Cinta Seorang Single Daddy

Cinta Seorang Single Daddy
S3. Part 26


__ADS_3

Ivan sebenarnya merasa bersalah. Kata maaf terus ia gumamkan. Setelah membersihkan dirinya dengan mandi. Ivan memakai pakaian lengkapnya lagi. Dan, tanpa rasa bersalahnya ia pergi begitu saja meninggalkan Rachel yang masih tidur di ranjangnya dengan keadaan polos.


Kini Ivan sudah berada di dalam mobilnya. Salah satu rencana nya telah berhasil. Langkah selanjutnya, inilah puncaknya. Menarik nafasnya dan membuangnya perlahan. Entah kenapa ada rasa sesak dan sakit di dadanya. Perasaan yang sulit diartikan. Tanpa ia sadari, air matanya menetes. Mengatur lagi nafasnya, Ivan pun pergi dari tempat itu.


*****


Rachel terbangun dari tidurnya, menoleh kesebelahnya, tak ada siapa siapa. Kekasihnya Ivan sudah pergi. Ia mengingat kejadian panasnya, ada rasa takut dan bahagia. Namun, rasa takut itu ia tepis, ia yakin kalau kekasihnya itu akan bertanggung jawab kalau terjadi sesuatu dengan nya.


Bagian intim Rachel begitu perih, mengingat betapa ganasnya sang kekasih. Entah berapa kali keduanya melakukan hubungan itu.


Rachel telah selesai memberaihkan dirinya dan juga telah memakai pakaiannya. Duduk di pinggir ranjangnya sambil memegang ponselnya, mencoba menghubungi sang kekasih. Wanita itu mencoba menelponnya, namun tak kunjung dijawab. Sampai berkali - kali, hingga akhirnya, nomor sang kekasih tidak aktif lagi. Ada rasa khawatir yang dirasakan Rachel, kemana sang kekasih nya.


Rachel menepis pikiran negatif nya tentang kekasihnya. Mungkin saja, Ivan lagi sibuk tak bisa di ganggu.


Hari sudah larut, jam dinding menunjukan pukul dua belas malam. Masih belum ada kabar dari Ivan. Ponsel Ivan masih belum aktif. Mungkin besok saja ia akan menemui sang kekasih.

__ADS_1


****


Sementara itu, Ivan hanya memandangi ponselnya saja yang sedari tadi berbunyi. Ia kini berada di apartemen Sisil. Setelah kepulangannya dari apartemen Rachel, ia langsung ke apartemen Sisil. Menghabiskan waktu bersama wanita itu.


Ivan dan Sisil masih bergelung di balik selimut yang menutupi tubuh polos keduanya. Ivan yang sudah terbangun dan menyandarkan tubuhnya ke sandaran ranjangnya. Ponselnya sedari tadi berdering terus. Ingin menjawabnya, namun karena mengingat balas dendamnya, ia tak mau menjawabnya.


Ivan memejamkan matanya. Ia mengingat sesuatu, yang harus melakukan aksinya itu.


Flasback On


"*Kau harus melakukannya kak, kau harus bisa. Aku benci dia, aku benci keluarganya. Ia harus merasakan sakit yang dialami mama kak. Karena perbuatan Mamanya, mama kita tak ada semangat hidup lagi. Sampai...mama menghembuskan nafasnya yang terakhir, mama masih sedih kak. Kau harus membalasnya kak!!" pinta sang adik, tak lain adalah Rindi.


"Tidak!! Dia juga salah, dia anak dari wanita ****** itu!! teriak Rindi.


"Rindi, sudah. Ikhlaskan saja semuanya, biar Tuhan yang membalasnya." ucap Ivan memberi pengertian kepada adiknya.

__ADS_1


"Apa kakak, tidak sayang sama mama?! Apa kakak tidak sayang sama aku?! Aku ini adik kamu kak!!" teriak Rindi lagi.


"Cukup! Aku gak bisa nyakitin Rachel." ucapnya tegas. Ivan pun pergi meninggalkan Rindi sendiri di kamarnya.


Rindi begitu kesal dan marah kepada kakaknya itu. Kenapa harus membelas Rachel, kenapa tak mau mendengarkannya. Rindi harus melakukan sesuatu, agar Ivan mau membalas dendam ke Rachel.


Rindi tersenyum tipis, terbesit ide di otaknya. Pasti kakaknya akan mau menuruti kemauannya itu.


Menjelang malam, Ivan baru saja pulang dari kantornya. Ia melihat keadaan rumah yang sangat sepi. Tidak ada penghuni, lampu seluruhnya mati. Ivan menghidupkan salah satu lampu diruangan. Dan ia menaiki anak tangga menuju lantai atas. Ivan melihat pintu kamar sang adik terbuka sedikit. Pria itu mendekati pintu dan membukanya lebar, betapa terkejutnya dia, melihat keadaan kamar yang sudah berantakan seperti kapal pecah. Ivan, tak melihat keberadaan sang adik, ia sungguh khawatir, ia mendengar suara gemercik air. Ivan bernafas lega, adiknya di dalam kamar mandi. Ivan mencoba membersihkan kamar sang adik, sambil menunggu Rindi keluar kamar mandi. Hampir selesai Ivan membereskan kamar sang adik. Sudah satu jam, Rindi tak keluar dari kamar mandi. Ivan semakin khawatir saja, ia mencoba manggil Rindi.


Tok...tok....tok....


"Dek...kenapa lama di dalam? Kamu gak apa apa kan?!" tanya Ivan panik. Tak kunjung ada jawaban. Ivan semakin panik. Ia mencoba membuka pintu kamar mandi.


Ceklek*....

__ADS_1


Bersambung.....


Bantu Vote ya....


__ADS_2