸ’˜Selamat Siang semuanya ....Selamat membaca. Dan sudi kiranya berikan vote, like, komen dan hadiah kalian ke cerita saya iniπŸ’˜πŸ’˜πŸ’˜


Terimakasih.


__ADS_2