
Mega sangat senang sekali bisa menggendong bayinya Rachel. Dirinya juga akan sebentar lagi akan merasakan seperti Rachel. Memiliki seorang bayi.
Suasana kamar rawat Rachel sangat ramai, seluruh keluarga telah datang berkunjung. Orang terakhir yang datang adalah Rindi, adiknya Ivan. Setelah dirinya meminta maaf kepada sang kakak dan sahabatnya. Hubungan antara kakak dan adik itu telah membaik. Bahkan Rindi sering menginap di Mansion sang kakak untuk menemani Rachel.
Bahagia bersama keluarga. Namun hati Rindi sedang dilema. Setelah kejadian bertemu dengan Sisil itu, hubungan Rindi dan Jimmy ada masalah. Rindi selalu menghindari Jimmy, ia sungguh sangat kecewa kepada Jimmy.
...******...
Beberapa Bulan kemudian.
Bayi laki laki Rachel telah diberi nama Adam Alfahrizi. Usia Adam sudah tiga bulan. Bayi itu sangat tampan seperti sang papa. Ivan sangat bahagia, mempunyai seorang jagoan.
"Duh...anak papa ganteng banget sih?" Ivan sangat gemas sekali.
"Iya dong pa." seru Rachel menirukan suara bayi.
"Yank...kayaknya kita harus tambah lagi. Tapi, yang cewek. Biar lengkap." Ucap Ivan antusias.
"Apa sih mas, Adam masih kecil Mas." seru Rachel kesal. Suaminya pikir mengandung bayi gampang apa.
"Iya, mas tahu, yang penting kamu jangan KB ya sayang. Mas pengen anak lagi." seru Ivan semangat.
Rachel hanya pasrah saja, membantah suaminya tak akan menang dirinya.
****
Di Mansion Keindra dan Mega.
Pasangan suami istri yang satu ini juga lagi menunggu kehadiran sang buah hati yang bulan depan akan lahir. Keindra tak lagi pergi ke kantor. Semua pekerjaan ia lakukan di rumah saja.
"Mas...lagi sibuk ya?" tanya Mega. Wanita itu bergelayut manja di lengan sang suami.
"Hanya sedikit pekerjaan yang harus mas kerjakan sayang." Seru Keindra masih menatap layar laptop.
Mega kesal, sang suami sibuk. Tidak kekantor tapi bekerja dirumah. Sama saja.
Mega merajuk. Wanita hamil itu pergi dari tempat itu meninggalkan sang suami sendiri bekerja.
__ADS_1
Keindra masih asyik dengan laptopnya. Tanpa tahu sang istri sudah tak ada lagi di sampingnya.
Sekitar tiga jam Keindra menyelesiakan pekerjaannya. Pria itu baru tersadar kalau tadi ada Mega istrinya. Keindra baru sadar kalau dia sedari tadi mengabaikan istrinya.
Keindra membereskan semuanya dan akan menyusul Mega ke kamarnya. Jam sudah menunjukkan pukul empat sore.
Istrinya pasti merajuk pikirnya. Masuk kedalam kamar ingin meminta maaf kepada Mega.
Ceklek..
"Yank...." Keindra memanggil Mega, namun tak ada siapa pun di dalam kamar. Kei mencari di dalam kamar mandi, mungkin istrinya didalam kamar mandi.
*Tok...tok...tok...
"Yank..." teriak Keindra*.
Tak kunjung ada jawaban, Kei membuka Pintu kamar mandi.
Cekelek....
Keindra sudah berkeliling, namun tak ada juga. Keindra panik. Ia memanggil seluruh pekerja dirumahnya dan menanyakan kemana Mega.
Bi Sari kepala Pelayan mengatakan kalau Nona nya izin pergi keluar. Tapi, tak mengatakan kemana. Bahkan Nona mereka menaiki taxi online.
"Kenapa kalian biarkan istri saya pergi sendiri?! Kalian tahu kan, kalau istri saya lagi hamil." Bentak Keindra kepada seluruh pekerja diMansionnya.
Semua pekerja menundukan kepalanya. Mereka takut akan kemarahan Tuannya.
Sementara Disebuah Mal ....
Wanita hamil yang di jadwalkan akan melahirkan di bulan depan itu lagi asyik berbelanja di mal, ia membeli segala keperluan untuk bayi nya nanti.
Tadinya ingin mengajak sang suami, namun suaminya itu terlalu sibuk.
Hampir semua toko perlengkapan bayi di masuki oleh Mega. Setiap toko ia membeli banyak perlengkapan sang bayi.
Entah bagaimana caranya ia membawa semua belanjaannya. Karena bingung, Mega menghubungi suaminya. Menyuruh sang suami untuk menjemputnya di mall.
__ADS_1
Kring...kring...kring...
"Halo mas, jemput aku di mal Indah ya? Cepatan." Mega langsung memutuskan panggilannya.
Belum lagi Keindra menjawabnya sudah di putus. Keindra menghela nafasnya kasar. Ternyata istrinya berada di mall.
Tanpa menunggu lama, Keindra langsung bergerak menuju mal. Bahkan Kei tak mengganti pakaiannya. Ia masih mengenakan pakaian rumahnya. Memakai kaos hitam polos dan celana pendeknya.
Sampai di mall. Semua mata memanda Keindra, pria yang datang kemal dengan memakai baju rumahan biasa namun tetap terlihat tampan dan seksi. Keindra tak menghiraukannya. Ia terus saja berjalan menuju dimana sang istri berada.
Mega berada dilantai tiga. Tampak banyak paper bag yang tersusun rapi di bawah kakinya. Keindra hanya menggelengkan kepala saja. Istrinya itu kalau lagi sensi selalu belanja over. Keindra tak mempermasalahkannya.
"Yank...banyak banget belanjaan nya?" tanya Keindra.
"Lagi kesel." Jawab Mega ketus.
"Ngambek ya? Maaf ya sayang. Tadi mas cuekin kamu." Keindra tulus mengatakannya.
"Terus aja gitu mas. Biar uang kamu aku habisin." Serunya sinis.
Keindra hanya terkekeh, bukan hanya kali ini saja, istri nya menghabiskan uangnya. Setiap kali ngambek pasti obatnya belanja.
"Ck. Habisin aja Yank. Kan mas kerja buat kamu." Seru Keindra santai. Kei membantu sang istri membawa kan belanjaan sang istri.
Mega jalan duluan disusul Keindra dibelakangnya dengan membawa banyak belanjaan.
Sampai didalam mobil, masih belum ada yang ingin berbicara. Hening. Keindra melirik sang istri yang duduk di sampingnya.
"Masih ngambek? Atau, masih mau shopping lagi?" tanya Keindra santai.
"Capek. Laper." Ucap Mega masih ketus.
"Ok. Kita makan ya? Mau makan apa kamu Yank?" tanya Keindra. Pria itu memang menghadapi sang istri dengan santai tak ingin istrinya itu semakin ngambek.
"Mau makan di Restoran paling mahal?!" masih dengan nada ketus.
"Baiklah Tuan putri laksanakan." Rafi melajukan mobilnya menuju Restoran yang diminta sang istri.
__ADS_1