
Dengan langkah panajang Keindra menuju Bandara. Pria itu tak sabaran ingin bertemu dengan istri tercintanya. Penantian beberapa bulan, akhirnya terkabul juga. Sebentar lagi Keindra akan menjadi seorang ayah. Buah cintanya dengan Mega akhirnya telah ada didalam perut sang istri.
"Tunggu papa sayang." Kei sangat bahagia. Dihari ulang tahunnya ia diberikan kado terindah.
Beberapa jam kemudian. Keindra telah sampai di Bandara Jakarta. Kei sedikit berlari menuju mobil yang sedang menunggunya.
Keindra meminta sang supir untuk mencepatkan laju mobilnya agar cepat sampai ke Mansionnya.
Mobil yang membawanya telah sampai di tujuan. Keindra keluar dari mobilnya dan langsung menuju pintu masuk Mansion. Untungnya ia selalu membawa kunci cadangan. Dengan gerak cepat Kei membukanya.
Suasana rumah sangat sunyi dan gelap. Hanya cahaya dari ruang dilantai dua yang hidup.
Kei dengan segera menaiki anak tangga menuju lantai dua, tempat dimana kamar dirinya dan sang istri berada.
Sampai didepan pintu kamar, Kei membuka pintunya.
Ceklek....
Pemandangan yang pertama kali dilihatnya adalah istri tercintanya terbaring diranjang. Tubuh seksinya ditutupi oleh selimut tebal. Kei berjalan mendekati ranjang itu. Sampai di tepi ranjang, Kei menjongkok kan dirinya, dan menyibakan sedikit selimut. Kei mengelus perut istrinya dengan sayang.
"Anak papa, sehat sehat ya Nak. Papa sayang kamu dan mama." Kei mengelus perut sang istri.
Mega merasa terganggu tidurnya. Wanita itu membuka matanya. Ia dapat melihat wajah tampan suaminya.
"Mas..." bisik lirih Mega.
"Iya sayang, tidur lagi ya? Mas ganti pakaian dulu." Seru Keindra dan mengecup dahi sang istri.
__ADS_1
Mega memejamkan matanya lagi. Ia melanjutkan tidurnya.
Sementara itu Keindra membersihkan tubuhnya dan mengganti pakaian nya menjadi piayama tidur. Pria itu pun ikut bergabung bersama istrinya untuk tidur. Keindra memeluk erat tubuh Mega.
***
Dikamar Pengantin.
Usia kandungan Rachel sudah jalan tiga bulan. Di usia itu membuat Rachel selalu susah tidur dan di tengah malam ia selalu muntah muntah, walaupun tak ada yang dikeluarkan.
*Hoek...
Hoek...
Hoek*...
Rachel sungguh tak kuat lagi. Tubuhnya terasa lemas sekali. Ia mendudukan dirinya di lantai kamar mandi.
Ivan sangat kasihan melihat Rachel sangat lemas. "Sayang, masih mual ya?" seru Ivan sambil mengusap punggung sang istri.
"Hmm, mual banget mas." bisik Rachel lirih.
Ivan memapah tubuh Rachel kembali keranjang. "Kamu istirahat lagi ya?" ujar Ivan.
Rachel sungguh tak sanggup untuk berkata kata lagi. Ia lansung berbaring.
***
__ADS_1
Tiga Bulan Kemudian.
Usia kandungan Rachel sudah lima bulan lebih. Bentuk perutnya sudah berubah, sudah mulai membuncit. Dan syukurnya sudah tak ada lagi rasa mual. Malah nafsu makan Rachel bertambah, Ivan sangat senang, apa pun yang di inginkan oleh sang istri, ia selalu mengabulkannya.
Begitupun dengan Mega, Usia kandungannya sudah berjalan dua bulan. Mega tak mengalami mual dan muntah. Yang mengalaminya suami tercintanya.
Hoek...hoek...
"Mas...maafkan aku." lirih Mega. Mega sungguh tak tega melihat suaminya muntah muntah seperti begitu.
"Gak apa sayang...mas senang, bukan kamu yang mengalaminya." sahut Keindra.
Mega memapah suaminya untuk duduk disofa kamar. "Mas ingin makan sesuatu?" tanya Mega dengan lembut.
"Nggak sayang, mas mau tiduran sebentar." seru Keindra lemas.
***
Seorang gadis cantik berjalan dengan anggun, memasuki Mansion besar milik sang kakak. Sejenak ia memandang Mansion itu, wanita itu tersenyum sinis. Ternyata sang kakak begitu mencintai istrinya itu. Membelikan sebuah Mansion yang sangat besar. Selama beberapa bulan ini Rindi berdiam diri. Menghentikan dendamnya. Tapi, kali ini Rindi tak bisa diam saja. Rindi pastikan akan membalaskan dendamnya kembali.
Dengan gaya angkuhnya Rindi menekan tombol bel pintu Mansion.
Ting...tong...
Pintu Mansion terbuka. Seorang pelayan membuka pintu. "Maaf Nona, cari siapa?" tanya Pelayan dengan hormat.
"Aku mencari kakak ku. Pemilik Mansion ini." Sahut Rindi dengan sombong.
__ADS_1
"Tuan Ivan?" tanya sang Pelayan.
"Iya. Kakakku Ivan." jawabnya lagi.