
Rindi semakin kesal saja, kenapa wanita ****** itu tak membuka juga pintunya.
"Sisil?!!" teriak Rindi lagi.
Sisil dan pria panasnya masih mengatur nafas mereka. Kelelahan akibat bercinta. Samar - samar Sisil mendengar suara teriakan memanggil namanya.
"Kau mau kemana sayang?" Jimmy pria itu bertanya kepada Sisil.
"Aku mendengar suara terikan." seru Sisil bangkit dari tidurnya. Ia memakai bajunya dan bergegas keluar dari kamar.
Ting...tong...ting...tong....
"Sisil?!!"
Sisil mendengus kesal, ia tahu kalau itu suara Rindi. Wanita bodoh.
Ceklek...
"Kenapa Lo?! Teriak-teriak." dengus Sisil.
Rindi langsung masuk kedalam tanpa permisi dan menghempaskan bokongnya ke sofa. "Kemana aja lo? Kenapa lama banget buka pintunya?" tanya Rindi ketus.
"Ck. Ada apa lo kemari?" tanya Sisil.
"Gue kesal sama kakak gue. Kak Ivan ngusir gue dari Mansionnya." Seru Rindi kesal.
__ADS_1
"Kenapa Lo diusir?"
"Gue ribut disana. Kita harus susun rencana." ucap Rindi.
"Rencana apa? Rencana Lo selalu gagal." ejek Sisil.
"Ck. Terus rencana lo apa?" tanya Rindi.
Ceklek...
Suara pintu kamar Sisil terbuka, keluarlah dari dalam kamar seorang pria tinggi tegap dan tampan. Pria itu kelur tanpa memakai baju.
Sesaat Rindi terdiam terpaku, terpesona melihat ketampanan pria itu. Sampai lamunan Rindi buyar.
"Baby...kamu lama sekali?" tanya pria itu.
Pria yang bernama Jimmy itu menoleh kearah Rindi. Jimmy dan Rindi saling pandang, cukup lama keduanya saling pandang.
Melihat itu, membuat Sisil semakin kesal, ia sangat tahu bagaimana Jimmy, melihat wanita cantik langsung pengen. Secara Rindi itu cantik dan masih muda.
"Ehhmm..." Sisil berdehem.
Kedua insan itu mengalihkan pandangannya. Keduanya pun sama sama gugup.
"Baby, sebaiknya kamu tunggu aku dikamar saja." suruh Sisil kepada Jimmy.
__ADS_1
"Kenapa? Apa kau tidak ingin mengenali aku dengan teman mu yang cantik ini?" seru Jimmy dengan tatapan menggoda.
"Ck. Gak perlu." seru Sisil ketus. Bakalan panjang nantinya. Sisil tak akan membiarkan Jimmy lepas dari pelukannya. Jimmy sekarang adalah tambang uangnya. Pria itu adalah CEO dari sebuah perusahaan elit di Jakarta.
"Ayolah Baby, kenalin aku sama Nona cantik ini." Ucap Jimmy tanpa mengalihkan pandangannya kearah Rindi.
Ditatap seperti itu membuat Rindi merona malu, apalagi dibilang cantik. Seperti ada yang berdesir didada Rindi setelah memandang wajah tampan Jimmy.
Karena penasarannya Jimmy mengulurkan tangannya ingin berkenalan dengan Rindi.
"Hai...aku Jimmy." seru Jimmy memperkenalkan diri.
"Ha..hai...aku Rindi." Seru Rindi gugup. Tangannya gemetaran dan dingin. Cukup lama keduanya berjabatan tangan.
Melihat pemandangan itu, membuat Sisil semakin geram saja. Sisil sangat yakin, kalau Jimmy suka dengan Rindi.
"Huh...baby sayang...sebaiknya kamu kekamar. tunggu aku." seru Sisil dengan manja dan menggoda. Sisil sengaja bermesraan didepan Rindi. Ia ingin menunjukan bahwa Jimmy adalah miliknya.
Rindi melepaskan tangannya dari jabatan Jimmy. Mau tak mau Jimmy masuk kembali kedalam kamar.
"Sebaiknya Lo, pulang dulu deh, ntar aku pikirin rencana barunya." Ucap Sisil mengusir secara halus. "Baiklah." sahut Rindi. Gadis itu pun bergegas keluar dari apartemen Sisil.
Sampai di luar unit Sisil. Rindi memegangi dadanya, kenapa berdegup dengan kencang ketika bertemu dengan Jimmy tadi.
Rindi berjalan pelan menuju lift. Sampai didalam lift pun Rindi memegang dadanya. Ia tak pernah merasakan rasanya seperti ini.
__ADS_1
Rindi berkali kali menghembuskan nafasnya kasar untuk menghilangkan rasa debaran ini.
Bersambung.....