
Beberapa Bulan Kemudian.
Akhirnya kelahiran yang ditunggu - tunggu oleh kedua keluarga itu tiba. Kebetulan sekali seluruh keluarga berkumpul di Mansion Keindra dan Mega.
Seluruh keluarga semuanya sangat panik ketika Mega mengeluh kesakitan. Terutama Keindra sang suami. Keindra bingung harus melakukan apa.
Papi Reyhan dan Papa Hendra (Suami Silvi) akhirnya yang membawa anak dan mantunya itu kerumah sakit, sementara itu Keindra masih panik dan bingung. Mereka meninggalkan Keindra di Mansion.
Keindra sadar, kalau dirinya ditinggal, dengan langkah cepat ia menyambar kunci mobilnya di atas meja sofa ruang tamu dan menaiki mobilnya dan melajukannya dengan kecepatan tinggi. Dirinya tak boleh panik seperti ini. Istrinya perlu dukungan darinya.
"Argh...maafkan Mas sayang. Mas panik, mas jadi bingung." Keindra merutuki dirinya.
Sementara di tempat lain.
Papa Hendra dan Papi Reyhan dan yang lainnya telah sampai dirumah sakit. Papi Reyhan segera turun dan memanggil suster jaga.
"Suster...!! tolong menantu saya?!!" teriak Papi Reyhan panik.
Dengan sigap para suster membantu dan membawa Mega keruangan bersalin.
"Papi, papa. Mas Kei mana?" bisik Mega menahan kesakitan.
__ADS_1
"Biarkan saja anak sialan itu. Istri mau melahirkan dia malah kebingungan." ucap Papi Reyhan kesal.
"Aku mau mas Kei Pi." ucap Mega lirih.
Mega sudah berada diruangan bersalin. Dia ingin suaminya berada di sisinya saat melahirkan. "Pi, Pa mana mas Kei, aku mau dia?" rengek Mega.
"Sabar sayang, mungkin lagi dijalan. Papa panggil mama aja ya?" tawar papa Hendra.
Mega menggeleng. "Gak, aku mau mas Kei." Mega kekeh ingin suaminya. Sugguh Mega tak bisa menahan sakitnya. Dia perlu kekuatan dari sang suami.
BRAKK...
"Sayang, maaf mas telat." ucap Kei panik. Pria itu menggenggam tangan Meg sang istri dengn erat dan mengecup keningnya. "Sakit?"
Mega mengangguk pelan. " Gak papa demi anak kita," ucapnya dengan senyuman.
Namun, Keindra melihat bagaimana istrinya berdesis, menggenggam tangannya kuat, menunjukan jelas bagaimana sakitnya proses itu.
"Yank. Kita bisa ganti opsi. Operasi saja. Biar gak sakit seperti ini Yank."
"Gak mau, mas. Aku mau berjuang sendiri lahirin anak aku." Mega berucap tenang, guna membuat sang suami yang memakai baju piayama tidurnya itu ikut merasakannya. "Mas yang tenang, ketubannya belum pecah. Jadi, nunggu dulu."
__ADS_1
"Mas rangsang ya? biar lebih cepat." Keindra mendekatkan wajahnya ke wajah sang istri mereka berdua bertuka saliva dan saling *******. Suster yang ada diruang itu beranjak dari sana, mereka malu sekali.
Beberapa saat kemudian, Keindra keluar dari ruangan bersalin dan berteriak. "Suster!! Ketubannya sudah pecah!" setelah itu Kei masuk kembali bersama Dokter dan Suster.
Keindra tidak pernah berhenti menggenggam tangan Mega selama persalinan. Sampai akhirnya, Mega berhenti memberi tekanan pada perutnya tatkala suara tangisan mendominasi ruangan ini. Dokter dan Suster mengucapkan kata syukur, begitu pula dengan Mega dan Keindra yang kini sudah berkaca kaca karena bayi mungil ditangan sang dokter.
"Bayinya laki - laki," ucap sang Dokter sambil membersihkan sang bayi.
Tangan Keindra masih belum lepas dari genggaman sang istri. "Kamu hebat sayang. Kamu berhasil, terimakasih sayang." Ucapnya memberi ciuman pada keningnya Mega. "Mas sayang kamu."
Mega tertawa sambil meneteskan air matanya. Dia merentangkan tangannya ingin menggendong sang bayi. "Gantengnya anak mama, kok mirip papa semua?"
Keindra tertawa mendengarnya. Dia mensejajarkan tubuhnya dengan sang bayi yang dicium oleh Mega.
"Mirip kamu juga sayang. Kan, kita buatnya sama sama." kekeh Keindra.
"Mas..." Mega sangat malu dibuatnya. Dokter dan suster terkekeh geli dengan pasangan itu.
Mega sangat bahagia sekali, akhirnya bayi yang ditunggunya telah lahir dengan selamat. Berjenis kelamin laki laki. Suaminya juga sangat menyayanginya.
Bersambung.....
__ADS_1