
Ivan melajukan mobilnya dengan sedang, dikarenakan hujan masih turun, namun tak begitu deras. Ivan menuju halte yang di katakan Rachel. Mencari kesana kemari di halte itu, Ivan tak menemukan Rachel nya.
Ivan sungguh sangat khawatir dengan keadaan Rachel. Ia melihat ada mobil Rachel tertonggok di depan Halte.
Pria itu mencoba menelpon ponsel Rachel, namun tak kunjung di angkat. Ivan begitu khawatir, tak ingin menunggu lama. Ivan langsung menuju Mansion orang tua nya Rachel.
Sampai di Mansion, Ivan langsung turun dari mobilnya dan menuju pintu utama Mansion.
Kerena pintu masih terbuka, Ivan langsung saja masuk.
"Rachel, sayang....?!" teriak Ivan.
"Rachel....?!"
Bibi Pelayan berlari tergopoh - gopoh. Ia mendengar suara teriakan dari arah ruang tamu.
"Tuan Ivan? Kenapa Teriak - teriak?" tanya Bibi ngos - ngosan.
"Bibi? Rachel mana?" tanya Ivan panik.
"Huh...Nona Rachel di kamarnya Tuan." jawab Bibi.
Tanpa menjawab lagi, Ivan langsung naik ketangga menuju lantai dua, dimana kamar Rachel berada.
Ketika di anak tangga terakhir, Papa Rio keluar dari kamarnya. Dan memang kamar papa Rio di sebelah kamar putrinya.
"Ivan?" bisiknya.
"O..om...Rachel mana?" tanya Ivan panik.
__ADS_1
"Ck. Kamu ini, buat keributan saja di Mansion saya. Kemana aja kamu, anak saya minta jemput. Kamu kemana?" tanya Papa Rio. Rio sangat khawatir melihat sang anak yang kedinginan di halte tadi.
"Ma...maafkan saya Om, sa...saya banyak kerjaan tadi." Sahut Ivan gugup.
"Ck. Ya sudah, Rachel di kamarnya." ucap Papa Rio.
"Iya Om." sahut Ivan. Pria itu berjalan ke kamar Rachel.
Tok...tok...tok...
"Sayang....ini Mas, buka pintunya." teriak Ivan.
"Sayang....Rachel?" teriaknya lagi.
Rachel yang lagi berbaring di ranjangnya, terbangun. Kondisi tubuhnya lagi tak enak. Seperti nya ia lagi demam.
Ia menyingkap selimutnya dan turun dari ranjangnya perlahan. Berjalan menuju pintu.
"Sayang...." Ivan memeluk tubuh Rachel dengan erat. Karena ia begitu khawatirnya.
"Mas...sesak Lo." seru Rachel.
Ivan melepas pelukan nya. "Sayang...maafkan mas ya? Mas, gak jemput kamu tadi. Mas...banyak pekerjaan." ucap Ivan berbohong, padahal ia lagi asyik berdua dengan Sisil.
"Iya gak apa mas." sahut Rachel. "Tapi, mas harus temani aku di sini. Sampai aku tidur." ucap Rachel manja.
"Iya sayang..." bisik Ivan.
Akhirnya Ivan menemani Rachel tidur. Ia memeluk tubuh sang kekasih. Jujur saja, ia sangat khawatir sekali tadi.
__ADS_1
"Ya Tuhan...apa aku sanggup meneruskan balas dendam ini? Apa aku sanggup kehilangan Rachel nantinya." gumam Ivan dalam hati sambil memeluk Rachel.
"Mas...jangan pernah tinggalin aku..." Bisik Rachel lirih.
Deg....
Ivan merasa tertohok, meninggalkan Rachel? Memang itu rencananya.
"Gk akan sayang..." bisiknya.
Keduanya sama - sama tertidur. Sama sama kelelahan.
*******
Pagi hari menyapa, sinar mentari di pagi hari begitu cerah, setelah semalaman hujan deras.
Kini pria tampan nan gagah, seorang CEO muda. Hari ini ia berencana akan kerumah calon mertuanya untuk meminta restu. Keindra akan menikahi Mega sang kekasih hatinya, ia sudah memantapkan hatinya untuk Mega.
Keindra kini telah siap untuk ke kantornya terlebih dahulu. Jam makan siang nanti, ia akan kerumah mama Silvi dan papa Hendri.
*Drrtt...drrt...
"Hallo kak? Ntar siang jadikan kerumah*?" Mega menelpon Keindra.
"Hallo sayang, jadi dong. Kakak pengen ketemu camer." ucap Keindra kekeh.
"Hmm...makan siang sekalian disini ya kak? Aku masak, makanan kesukaan kak." seru Mega.
"Ok sayang..."
__ADS_1
Kedua sama sama bahagia. Mudah mudahan hubungan keduanya berjalan dengan lancar.