
Hubungan antara Ivan dan Rachel sudah lebih baik. Ivan sering berkunjung ke apartemen Rachel. Bahkan Ivan sangat posesif kepada Rachel.
Rachel juga sangat senang, kekasihnya begitu sangat perhatian kepada calon anaknya. Kini keduanya lagi berada di apartemen Rachel. Ivan ingin makan siang di apartemen Rachel, dan tentu saja yang memasak Rachel sendiri.
"Yank...masaka apa sih?" Ivan memeluk pinggang Rachel dari belakang.
"Hmm...rendang mas. Tangannya awas dulu ih..."Seru Rachel kesal. Kekasihnya itu selalu saja mengganggu.
"Gini aja dulu Yank. Mas masih kangen sama kamu." ucap Ivan manja.
Masakan Rachel telah selesai. Ia pun mematikan kompor. Rachel berbalik kearah Ivan. Di elusnya pipi Ivan dengan lembut.
"Mas...kapan kamu, ketemu sama papa?" bisik Rachel sendu. Sudah seminggu pertemuan mereka.
"Hah...iya sayang, besok malam mas, ke Mansion papa kamu. Kita hadapin bersama ya?" sahut Ivan. Pria itu sungguh ingin mempertanggung jawabkan perbuatannya.
Mata Rachel berbinar. "Bener mas? Makasih ya mas..." ucapnya senang. Keduanya berpelukan erat.
*****
Kembali ke Pengantin Baru.
Pasangan suami istri itu lagi menikmati bulan madu mereka. Keduanya lagi menikmati bintang dimalam hari di bawah menara effeil.
"Mas...nanti, kalau kita beli rumah aku mau yang ada taman bunganya." Keindra tersenyum sambil memeluk istrinya dengan hangat. Tidak perlu wanita itu minta, Keindra memang sudah membelinya. Letaknya tidak jauh dari kampus sang istri dan kantor Keindra.
"Apa pun yang kamu mau sayang." Mega menoleh kearah suaminya dan memberi kecupan dipipi. "Terimakasih suamiku sayang."
"Iya sayang...Mas akan selalu membuat kamu bahagia." Keindra semakin memeluk tubuh sang istri dengan erat.
Karena malam sudah larut, dan udara sudah mulai sangat dingin. Keindra mengajak Mega kembali ke Villa mereka. Pria itu tak ingin istri tercintanya menjadi sakit.
"Mas...besok kita kepantai kan?" tanya Mega. Keindra mengangguk dan menggandeng tangan Mega dengan mesra.
__ADS_1
Tidak butuh waktu lama, keduanya sampai di Villa, tepat setelah itu hujan turun dengan derasnya. Keindra bersyukur karena bisa tepat waktu sampai di Villa.
"Mau teh apa coklat sayang?!" teriak Mega dari arah dapur.
"Coklat saja sayang!" Keindra melepas jaketnya dan melihat ada notif masuk di ponsel Mega. Sebenarnya tidak berniat untuk membaca, tap tidak sengaja terbaca oleh matanya. Langkahnya langsung terhenti seketika. Senyumnya seketika memudar. Diambilnya ponsel Mega dan membuka pesab itu dengan emosi yang hampir memenuhi seluruh tubuhnya.
Keindra sangat marah ketika mengetahui ternyata itu bukan pesan teks yang pertama. Sudah beberapa kali orang itu mengirimi istrinya pesan.
"Mas, ini coklat panasnya mau taruh dimana?"
Keindra tak menjawab dan langsung masuk kekamar mandi sambil membanting pintu. Itu semua membuat Mega bingung. Kemudian ponsel Mega berbunyi kembali, kali ini panggilan telpon dari orang yang sama. Mega langsung memencet tombol merah dan ia menemukan sebuah pesan mesra yang sudah dibuka. Mega tersenyum, Kini ia tahu apa penyebab suaminya membanting pintu kamar mandi tadi. Ternyata suami tampan nya itu sedang cemburu. dan Mega terkikik.
Tanpa menunggu lagi, Mega langsung melepas semua pakaiannya dan berlari kecil menuju kamar mandi. Membuka pintu perlahan dan masuk perlahan. Ia melihat suaminya sedang berada di bawah shower dengan tubuh polosnya yang bisa membuat siapa saja meneteskan air liurnya.
Mega memeluk Keindra dari belakang, Keindra terlihat sedikit terlonjak kaget, tapi tidak mereslon, Mega semakin tersenyum geli.
