
Pasangan Keindra dan Mega lagi menuju tempat spesial yang sudah di siapkan oleh Keindra.
Di pertengahan jalan, tiba - tiba turun hujan yang sangat deras sekali. Seketika Keindra mendengus kesal. Bakalan gagal semua rencananya. Keindra menepikan mobilnya di tepi jalan. Ternyata ponselnya bergetar. Asisten pribadi sekaligus sekretarisnya di kantor menchat nya. Mengatakan, kalau semuanya berantakan.
Keindra serasa lemas membaca pesan itu. Gagal. Mau membuat suasana romantis malah gagal.
"Kakak? Kenapa?" tanya Mega. Mega melihat Keindra begitu kesal.
Keindra menyandarkan kepalanya di setir mobil. "Sayang....maaf?" ucap Keindra memelas.
"Maaf untuk apa Kak?" tanya Mega bingung.
Keindra membuang nafas perlahan. "Mega..."Sambil merogoh saku celananya dan Keindra mengekuarkan hadiahnya.
"Mega...kakak, gak tau harus mulai dari mana. Kakak, gak ingin kehilangan kamu, kakak sudah memantapkan hati kakak untuk memilih kamu. Maukah kamu menjadi pendamping hidup mas? Menjadi ibu dari anak anak kita nanti? Will You Marry Me?" Keindra melamar Mega. Pria itu memberikan sebuah kalung berlian untuk Mega. Seharusnya kalau melamar itu, memberikan sebuah cincin. Namun, Keindra memberikan yang berbeda, ia memberikan Mega kalung.
Mega begitu terharu. Pria yang dulu begitu Arogan dan dingin. Pria yang dulu selalu ia ikutin kemana pun. Pria yang dulu ia kejar kejar cintanya, walau sempat menyerah, namun Mega tetap bertahan. Kini pria itu melamarnya, sungguh luar biasa, cintanya tak bertepuk sebelah tangan. Cintanya sudah di balas oleh pria itu.
"Sayang..." bisik Keindra.
Mega masih belum percaya. Ia menatap wajah tampan Keindra, melihat mata nya, mata itu menunjukan ketulusan. Kalau seperti ini, Mega tak akan menyia - nyiakan kesempatan. Ia mengangguk, menerima lamaran pria itu. "Yes I Will ...." jawab Mega terharu.
"Terimakasih sayang...maaf, kakak Kasih kalung bukan cincin." seru Keindra. Pria itu membuka kotak panjang itu. Pria itu memakai kan kalung itu ke leher sang calon istri.
"Pas banget Yank...Cantik banget." seru Keindra tersenyum bangga.
"Terimakasih kak." Mega langsung memeluk Keindra dengan erat. Ia sungguh bahagia sekali. Air mata kebahagian itu pun mengalir juga.
Keindra melerai pelukannya. Ia menangkup kedua pipi sang kekasih. Ia berikan kecupan di bibir merah nan mungil itu. ********** sedikit, merasakan manisnya bibir itu. Bibir yang akan menjadi miliknya dan akan menjadi candunya.
Lama kelamaan ciuman itu mejadi ciuman yang begitu panas. Cuaca sangat mendukung, hujan deras, udara yang dingin. Kedua sejoli itu masih berada di dalam mobil di tepi jalan. Keduanya masih menikmati dan merasakan ciuman mereka. Saling mengecap rasa.
Sampai keduanya kehabisan oksigen, dan melepas ciuman nya. Keduanya menyatukan dahinya. Tersenyum bahagia. "I Love You sayang..." seru Keindra.
__ADS_1
"Love you too Kak." Sahut Mega.
Tadinya, Keindra ingin melamar Mega di sebuah Rooftop sebuah hotel mewah. Karena hujan turun begitu derasnya beserta angin . Semua rencana yang disusun oleh Keindra gagal. Tempat yang sudah di hias pun telah berhamburan. Dan berakhir lamaran di dalam mobil saja.
Mendengar cerita itu, Mega tersenyum saja. Tak menyangka, ternyata Keindra sudah menyiapkan semuanya.
"Kita, kerumah mama dan papa kamu ya? Kakak ingin meminta restu." ucap Keindra tulus sambil mengelus pipi Mega.
"Iya kak." sahut Mega bahagia.
