Cinta Seorang Single Daddy

Cinta Seorang Single Daddy
S3. Part 12


__ADS_3

Setelah mendengar percakapan antara Kak Alya dan Mega di meja makan tadi. Hati dan pikiran Keindra tak tenang, ia tak akan rela kalau Mega jadi milik orang lain. Entah apa sebabnya. Keindra juga bingung, kenapa ia bisa seperti itu. Padahal sedari masih kedua nya masih kecil, keduanya seperti kuncing dan tikus, selalu adu argumen. Saling menyalahkan, walupun sebenarnya Kei yang selalu menyalahkan Mega dan Mega selalu mengalah.


Selesai makan siang tadi, Kei tak langsung balik ke Kantor nya. Ia masih duduk termenung di atas sofa diruangan keluuarga. Masih memikirkan pernyataan Mega tadi. Bahwasannya Dosen yang bernama Amar juga pernah menyatakan rasa suka nya kepada Mega. Namun Mega belum menjawab nya. Mega masih menggantung nya. Benar - benar mengganggu pikiran Keindra.


"Aghr...brengsek tu Dosen...enak aja dia, Mega itu milik gue?!" Keindra benar benar kesal, sampai - sampai ia bergumam, kalau Mega itu miliknya. Setelah menyadari apa yang di gumamkan nya. Kei terdiam sesaat. Ia mengusap wajah tampan nya kasar. Sungguh membuat diri nya frustasi.


Alya yang melihat adik laki laki nya duduk dengan gelisah di atas sofa begitu sangat puas melihatnya. Menurutnya, Kei itu munafik, tak mengakui perasaannya, gengsi aja yang di tebali. Dengan jahilnya Alya menghampiri Keindra dan duduk di sebelah nya.


"Kenapa Dek? Kayaknya galau banget." seru sang kakak menggoda.


"Ck. Berisik banget sih kak." dengus Keindra kesal.


"Huh...habisnya kamu, setelah makan siang tadi jadi diam gitu, apa kamu cemburu, kalau Mega di dekati sama Dosen nya?" ejek sang kakak.


Keindra menatap malas sang kakak. Kakak nya terlalu berisik. Selalu memanas manasi dirinya, yang mana memang hatinya lagi panas.


"Gak mau ngaku ya sudah. Oya, Dek, tadi kakak Lihat, Mega lagi telponan di taman belakang Lo, sepertinya Mega seneng banget nerima telpon, senyum senyum terua dia. Tapi, kakak dengernya yang nelpon Mega itu Dosen nya deh, Dosen yang bernama Amar itu. Yang suka sama Mega. Tapi, gak apalah, Mega kan cantik, kakak sih setuju banget kalau Mega jadian sama Dosen Amar." Lagi dan lagi Alya menggoda adiknya, yang mana membuat Keindra semakin panas saja. Kalau ternyata benar apa yang di katakan sang kakak, gimana dengan dirinya?


"Rese banget sih kakak." Kesal Keindra, ia pun bangkit dari duduk nya dan meninggalkan kakaknya yang cerewet itu.


Langkah Keindra berhenti di pintu belakang menuju Taman Mansion Alya. Ia melihat Mega memang lagi telponan dengan seseorang, tertawa, tersenyum membuat Kei panas saja. Ia tak bisa menerima ini. Ia melangkahkan kakinya ke arah Mega yang duduk di bangku taman. Keindra yang berdiri tepat di belakang Mega. Ia masih mendengar suara Mega. Sesekali ia mendengar Mega tertawa malu - malu dan pipinya merona.

__ADS_1


Membuat Keindra geram. Dengan cepat Keindra merampas ponsel Mega dari tangannya. Ia memutus sambungan nya. Tanpa melihat siapa yang menelpon.


Mega sontak kaget, ia menoleh ke belakang tubuhnya. Ia menatap malas melihat orang itu. "Apaan sih kak. Main rampas aja. Ganggu aja deh." Ucap Mega kesal. Ia berdiri dan menghadap Keindra, dengan bangku taman diantara mereka.


"Sini?! Balikin ponsel aku kak! Aku belum selesai ngobrolnya?!" rengek Mega.


"Gak! Nanti aku balikin nya." Seru Keindra, dan ia memasukan ponsel milik Mega ke saku celananya.


"Kakak?! Itu punya aku. Balikin dong!" kesal Mega.


"Kak, balikin dong. Aku lagi telponan sama Mili kak. Belum selesai ngobrol nya." ucap Mega memelas.


"Telponan sama Mili? Kalau telponan sama Mili, kenapa pipi kamu merona gitu? Kenapa senyum senyum malu gitu? Bohongkan?! Kamu pasti telponan sama Dosen kamu itu kan? Pasti iya, aku gak akan kasih ponsel kamu!" dengus Keindra kesal, enak aja. Berbicara manis di telpon dengan pria lain.


"Kak...sini...ponsel aku." rengek Mega. "Coba kakak lihat deh, di panggilan masuk ponsel aku. Siapa yang nelpon." suruh Mega.


Mega benar, kenapa ia tak terpikir kesitu. Dengan enggan karena malu, ia melihat daftar panggilan masuk. Ternyata benar, Mega lagi ngobrol dengan Mili.


Malu nya luar biasa. Ia merutuki perbuatannya. Dengan enggan ia memberikan ponsel milik Mega. "Oh...Mili. ini?!" Keindra memberikan kembali ponsel Mega dengan angkuh.


Mega menerimnya dengan kasar. "Huh...ganggu saja." ketus Mega. Setelah menerima ponselnya. Ponsel Mega kembali berdering.

__ADS_1


Kring...kring....


"Dosen Amar..." Mega tersenyum melihat layar ponselnya. Nama Dosen Amar tertera di situ.


Keindra melotot kan matanya. Ia tak salah mendengar apa yang di ucapkan Mega. Dosen itu menelpon nya.


Dengan cepat Keindra merampas ponsel Mega lagi. Dan ternyata benar, Dosen Amar yang menelpon nya. Dengan cepat, Keindra menggeser tombol berwarna merah. Itu berarti menolak panggilan dari Dosen itu.


Mega tak terima dengan perbuatan Keindra. "Kak?! Kok di matiin sih. Itu pasti penting." lagi lagi Mega dibuat kesal dengan tingkah Keindra.


"Ini gak penting! Untuk apa Dosen itu nelpon kamu! Kayak gak ada kerjaan aja. Ponsel kamu kakak sita." Ucap Keindra dan ia berbalik untuk kembali masuk kedalan Mansion.


Mega melototkan matanya. Wah...gak bisa di diamin ini. Keindra seenaknya saja. Dengan cepat Mega mengejar Keindra untuk mengambil Ponsel nya kembali.


"Kak, sini dong. Itu pasti penting kak! pinta Mega.


"Gak." seru Keindra.


"Kakak kenapa sih?! Aneh! Biasanya juga gak peduli, aku ngobrol sama siapa pun." seru Mega bingung.


Keindra memberhentikan langkahnya. "Mulai sekarang, jauhin Dosen yang bernama Amar itu. Aku gak suka. Kamu gak boleh dekat sama dia?! Kamu itu MILIK AKU!!" teriak Keindra marah. Spontan ia mengatakan Mega miliknya.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2