
Keindra masih di dalam kamar Mega, ia mencoba membiasakan selalu berada di dekat Mega terus. Bermanja kepada Mega. Menurut Keindra menyenangkan juga.
Kini Keindra berbaring di ranjang, berbantalkan paha Mega. Keindra menikmati elusan di kepalanya. Begitu menenangkan.
Sementara Mega masih bingung dengan perubahan sikap Keindra. Begitu manis menurutnya. Tak ada Keindra yang bersifat arogan dan galak.
Keduanya masih belum mengeluarkan sepatah kata pun. Masih dengan mode diam.
"Kak Kei. Kakak lagi ada masalah ya?" ucap Mega begitu lembut sambil mengusap kepala Keindra yang ada di pangkuannya.
"Hmm..."Keindra sungguh menikmati elusan yang di berikan Mega.
"Cerita sama Mega kak. Mana tau Mega bisa bantu." tawar Mega.
"Kakak, gak ada masalah apa pun. Kamu cuma pengen seperti ini saja. Sangat nyaman." sahut Keindra sambil memejamkan matanya menikmati elusan Mega.
"Kakak sudah makan? Mau Mega masakin sesuatu?" ucap Mega.
__ADS_1
Keindra membuka matanya. Sesungguhnya ia sangat lapar sekali. Keindra bangun dari tidurnya. "Boleh deh. Kakak laper banget. Belum makan siang tadi." ucap Keindra.
Keduanya beranjak dari ranjang dan keluar dari kamar untuk menuju dapur. Mega akan memasak sphageti untuk Keindra. Makanan kesukaan Keindra.
Sedangkan, sepasang suami istri yang lagi menonton televisi, merasa terganggu dengan pandangan di depan mereka. Keduanya melihat sepasang insan yang bergandengan tangan. Silvi, melebarkan matanya, apa ia tak salah lihat, Keindra menggenggam tangan anak gadisnya begitu eratnya.
Mama Silvi melirik suaminya, meminta jawabannya. Hendra sang suami hanya mengedikan bahunya. Hendra juga tak tahu dengan sikap Keindra. Akhirnya keduanya membiarkannya saja. Kedua nya berdoa, agar pasangan itu berjodoh, dan perjuangan sang anak tak sia sia. Mengejar Keindra semasih kecil.
****
Mega begitu cekatan memasak, segala jenis masakan ia bisa. Mega selalu belajar memasak dengan sang mama dan kakak nya Alya.
Keindra memandang Mega tak berkedip. Sungguh cocok sekali Mega di jadikan seorang istri. Berbeda dengan Rachel. Gadis itu sangat manja. Dan kurang begitu masak. Keindra tak pernah merasakan masakan Rachel.
Keindra menyunggingkan sebuah senyuman tipisnya. Kagum melihat kelihaian Mega memasak. Karena penasaran dengan apa yang ingin di masak Mega. Keindra menghampiri Mega, lengan kekar Keindra memeluk erat pinggang Mega dari belakang. Dan dagu pria itu di sandarkannya di bahu sang gadis.
Mega hampir saja menjatuhkan spatula nya, ia kaget dengan pelukan Keindra yang mendadak. Jantung Mega berdegup kencang.
__ADS_1
"Kak...Jangan seperti ini. Mega kan lagi masak" bisik Mega pelan.
"Masak apa sih kamu sayan?" seru Keindra mesra.
"Ck. Tadi katanya, kakak lapar. Mega masak shagety buat kakak." sahutnya.
"Hmm..." Keindra begitu menikmati wangi tubuh Mega. Sangat harum, mmebuat nafsu laknat nya bangkit.
Keindra mematikan kompor. Dan dengan perlahan ia mengecup lembut leher Mega.
"Kak...." ucap Mega menggeram. Menahan suara desahannya.
Keindra membalikan tubuh Mega kearahnya. Masih memeluk pinggang gadis itu. Satu tangan Keindra mengelus pipi mulus Mega dengan lembut.
"Cantik banget." ucap Keindra serak menahan hasratnya.
Mega menelan saliva nya kasar. Memandang wajah Keindra begitu sangat dekat, membuat debaran jantungnya tak karuan.
__ADS_1
"Kka...kak, mau apa?" tanya Mega gugup. Keindra memandang wajah Mega terus. Ia tak bisa menahannya lagi. Bibir Mega sungguh menggoda iman nya. Dengan spontan Keindra ******* bibir Mega dengan kasar, namun lama kelamaan lumatannya menjadi sangat lembut. Keduanya menikmati ciuman panas mereka.
Tanpa sepengetahuan keduanya, dua pasang mata menatap mereka dengan senyuman. Silvi dan Hendra berharap keduanya berjodoh.