Cinta Seorang Single Daddy

Cinta Seorang Single Daddy
Episode 92


__ADS_3

Kedatangan Chintya tidak ada sambutan. Ia tidak memperdulikannya, dengan langkah anggunnya Chintya melangkah masuk kerumah mewah itu.


Gadis kecil dirumah itu menyambutnya dengan heran. "Tante siapa?." tanya polos.


Chintya tersenyum sinis. Saatnya rencananya akan dilaksanakan. "Hallo cantik. Nama tante Chintya, tante ini calon mama kamu." ucap Chintya tersenyum sinis.


"Mama?. Mami aku, mami Laras!!. Tante bukan mami aku.!! bentak Alya terisak.


Bibik yang bekerja dirumah pun terkejut mendengar teriakan majikan kecilnya. Ia pun mendatanginya.


"Nona Alya kenapa?." tanya bibi khawatir melihat nona mudanya menangis.


"Bibi, tante ini jahat...hiks, suruh dia pergi bik...hiks!." isak Alya sambil memeluk sih bibik.


"Maaf ya mbak ini siapa? kenapa nona Alya menangis?." tanya bibi.

__ADS_1


Chintya menghela nafas panjang. "Dasar anak cengeng. Denger ya bibik nama saya Chintya, saya ini calon istri mas Reyhan. Kami akan menikah." ucap chintya tersenyum.


"Maksud anda apa mbak Chintya?." ucap Laras yang tiba - tiba datang. Laras mendengar suara ribut di ruang tamu. Setelah baby Kei tidur, Laras bergegas turun dari kamarnya dan menuju suara ribut. Begitu terkejutnya dia mendengar pernyataan dari seorang wanita yang dikenalnya itu. Maksud dia apa. Dia mengatakan bahwa dia calon istri dari suaminya.


"Oh...nyonya rumah sudah disini rupanya. Baiklah aku ingin mengatakan kepadamu, aku akan menikah dengan suamimu, mas Reyhan. Kami sudah berjanji di Bandung kemarin, kami akan menikah." ucap Chintya berbohong.


"Saya mohon mbak, jangan buat keributan disini. Pergilah mbak!." ucap Laras kesal. Apa maksud Chintya berkata seperti itu. Kenapa mas Reyhan tidak mengatakan apa pun kepadanya.


"Laras...Laras...kau ini wanita bodoh!. Kau ingin aku jujur? Baiklah, akan aku katakan. Kau tahu suamimu itu sangat romantis sekali. Ketika kami di Bandung mas Rey selalu memujaku. Dan kau mau tahu juga, mas Rey selalu mengatakan bahwa dia sangat mencintaiku." bisik Chintya mengejek.


Panas telinga dan hati Laras mendengarnya, apa mungkin suaminya berbuat seperti itu. Rasanya ia tak percaya. Laras tahu bahawa suaminya sangat mencintainya dan anak - anak mereka.


"Terserah kau saja. Aku berkata yang sebenarnya. Dan yang lebih dari itu, mas Rey begitu hangat di ranjang." bisik Chintya lagi.


Cukup sudah, rasanya sudah begitu menyakitkan mendengarkan omongan Chintya. Tidak mungkin suaminya seperti itu.

__ADS_1


"Cukup mbak!!!. Suami saya tidak seperti itu. Lebih baik mbak pergi dari sini!!." bentak Laras mengusir Chintya.


Chintya tersenyum meremehkan. Rencana awal sudah berjalan. Tinggal menunggu kelanjutannya. Dengan langkah anggunnya Chintya meninggalkan rumah itu.


Tubuh Laras rasanya lemas, sehingga dia terduduk lesu di sofa ruang tamu. Air matanya tak terbendung lagi membasahi pipi mulusnya. Sesak di dadanya semakin membuatnya ingin berhenti bernafas. "Mas Rey, kenapa kau melakukan itu padaku. Apa benar kata Chintya mas." gumam Laras dalam hati.


"Mami...mami kenapa menangis? mami tante itu jahat mami. Mami Alya cuma mami Laras." seru Alya menangis. Alya sedih melihat maminya menangis gara - gara tante jahat.


"Bibik. Bawa Alya kekamar." ucap Laras tanpa melihat Alya.


Laras bangkit dari duduknya, ia pun menuju kamarnya. Dikamar Laras menangis tersedu - sedu. Sakit rasanya.


Laras tidak ingin larut dalam kesedihan. Ia harus kuat. Ia harus berfikir positif, bahwa suaminya adalah suami yang setia dan baik. Suaminya adalah suami yang mencintai keluarganya.


Bersambung.....

__ADS_1


Hari ini satu bab aja ya. Besok saya lanjut lagi. saya usahain tiap hari up. tapi boleh dong saya minta like, komen dan vote kalian.


terimakasih.


__ADS_2