
"Bersiaplah Rey...aku akan beri kejutan kepada istri tercinta Lo." gumam Chintya licik dalam hatinya.
Setelah pertemunya dengan Chintya, Silvi kembali ke kontrakannya. Semua kekayaannya habis tanpa tersisa. Mau tak mau dia rela meminta kepada Chintya. Sebenarnya dia terlalu gengsi meminta kepada Chintya. Tapi apa boleh buat.
Chintya memberinya uang banyak. Dan dia juga akan memberinya lagi. Tapi setelah syarat yang diberi Chintya berjalan lancar.
Awalnya dia takut untuk melakukannya, tapi demi uang dia rela. Chintya menyuruhnya untuk menghabisi Laras.
"Hah...pokoknya gue harus bisa. Mereka sudah membuatku seperti ini." gumam Silvi.
Sebelum Silvi membaringkan tubuhnya di ranjangnya. Chintya menghubunginya melalui ponselnya.
Ddrrtt....drrttt...
☎ "Apalagi Chintya?." tanya Silvi langsung tanpa basa- basi.
☎ "Hahaha...tenang dulu Silvi. Aku hanya mengingatkan yang tadi saja. Besok kau harus sudah melakukannya!!." jawab Chintya tertawa.
☎ "Pasti akan aku lakukan. Tapi ingat imbalannya." ucap Silvi tak mau kalah.
__ADS_1
☎ "Ok. Deal." ucap Chintya.
Sambungan telepon pun terputus. Silvi menghela nafasnya kasar. "Apa aku tega melakukannya?". gumamnya. Walau bagaimanapun Laras adalah ibu sambung Alya. Laras ibu yang baik. Kalau dia melakukan itu pasti Alya akan bersedih. Silvi dulu memang sangat kejam. Setelah kejadian kemarin Silvi mulai merasa sendirian. Tak ada yang sayang dengannya lagi. Anak kandungnya saja membencinya. Tapi, dia sangat membutuhkan uang. Hanya itu yang bisa membuatnya bertahan.
Pagi hari menyapa. Hari ini dia akan menjalankan tugasnya dari Chintya. Namun dia masih berpikir, Silvi masih ragu dia takut. Alya pasti akan berdedih pikirnya. "Aku harus meghubungi Chintya. Aku tidak bisa melakukannya. Aku akan mengembalikan uangnya." guman Silvi yakin.
Ia tidak ingin berbuat jahat lagi, sudah cukup rasanya dia untuk mengganggu keluarga Reyhan. Bagaimana pun caranya dia akan memisahkan mereka, itu tidak akan bisa. Reyhan sangat mencintai Laras. Kali ini dia akan berubah. Tidak mau mengganggu lagi. Setelah ini dia akan pergi jauh dari mereka.
Siang pun telah tiba, Chintya belum juga dapat kabar dari Silvi. Chintya merasa risau menunggu kabar. Apakah Silvi berhasil atau tidak. Dengan tidak sabar ia menghubungi Silvi.
Drrtt...drrt....
Ponsel Silvi berdering lagi. Dilihatnya siapa yang menghubunginya. Silvi menghela nafas panjang. Ternyata Chintya yang menelpon. Ia pun menggeser tombol warna hijau.
☎ "Lo dimana? Kenapa belum ngabarin gue?!." bentak Chintya.
Silvi menghela nafas lagi. Sebelum dia menjawab pertanyaan Chintya.
☎ "Maaf, gue belum bisa melaksanakannya." jawab Silvi takut.
__ADS_1
☎ "Brengsek Lo?!." seru Chintya marah.
Silvi memutus panggilan tersebut. Dia tidak ingin berurusan lagi dengan Chintya. Ia ingin hidup tenang kali ini.
Silvi kini berada di sebuah cafe kecil, ia ingin mengisi perutnya dengan makanan. Silvi sedang menikmati makanannya, ia melihat seorang wanita dan anak kecil memasuki sebuah mini market. Mereka adalah Laras dan Alya anaknya. Silvi tersenyum bahagia melihat anak perempuannya sangat bahagia bersama Laras. Silvi merasa senang, melihat anak perempuannya. Ia berjanji tidak akan mengganggu mereka lagi. Hari ini setelah makan siang, ia akan pergi dari kota ini. Ia akan pergi ke kampung halamannya.
Laras dan Alya masuk ke sebuah mini market. Mereka ingin membeli keperluan untuk baby Kei dan ingin membeli ice cream kesukaan Alya.
Mini market tersebut bersebrangan dengan cafe yang di datangi Silvi. Sedari tadi Silvi terus memandangi mini market itu. Dia ingin melihat anaknya yang terakhir kalinya.
Alya dan Laras keluar dari mini market tersebut. Mereka telah selesai berbelanja. Silvi pun beranjak dari duduknya, ia keluar dari cafe itu, tidak lupa ia memakai maskernya dan kacamatanya agar tidak ada yg mengenalinya.
Setelah sampai di parkiran cafe, Silvi melihat sebuah mobil sedan hitam yang sedang menunggu di parkiran Mini market. Silvi mengenali mobil itu. Dia ingat kalau mobil itu milik Chintya.
Dilihatnya Laras dan Alya berjalan menuju mobil mereka, dan mobil milik Chintya bergerak juga menuju kearah Laras dan Alya.
Tanpa berpikir panjang lagi. Silvi berlari kearah Laras dan Alya. Ia membuka kacamata dan maskernya. Dan berteriak.
"Laras awasss...!!". teriak Silvi.
__ADS_1
Brakkkk.......
Bersambung.....