Cinta Seorang Single Daddy

Cinta Seorang Single Daddy
S3. Part 27


__ADS_3

*Ceklek.....


Ivan membelalakan matanya, ia sungguh terkejut dan panik. Sang adik terbaring di dalam bathup yang terisi air, dan pergelangan tangannya berdarah.


Dengan langkah cepat Ivan menghampiri sang adik. Ivan sungguh tak menyangka Rindi melakukannya. "Dek...bangun sayang, jangan seperti ini. Bangun...!" Ivan menangis melihat keadaan Rindi.


Dengan cepat Ivan menggendong Rindi, ia membawanya kerumah sakit. Sebelum terlambat. Dengan kecepatan tinggi, Ivan melajukan mobilnya untuk menuju rumah sakit.


Ivan sungguh takut kehilangan Rindi. Jangan lagi, ia tak akan sanggup di tinggal lagi.


Sampai di rumah sakit.


Ivan menggendong Rindi. "Tolong adik saya!!" Ivan berteriak memanggil suster.


Rindi dibawa keruangan UGD. Ivan sungguh sangat takut. Ia mondar mandir di depan ruangan UGD, menunggu dokter keluar*.


Dokter keluar dari ruangan pemeriksaan Rindi.


"Bagaimana keadaan adik saya Dok?" tanya Ivan panik.


"Untung anda cepat membawanya ke rumah sakit. Kalau tidak, akan membahayakan adik anda." jelas Dokter.


Ivan bernafas lega. Adiknya tidak apa apa. Dokter memindahkan Rindi keruangan VIP. Untuk dirawat beberapa hari.


Ceklek....

__ADS_1


Ivan masuk kedalam Ruangan Rawat Rindi. Ia sedih melihat sang adik terbaring lemah di atas brangkar tempat tidur pasien. Dengan langkah gontai, Ivan mendekati brangkar sang adik. Duduk di samping sang adik.


"Maafkan kakak. Jangan seperti ini lagi...hiks. Jangan tinggalin kakak...." isaknya.


Rindi mengerjapkan matanya. Rindi menatap sang kakak. "Kakak..." bisik Rindi lirih.


"Dek...makasih mau bertahan dek. Jangan buat gini lagi." seru Ivan sedih.


"Aku, akan berbuat seperti ini. Kalau kakak tak mau melakukan yang aku pinta." ucapnya dingin dan datar.


Ivan mengusap wajahnya kasar. Ivan bingung harus berbuat apa. Ia tak ingin kehilangan sang adik. Mau tak mau, akhirnya ia akan mengabulkan permintaan sang adik.


Ivan mengangguk pelan. "Iya..." sahut nya.


Rindi tersenyum kemenangan. Akhirnya, ia bisa membalas rasa sakit mamanya.


**********


Ivan, sungguh sangat dilema saat ini. Masih duduk di atas ranjang. Mengingat permintaan sang adik. Dan ia sudah melakukannya.


Ivan ingin pergi ke Mansion utama. Ingin bertemu dengan Rindi. Ingin melihat keadaan sang adik. Ivan sudah mengenakan pakaiannya tanpa membersihkan tubuhnya.


"Sayang...mau kemana?" tanya Sisil.


"Aku ingin Ke Mansion. Tunggu saja disini." ucapnya datar.

__ADS_1


Ivan melangkahkan kakinya menuju pintu. Bahkan, ia mengabaikan teriakan Sisil.


******


Yang paling bahagia saat ini adalah pasangan Keindra dan Mega. Sebentar lagi keduanya akan resmi menjadi sepasang suami istri. Keindra kini sangat posesif sekali sama Mega. Kekasihnya itu tak boleh pergi kemana pun, kalau bukan Keindra yang menemaninya.


Setiap Keindra ingin ke kantor, Mega selalu di bawa olehnya. Sampai kuliah Mega terganggu.


"Kakak...kenapa harus ikut sih?" tanya Mega manja. Sekarang ini Mega di jemput oleh Keindra. Berhubung Keindra ada meeting di Restoran.


"Harus sayang... Kakak gak bisa jauh jauh dari kamu." seru Keindra.


Mega mencibikan bibirnya. Walaupun memasang cemberut, Mega tetap ikut.


Keindra, selalu menggenggam erat tangan Mega. Dan sesekali ia mencium punggung tangan sang kekasih.


Dengan bangganya Keindra memperkenalkan Mega ke klien klien Keindra.


"Selamat Datang Tuan Keindra." sapa Tuan Smith, salah satu klien Keindra.


"Terimakasih Tuan Smith." sahut Keindra.


"Apa anda, sekretaris baru Tuan Kei? Cantik sekali." tanya Tuan Smith.


Keindra terkekeh. "Wanita cantik ini, calon istri saya Tuan Smith." ucap Keindra dengan bangga.

__ADS_1


"Wah...Anda sangat hebat Tuan. Pasangan yang cocok." seru Tuan Smith.


__ADS_2