Cinta Seorang Single Daddy

Cinta Seorang Single Daddy
S3. Part 46


__ADS_3

"Mas...hiks..hiks..." ucap Rachel masih dengan isakannya.


"Sayang...jangan nangis. Apa masih sakit?" tanya Ivan panik.


Ada apa dengan kekasihnya. "Sayang...kamu kenapa?" tanya Ivan lagi.


Ivan mengelus kening kekasihnya. "Katakan sama mas, kamu kenapa sayang?" tanya Ivan sangat lembut.


"Hiks...mas, si...siapa Sisil?" tanya Rachel lirih.


Deg...


Ivan sangat kaget mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Rachel. Kekasihnya tahu tentang Sisil.


"Mas..." bisik Rachel.


"Si...sisil, di...dia itu. Temannya Rindi sayang." ucapnya bohong. Belum saatnya ia berkata jujur. Mungkin nanti setelah pernikahan mereka, Ivan akan berkata jujur.


Rachel masih bergeming menatap wajah kekasihnya. Ia merasa ada kebohongan. Air mata yang masih mengalir dari matanya, ia memalingkan wajahnya. Sedikit kecewa.

__ADS_1


Ivan menghela nafasnya berat. Pasti Rachel kecewa. "Sayang...mas akan berkata jujur sama kamu." Seru Ivan.


Rachel menunggu penjelasan sang kekasih.


"Sisil, dia, mantan kekasih mas." Ivan menarik nafasnya lagi. "Kalian berpacaran ketika masih bersama ku mas?" bisik Rachel sendu.


Ivan menelan salivanya kasar. Tak ingin menutupi apa pun lagi. Kali ini Ivan akan menceritakan yang sebenarnya.


Ivan mengangguk pelan. Mengiyakan kalau ia berpacaran dengan Sisil ketika Ivan juga menjadi kekasih Rachel. Menjadikan Rachel seorang kekasih untuk membalaskan dendam. Dan Ivan juga bercerita, kenapa Ivan sempat pergi meninggalkan Rachel, bukan karena adanya pekerjaan. Melainkan ia sengaja meninggalkan Rachel. Ivan ingin merasakan bagaimana rasa sakit Mamanya, itu akan dirasakan oleh Rachel. Namun karena rasa cintanya lebih kuat untuk Rachel. Ivan akhirnya kembali dan apalagi tahu kalau Rachel lagi hamil.


Ivan menceritakannya sambil terisak. Ia tak berkata jujur dengan terlibatnya Rindi sang adik. Adiknya lah yang memaksanya.


"Maafkan Mas sayang. Maaf..." ucap Ivan terisak. Ivan sungguh sangat menyesal.


Ivan masih meratapi penyesalannya. Rachel nya tak ingin memandangnya. "Sayang...maaf. Jangan tinggalin mas. Mas mencintai kamu." bisiknya lirih.


Tak ada suara yang keluar dari bibir keduanya. Rachel memejamkan matanya. Sungguh sangat lelah. Ivan memandang wajah kekasihnya yang memejamkan matanya. Ia tahu pasti Rachel sangat kecewa.


Kini Ivan diliputi rasa penyesalan yang medalam. Ivan akan terus berusaha untuk menggapai cinta Rachel kembali. Ivan masih duduk di samping ranjang rumah sakit sang kekasih. Rachel telah dipindahkan ke ruangan VIP. Ivan tak akan meninggalkan kekasihnya itu.

__ADS_1


******


Dilain tempat.


Seorang wanita seksi tertawa lepas di dalam kamarnya dengan memegang sebuah gelas berisi anggur merah. Sungguh nikmat sekali rasa minuman ini. Sambil mengingat bagaimana wajah wanita yang dicintai oleh Ivan. Wajah itu sungguh ketakutan.


Sisil sudah mulai hilang akal sehatnya. Dengan cara apapun akan dilakukannya yang terpenting Ivan nya kembali kepelukannya.


"Kau lihat Rachel. Ini masih awal. Bersiaplah akan kehancuran kamu." seru Sisil yang sudah mulai mabuk.


Sisil sudah mabuk berat. Bahkan ia sudah tak sadar.


*****


Keindra sudah tahu siapa yang telah meneror sang istri tercintanya. Sehabis rapat penting di kantornya dengan tergesa gesa Keindra berjalan menuju parkiran dan langsung menaiki mobilnya. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju sebuah cafe dekat kampus sang istri.


Di cafe itu Keindra dapat bertemu dengan sosok yang selalu meneror Mega istri tercintanya. Keindra akan memberi perhitungan kepada pria itu. Berani sekali ia mengganggu milik seorang Keindra.


Keindra bisa melihat seorang pria sedang duduk menunggu seseorang. Pria itu menanti kedatangan wanitanya. Tadi ia mendapat balasan dari wanitanya. Wanitanya ingin menemui dirinya. Pria itu sangat senang. Akhirnya chat nya di balas juga, bahkan wanitanya ingin bertemu.

__ADS_1


"Selamat siang Pak Dosen..."


Merasa di sapa, pria itu sangat kaget. Ia mengenal suara itu. Menelan salivanya dengan kasar. Apakah ini akhir hidupnya.


__ADS_2