
Rindi masuk kedalam Mansion dan duduk di sofa ruang tamu. Sementara itu, pelayan memanggil Ivan.
Tok...tok...tok...
Ceklek...
"Permisi Tuan, ada Nona Rindi." Seru pelayan.
Ivan memgernyitkan dahinya, Rindi adiknya datang? Ivan mengepalkan kedua tangannya. Mau apalagi adiknya itu.
Ivan menutup pintu kamar dengan pelan, ia tak ingin membangunkan istrinya yang lagi tidur karena kelelahan akibat pergumulan disiang hari mereka.
Ivan menuruni anak tangga dengan menahan emosinya. Di anak tangga terakhir Ivan bisa melihat Rindi sang adik duduk.
"Ada apa kemari?!" tanya Ivan marah.
"Duh...kakak tersayangku. tenang dong. Duduk dulu sini." ajak Rindi sambil menepuk sofa disampingnya.
Ivan tak menurutinya, ia duduk di sofa lainnya. "Jangan banyak basa basi. Ada apa? Katakan?!" tanya Ivan tak suka.
"Mana, istri tercinta kakak?" tanya Rindi mengejek.
"Rindi, kakak mohon. Stop. Jangan ganggu kakak lagi. Biarkan kami bahagia." Ucap Ivan memohon.
"Ck. Kakak ku sayang. Takut banget sih, tenang dong." ejek Rindi.
"Kakak mohon Rin. Tolong...jangan ganggu lagi. Lupakan dendam kamu." mohon Ivan lagi.
"Gak akan kak. Aku harus tetap balas semua kesakitan mama kak. Aku gak rela, mereka bahagia diatas penderitaan mama. Aku gak rela!" teriak Rindi menggebu.
Ivan menarik nafas dalam dan menghembuskannya. "Sebaiknya kamu pergi dari rumah kakak!" paksa Ivan. Pria itu menarik tangan Rindi untuk segera keluar.
__ADS_1
"Lepaskan aku kak?! Aku ini adik kamu.!" teriak Rindi minta dilepaskan.
Ivan tak menggubris teriakan Adiknya, ia tetap menarik Rindi untuk keluar. Sampai di depan pintu, Ivan menghempaskan Rindi sampai hampir terjatuh.
Dengan teganya Ivan membanting pintu.
Brakkkk....
"Kakak?!! teriak Rindi lagi.
Ivan tak ingin emosinya berlangsung, karena ia tak ingin istrinya tahu dengan kedatangan Rindi ke Mansion.
Ivan bergegas kekamar untuk bersama istrinya.
Sementara Rindi di luar, berteriak memanggil sang kakak. Ia tak terima diperlakukan seperti ini. Diusir secara paksa.
"Kak Ivan! Buka pintunya!" teriak Rindi lagi.
Ivan tak memperdulikan teriakan Rindi, pria itu tak ingin adiknya itu mengganggu rumah tangganya. Ivan harus cepat kekamar menemui sang istri.
Ceklek....
"Mas...darimana aja. Dibawah ribut ribut ada apa?" Rachel terbangun dari tidurnya karena terdengar suara ribut.
"Gak apa sayang, tadi pak RT dan warga lain. Mereka minta sumbangan untuk membangun Mesjid." ucap Ivan bohong.
"O. ...mas...peluk lagi." Rachel merentangkan kedua tangannya minta dipeluk.
Ivan terkekeh geli, istrinya sungguh menggemaskan sekali. Tanpa menunggu lama, Ivan menyambut pelukan istrinya.
***
__ADS_1
Rindi terus saja memukul setir mobilnya dan mengumpat kasar. "Brengsek....awas kau Rachel, kali ini kau bisa lepas. Tunggu saja waktunya." Geram Rindi.
Rindi melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi dengan perasaan kesalnya. Tujuannya sekarang adalah tempat Sisil. Mungkin Sisil bisa membantunya.
Sampai disebuah apartemen cukup mewah. Rindi memarkirkan mobilnya di basment. Masih dengan perasaan kesalnya Rindi berjalan cepat menuju unitnya Sisil.
"Ssshhtt...sayang...kau...sungguh nikmat." Ucap pria yang berada diatas tubuh polos Sisil. Keduanya lagi menjeput kenikmatan. Pria itu terus mengentakan miliknya ke milik Sisil.
"Akhh..." Sisil mendesah nikmat.
***
Rindi berjalan dengan gontai menuju unit Sisil. Didepan pintu Rindi menekan bel.
Ting.....tong..
Rindi sangat kesal, karena Sisil tak kunjung membuka pintunya. "Sisil?!!" teriak Rindi.
"Kemana ****** itu?!" ucap Rindi kesal.
***
Sementara itu.
Kedua pasangan mesum itu telah menyelesaikan ritual mereka. Sungguh sangat melelahkan tapi nikmat bagi keduanya. Setiap kali bertemu mereka selalu seperti itu.
Ting...tong...
Rindi terus menekan bel pintu aprtemen Sisil, sambil meneriaki Sisil.
"Sisil?!!" teriak Rindi membabi buta.
__ADS_1