
Ditempat lain.
Rio masih menghadiri meeting penting sudah tiga jam meeting berlangsung tapi belum juga menemukan titik terang yang pas. Rio sudah ingin pulang. Belakangan ini laki - laki ini emang kerap kali merindukan istrinya dimanapun dia berada. Rio ingin sekali mengakhiri meeting yang membosankan ini.
Sedang asyik mendengarkan persentasi yang dijelaskan ponsel Rio berbunyi, Ia melihat ada nama adik iparnya Keindra dilayar ponselnya. Rio meminta izin kepada peserta rapat untuk menjawab panggilan dari ponselnya takutnya penting. Rio berbisik kepada Morgan sang asisten. "Morgan, saya jawab telpon bentar ya?"
Morgan mengangguk mengiyakan. Rio berdiri dari duduknya dan sedikit menjauh dari semua peserta meeting.
"Iya Kei ada apa? Mas lagi meeting Kei." ucap Rio berbisik. Rio mendengar suara keributan dari tempat Keindra.
"Mas, cepatan pulang, kak Alya mau lahiran. Sekarang udah dirumah sakit." Seperti ada yang menyambar Rio dengan dasyat. Ia langsung panik dan berlari keluar dari ruang meeting begitu saja. Tanpa sempat berpamitan pada semua koleganya. Pikirannya sudah di penuhi oleh Alya dan banyak kemungkinan lainnya.
__ADS_1
Morgan sang asisten, mengikuti Rio. "Rio, kenapa Lo?" tanya Morgan bingung. Ia melihat sahabat sekalugus Bos nya itu sangat panik.
"Gan, istri gue mau lahiran?!!" ucap Rio panik.
"Tenang Rio, gue temani Lo." mereka berdua menuju parkiran mencari mobil Rio diparkir.
Sangkin paniknya Rio lupa dimana letak mobilnya di parkir. "Gan, mobil gue dimana?!!" teriaknya panik.
"Ck. Tenang Ri, mobil lo ada diujung." ucap Morgan sambil menunjuk arah dimana mobil Rio diparkirkan. Setelah menemukan mobilnya Rio dan Morgan segera menuju kerumah sakit. Rio sangat panik dan dari itu Morgan yang menyetir mobilnya. Setelah beberapa menit keluar dari tempat parkir Rio baru ingat bahwa Keindra belum memberitahukan nama Rumah Sakitnya Rio sudah terlebih dahulu menutup panggilannya.
"Halo Kei, rumah sakitnya yang mana?" ucap Rio dengan nafas memburu. Begitu Kei memberitahukan alamat rumah sakitnya, Rio memberitahu Morgan arahnya dan Morgan langsung membelokan mobilnya dan melaju kesana dengan cepat. Semog saja anaknya belum lahir. Sepanjang jalan ia merapalkan doa pada sang Maha Kuasa semoga semuanya selamat. Sebab Rio tidak akan sanggup jika sampai terjadi hal - hal yang buruk pada salh satunya atau bahkan keduanya. Dia bisa saja gila mungkin.
__ADS_1
"Papa harap tunggu papa datang nak" gumamnya. Morgan melirik sang sahabat, ia merasa bangga dengan sahabatnya begitu menyayangi istrinya. Apa seperti ini rasanya ketika istri yang kita sayangi akan melahirkan. Morga sudah tak sabar menunggu momen itu. Istri tercinta Morgan lagi mengandung juga, bahkan Reina istri Morgan mengandung baby twins. Betapa bahagianya Morgan.
Mobil mereka sudah sampai di parkiran rumah sakit. Morgan pun memarkirkan mobilnya. Dengan gerak cepat Rio turun dari mobil dan berlari menyusuri lorong rumah sakit. Sedangkan Morgan di tinggal dibelakangnya. Morgan membiarkan sahabatnya berlari duluan.
Setelah berputar putar tak kunjung menemukan ruangan istrinya, alhasil Rio mendekati seorang suster dan bertanya kepadanya.
"Maaf Sus, ruang bersalin atas nama ibu Alya di sebelah mana ya?" Suster yang ditanya Rio tersenyum dengan ramah.
"Bapak suami ibu Alya ya?" Rio mengangguk antusias..
"Mari saya antar, kebetulan proses bersalinnya belum berlangsung." ucap sang suster. Rio mendesah dengan lega. Mengucap syukur berkali - kali. Karena semenjak Alya hamil, cita - cita Rio yang paling tinggi adalah berada di samping istrinya saat melahirkan.
__ADS_1
"Sebelah sini pak silahkan." Suster menunjukkan tempatnya. Rio tersenyum dan mengucapkan terimakasih pada suster kemudian langsung melesat masuk.
bersambung.......