Cinta Seorang Single Daddy

Cinta Seorang Single Daddy
S3. Part 74


__ADS_3

"Maafkan aku kak, aku kesini ingin meminta maaf kepada kakak dan Rachel." Seru Rindi menunduk malu.


Ivan ingin sekali tertawa. Melihat wajah sang adik yang takut dan malu. Akhirnya sang adik menyadari kesalahannya. Mudah - mudahan adik kesayangannya ini tulus meminta maaf.


"Kak...." ucap Rindi pelan dan menunduk.


Ivan berjalan mendekat, sementara itu Rachel takut kalau sang suami akan marah akan kedatangan Rindi. "Mas..." bisik Rachel memanggil.


Ivan tak mendengarkan bisikan istrinya. Ia terus saja berjalan kearah Rindi.


Rindi dapat melihat kaki sang kakak sudah berada dihadapannya. Tak berani mendongakan kepalanya.


"Kenapa kesini? Mau mengganggu lagi?!" tanya Ivan datar.


Rindi menggeleng sambil menunduk, tidak berani mengangkat kepalanya.


"Jawab dong?! Mau apa kemari?" bentak Ivan lagi. Sebenarnya Ivan hanya menggertak sang adik. Ia tahu kalau adiknya itu bena benar ingin minta maaf.


"Kak...aa....aku, mi..minta maaf. Aku, ingin berdamai?" bisik nya lirih masih menundukan kepalanya.


"Kalau ngomong itu tatap mata kakak!" ucap Ivan membentak.


Dengan perlahan Rindi mengangkat kepalanya. Ia menatap wajah kakaknya.

__ADS_1


"Katakan lagi kau ingin apa?! tanya Ivan lagi.


"Hiks...aku minta maaf kak. Aku .... gak mau sendirian." Rindi tak tahan lagi, air matanya kini mengalir sudah.


"Hiks....hiks...maaf." isaknya lagi. Dan Rindi menundukan kepalanya lagi.


Ivan tak tega melihatnya begitupun Rachel.


Wanita hamil itu mendekati suaminya dan mengelus lengan Ivan. "Mas...maafkan Kak Rindi mas." pinta Rachel.


Ivan tersenyum menatap sang istri. Dan Mengedipkan matanya. Tandanya ia hanya ingin mengetes adiknya.


Rachel pun mengerti, wanita hamil itu pun tersenyum. Suaminya itu memang sungguh sangat jahil sekali.


"Aku tulus meminta maaf kak. Aku tak ingin menyimpan dendam lagi kak." Ucap Rindi masih dengan isakannya.


"Kenapa bisa?" tanya Ivan lagi.


"Hiks...aku tulus kak." isaknya.


Ivan menarik tubuh adiknya dan mendekap kedalam pelukannya. "Kakak percaya sama kamu dek. Kakak senang kamu tidak dendam lagi. Kita keluarga dek." Seru Ivan memeluk sang adik.


Akhirnya kakak adik itu berbaikan. Rachel sungguh sangat bahagia, sahabat terbaiknya sudah memaafkannya juga. Melupakan semua kesalahan masa lalu.

__ADS_1


Mereka bertiga berpelukan. Sangat bahagia.


...****...


Sebulan kemudian.....


Detik detik junior dari Ivan akan lahir. Bulan ini perkiraan Rachel akan melahirkan. Ivan akan menjadi suami siaga. Untuk masalah pekerjaan Ivan bisa mengerjakannya dirumah saja. Untuk menemani istrinya.


Mama Alya dan papa Rio juga sudah menetap di Mansion Ivan. Mereka ingin menjaga anak perempuan mereka.


Dimalam hari, seluruh penghuni Mansion sudah terlelap. Suasana begitu senyap dan sepi. Tidak dengan Rachel, dia sungguh gelisa tak bisa tidur, bahkan Rachel merasakan perutnya sangat mulas dan sakit. Sakitnya tak hilang - hilang.


"Sshhtt...Aduh...anak mama uda gak sabaran Ya? Tenang dulu dong Nak." Seru Rachel meringis.


Sungguh sangat sakit sekali. Rachel ingin membangunkan sang suami. "Mas..." bisik Rachel lirih. Untuk memanggil suaminya saja dia tak sanggup.


"Ma...mas...sakit..."Rachel terus meringis kesakitan.


Suaminya Ivan tak juga mendengar panggilannya. "Mas...sakit." Panggil Rachel sedikit meninggikan suaranya.


Ivan menggerakan tubuhnya, sambil memejamkan matanya Ivan berkata. "Di elus saja sayang." gumam Ivan, namun tak kunjung membuka matanya.


"Masss....Mas Ivan?!! Sakit mas...anak kita mau lahir ini!!" teriak Rachel akhirnya. Sungguh tak kuasa sangat sakit sekali.

__ADS_1


Ivan langsung duduk diatas ranjang. Nyawanya masih belum terkempul semua.


__ADS_2