"Aku tak menyangka. ternyata suamiku saat cemburu akan semanis ini." Keindra tak merespon sama sekali. Tapi, Mega tak kehabisan akal, tangannya mulai turun dari perut menuju sesuatu yang sudah tegak berdiri. "Mas, gak mau dengar penjelasan aku dulu?"
"Siapa Dia?" Mega ingin tertawa mendengar nada pengucapan Keindra sambil menahan *******. Sebab tangan Mega sudah mulai memijat di tempat yang tepat.
"Katakan dengan jelas siapa dia?" Sebelum sempat menjawab, bibir Mega sudah dilumat kasar oleh Keindra dan tangannya menyusup ke ke tempat yang tepat. Membuat Mega tidak tahan untuk mendesah. "Katakan sayang."
"Aku bener bener tidak ta...." perkataan Mega terpotong jeritan karena Keindra semakin menyiksanya di bawah sana.
"Katakan sejujurnya sayang, atau mas akan menyiksa mu lebih dari ini."
"Sungguh, aku gak bohong mas aku..." tanpa aba aba Keindra memasukan miliknya dalam sekali hentak dan menggerakannya dengan kasar. Gerakan kasar Keindra justru terasa begitu nikmat oleh Mega. Wanita itu sampai menjerit jerit nikmat.
"Aku sungguh gak tahu mas." Mega kembali menjerit karena ritme Keindra semakin cepat.
Keindra tak membiarkan istrinya menuju puncak, sebelum mendapat jawaban yang pas. "Aku gak mengenalnya mas, kalau aku mengenalnya pasti aku balas."
"Jadi kamu tidak mengenalnya, selalu dikirimi pesan seperti itu dan tidak pernah mengatakannya hmmm?" Keindra semakin kasar menyiksa milik Mega.
__ADS_1
"Katakan kapan kamu akan mengatakannya jika aku tidak melihat pesan tadi." Mega sudah hampir mencapai puncak.
"Aku akan mengatakan segala hal bahkan yang terkecil, tapi kita memang belum ada kesempatan untuk bicara panjang berdua." Keindra tersenyum, kemudian kembali ******* bibir pink favoritnya itu dengan ganas.
"Sayang janga berhenti aku mohon...."Erangan Mega. Keindra terkekeh kemudian menghentak semakin dalam dan kasar.
"Jangan berhenti ngapain sayang?" goda Keindra.
"Jangan berhenti menggerakannya." Ucap Mega sambil terengah engah.
"Menggerakan apa hmm?" Mega sudah tak mampu menjawab.
"Menggerakan ini?" Keindra semakin mempercepat ritmenya hingga mereka mencapai puncak kenikmatan bersama. Keduanya terengah engah dengan perasaan puas.
"Mas mau kamu menjelaskan semuanya. Siapa orang itu. Kalau tidak, mas akan menghukum mu lebih dari ini." Bukannya marah Mega malah terkekeh dan tidak mau lepas dari pelukan Keindra.
"Aku suka hukuman kamu ini mas. Kalau bisa hukum aku sekali lagi sekarang." Keindra mengecup leher polos Mega, membuat istrinya terkekeh geli.
"Nakal kamu sekarang." Mega terkikik. "Mas serius sayang...siapa dia?"
"Aku gak tau mas. Aku sudah beberapa kali mengganti nomor aku. Apa perlu aku ganti lagi?" Keindra memeluk istrinya dengan erat sambil menikmati aliran air yang menyiprat mengenai mereka.
"Mas gak akan tinggal diam saja. Kamu sekarang sudah menjadi milik mas. Mas akan menyingkirkan siapa saja yang ingin mendekat dan mengganggu istri mas dan ibu dari anak anak mas nanti." Ucap Keindra tegas. Tak ada yang boleh mengganggu sang istri.
"Iya sayangku...aku bener gak tahu siapa orang itu." jelas Mega lagi.
"Mas, jadi apa perlu aku mengganti nomor lagi saja?" Keindra menggeleng. "Tidak perlu sayang. Karena aku yang akan mengusirnya jauh bahkan dari ponsel mu."
"Suamiku manis sekali saat sedang cemburu." Keduanya kembali berciuman dan berakhir dengan hukuman selanjutnya.
Mega memang sering diteror dengan sebuah pesan mesra di ponselnya. Tak tahu itu siapa. Namun, karena Mega tak mengenalnya, maka dari itu ia tak memperdulikannya. Bahkan orang itu tahu kalau Mega sudah menikah.
Sang suami mengetahui semuanya tadi, ketika ia melihat ada pesan masuk di ponsel istrinya. Keindra sangat geram. Ia akan mencari tahu siapa orang itu yang berani mengganggu istrinya.
__ADS_1
Bersambung....
Vote ya....