Cinta Seorang Single Daddy

Cinta Seorang Single Daddy
S3. Part 59


__ADS_3

Keindra memutar kembali mobilnya, mereka kembali pulang ke Mansion. Istri tercintanya lagi ngambek, gak tahu kenapa. Yang tadinya ingin membeli bubur jadi tak berselera.


Diperjalanan pulang, Keindra melirik kearah istrinya itu. Bibir istrinya mengerucut, itu tandanya Mega lagi kesal.


"Sayang...masih ngambek?" ucap Keindra lembut.


"Gak tahu kenapa, aku bawaannya kesal aja sama kamu Mas. Kamu yang sabar ya Mas?" Mega mengucapkannya dengan lirih dan terdengar sedih. Mengusik senyum yang sedang tersungging di bibir Keindra.


"Kok nangis sih Yank? Kan Mas gak marah Yank." Keindra memakirkan mobilnya di garasi rumah mereka dengan pelan kemudian menarik istrinya kedalam pelukan.


"Udah dong Yank, jangan nangis. Mas gak marah kok sama kamu sayang." Mega mengeratkan pelukannya pada tubuh hangat suaminya.


"Iya tapi aku kesel banget soalnya aku jadi sebel sama kamu. Aku sebel sama kamu Mas, tapi aku juga pengen peluk kamu mas. Jadinya kesel aku bingung." Keindra mengelus rambut indah istrinya sambil mengecupinya mesra.


"Aku akan jadi manusia paling sabar di dunia buat kamu sayang. Promise." Mega mengurai pelukannya dan kemudian dan memandang Keindra masih dengan berkaca kaca.


"Kalau aku pengen cubit kamu, jambak rambut kamu boleh mas?" Keindra meringis. Keindra berpikir kenapa permintaan istrinya jadi ektrem begini sih? Apa wanita hamil menjadi menyebalkan seperti ini?


"Tuh kan gak boleh, kamu pasti gak mau kan aku cubit mas." Melihat Mega tampak begitu sedih, membuat Keindra jadi tak tega.


"Siapa yang bilang gak boleh Yank, boleh kok. Kamu boleh lakuin apa saja sama mas sayang." Mega kembali memandang suaminya tapi kemudian langsung turun dari mobil dan berlari menuju rumahnya begitu saja.

__ADS_1


"Sayaang...jangan lari, kamu lagi hamil." Teriak Keindra dengan keras. Ucapan Keindra refleks karena khawatir. Mega kemudian berhenti dan menatapnya lalu mulai menangis lagi.


"Tuh kan, belum apa apa kamu udah bentak aku...hiks.." sambil menangis Mega berjalan cepat menuju kamarnya dan kemudian menutup pintu kamar dengan sangat kencang. Keindra mengusap rambutnya dengan frustasi. Mengutuki mulutnya yang tidak bisa berkata dengan lembut.


"Huh! Salah teruskan?!" gerutu Keindra.


***


Didalam rumah, Keindra berjalan dengan gontainya, ia melihat sang mami sudah berkacak pinggang menatapnya.


"Kenapa mantu Mami menangis gitu?!" Mami Laras melotot menyeramkan kearah Keindra. "Kamu apain mantu mami Keindra?! Jawab! Kenapa diam aja kamu?!" Sepertinya dia akan menjadi bulan bulanan dua wanita yang dicintainya mulai sekarang.


"Keindra gak sengaja bentak Mega Mih tadi. Sebenarnya gak ber...."


"Keindra gak sengaja Mi, sumpah!" ucap Keindra.


"Sengaja atau gak, kamu tetap ngebentak mantu kesayangan Mami yang di dalamnya ada calon cucu mami. Kamu tidur sendirian malam ini!!" Keindra hendak membantah tapi mami Larah sudah beranjak menuju kamar Mega dan menutup pintu dengan kesal.


Keindra mengacak rambutnya dengan frustasi. Hal itu tak luput dari penglihatan sang papi. Bukannya prihatin. Papi Reyhan malah cekikikan sambil memandang Keindra dengan jahil.


"Sabar ya. Papi juga pernah gitu. Tidur diluar tanpa mami kamu." ejek Papi Reyhan dan berlalu dari Keindra. Membuat Keindra semakin kesal.

__ADS_1


"Sebenarnya dimana letak kesalahan gue?" gumamnya. Kemarahan Mega ditambah campur tangan maminya adalah perpaduan yang sempurna untuk menyiksanya.


*****


Keesokan harinya Keindra pikir Mega berubah dan tidak ngambek lagi, tapi nyatanya tidak, Mega masih saja seperti kemarin, Mega langsung menjauh ketika didekatin oleh Keindra. Membuat Keindra sedikit merasa terluka. Benaknya terus terusan memikirkan hal yang sama sejak kemarin. Kenapa hanya bentakan kecil saja, Mega bisa semarah itu? Bukankah ini tak adil?


"Kamu gak ngantor Kei?" Mami Laras yang baru saja keluar dari kamar utama datang menyapa Keindra di dapur. Keindra sedang sibuk membuat kopinya sendiri. Entah kenapa dia merasa kesal dengan sikap Mega yang menurutnya tida dewasa, malah seperti anak anak. Sehingga Keindra memutuskan untuk mendiamkan Mega.


*****


Lainnya di Mansionnya Ivan dan Rachel.


Pasangan itu selalu saja mesra, Rachel yang kandungannya semakin besar itu, semakin manja saja kepada sang suami. Wanita itu tak bisa jauh sedikitpun dari Ivan.


Sudah seminggu ini Rachel selalu ikut Ivan kekantor. Rachel selalu nempel ke Ivan. Walaupun merasa sedikit risih, namun Ivan senang, sang istri membutuhkannya pada saat hamil daj sifatnya manja. Dan yang paling Ivan suka adalah aktifitas ranjang mereka semakin bertambah dan panas saja. Bumil itu selalu saja ingin bercinta dengan sang suami, dan Ivan menyambutnya dengan senang hati.


Setelah kedatangan Rindi ke Mansion mereka dan marah marah. Sejak itu juga Rindi tak lagi datang ke Mansion. Ivan merasa sangat lega sekali, sang adik tak lagi merecokinya. Dan mudah mudahan seperti itu terus. Namun Ivan selalu waspada. Bisa saja sewaktu waktu Rindi ataupun Sisil datang ke Mansion dan mengganggu Rachel.


Dan dugaan Ivan benar saja, Wanita ular itu datang ke Mansionnya dengan penampilannya yang luar biasa seksi itu.


Ivan yang baru saja keluar dari kamarnya, merasa terkejut dengan kedatangan Sisil dengan tiba tiba dan yang Ivan semakin kaget, wanita ular itu menghampirinya ke lantai dua, tepatnya menuju kamarnya dengan sang istri.

__ADS_1


"Apakabar sayangku..."


Bersambung....


__ADS_2