*******
Sementara itu, seorang wanita cantik, ia kehujanan. Berhenti di sebuah halte. Mobil yang di kendarainnya tiba - tiba saja mogok. Hujan semakin deras saja. Untungnya halte itu ramai orang - orang. Jadi, wanita itu tak takut. Ia mencoba berkali - kali menelpon sang kekasih, namun tak kunjung di angkat. Ia juga mengirim pesan kepada kekasihnya. Sama, terkirim tapi tak dibalas. Kemana kekasihnya itu.
Gadis itu, teringat akan sebuah nama. Dimana nama itu selalu ada ketika ia kesusahan. Gadis itu mencoba menelpon nya. Sama saja, tak ada jawaban. Gadis itu sungguh kesal dengan kedua pria itu. Tak ada jawaban sama sekali.
Akhirnya, gadis itu menelpon sang papa. Meminta bantuan, untuk menjemputnya. Dan, untungnya sang papa menjawab telponnya.
Tak butuh waktu lama, mobil sang papa telah sampai. Papa Rio menjemput Rachel bersama dengan supir. Rio tak berani untuk menyetir sendiri ketika hujan begini.
Rachel segera masuk ke dalam mobil. Wajahnya di tekuknya.
"Kok cemberut gitu kamu? Kenapa?" tanya papa Rio lembut.
"Sebel pa, tadi, Rachel nelpon mas Ivan, terus gak ada jawaban. Terus, juga tadi Rachel nelpon kak Kei, gak ada jawaban juga. Sebel banget sih." ketus Rachel.
"Ya udah, mungkin keduanya lagi sibuk sayang...yang penting kamu udah papa jemput ya." ucap papa Rio menenangkan.
*******
Di sebuah Hotel.
Sepasang kekasih, lagi memadu kasih di atas ranjang king size hotel. Kedua nya berpacu mencapai kenikmatan. Sudah entah berapa kali mereka lakukan. Saling memberi dan menerima. Sangkin menikmati, suara ponsel berdering pun tak dengar.
__ADS_1
Ivan, pria dari pasangan wanita yang berada di bawah kungkungannya itu. Tak mendengar ponselnya berdering. Ia sungguh menikmati wanita itu. Entah berapa kali melepaskan.
Entah berapa jam mereka lewati, dan akhirnya, keduanya sama sama melepaskan kenikmatan itu. Ivan sang pria ambruk di atas tubuh polos kekasihnya. Tubuh keduanya sama sama polos. Keduanya berbanjirkan peluh.
Ivan mengatur nafasnya, kini ia sudah berbaring di samping wanitanya. Memejamkan matanya sesaat, terlintas nama Rachel di otaknya. Ia menghela nafas, kenapa setiap kali bercinta dengan Sisil selalu saja ia memikirkan Rachel. Ada apa dengan dirinya. Di tatapnya wanitanya, Sisil sudah terlelap, sangkin lelahnya.
Ivan bangkit dari tidurnya, dan memakai celana boxer nya saja. Ia mengambil ponselnya di atas nakas. Betapa terkejutnya ia, banyak sekali panggilan tak terjawab. Ternyata kekasihnya yang satu lagi yaitu Rachel telah menelponnya berkali kali. Ada rasa bersalah di dirinya. Ketika membaca pesan yang masuk. Rachel memintanya, untuk menjemput di Halte, karena ia sudah kehujanan dan kedinginan.
Ivan ingin menjemput Rachel, bahkan ia sudah memakai pakaiannya dengan rapi. Ketika ingin melangkahkan kakinya. Sisil terbangun dari tidurnya.
"Sayang...." bisik Sisil.
Ivan memberhentikan langkahnya.
"Kau sudah bangun?" seru Ivan.
"Hmmm....kau mau kemana?" tanya Sisil.
"Aku, akan keluar sebentar, tetap lah disini, jangan kemana mana. Nanti aku kembali." ujar Ivan.
Ivan megambil kunci mobilnya. Dan bergegas keluar dari kamar hotel itu.
Ceklek....
Brakk....
"Sayang...?!" teriak Sisil. Wanita itu sangat kesal sekali, Ivan tidak mendengar teriakannya. Ia tahu, pasti Ivan terburu buru ingin bertemu dengan Rachel.
"Awas kau Rachel...aku tau, pasti kau yang meminta Ivanku datangkan?" gumam Sisil geram.
Bersambung....
Jangan lupa VOTE ya....
__ADS_1