Cinta Seorang Single Daddy

Cinta Seorang Single Daddy
122


__ADS_3

Kini kehidupan Ricko hampa. Semenjak bercerai dengan Shinta sifatnya yang ramah sekarang menjadi pribadi yang dingin dan penuh amarah. Karyawan di kantornya, yang sedikit saja berbuat kesalahan ia langsung memarahinya. Apalagi berbuat kesalahan yang fatal dengan teganya dia langsung memecatnya.


Setiap harinya Sandra datang untuk mengantarkan makan siang untuk Ricko. Walaupun setiap Sandra datang selalu saja ada penolakan dari Ricko. Entah itu Sandra yang tidak di izinkan masuk atau makanan yang dibawa Sandra tidak dimakan Bahkan makanan itu selalu dibuang Ricko. Begitulah Ricko sikapnya terlalu kejam.


Sandra kecewa dengan perlakuan Ricko terhadapnya. Ricko mau menikahinya dengan beberapa perjanjian. Ia mau menikah dengannya dengan syarat , tidak perlu tinggal bersama dan setelah anak yang dikandung Sandra lahir mereka akan bercerai. Dan anak itu akan tinggal bersama Ayahnya yaitu Ricko.


Kejam? Ya, memang sangat kejam. Ricko menutup hatinya untuk seorang wanita termasuk Sandra.


"Mas, aku terima syarat yang mas ajukan itu. Asal anakku mnedapatkan status yang jelas." Ucap Sandra lirih. Karena begitu mencintai Ricko dia rela.


Ricko menatap jijik kearah Sandra. "Baiklah, minggu depan kita akan menikah. Dan kita akan hidup masing - masing. Tapi kau tenang saja aku akan membiayai kehidupanmu selama kita menikah." Ucap Ricko tegas tanpa melihat kearah Sandra.


Sakit rasanya. Tapi Sandra akan lakukan demi anaknya. "Iya mas."


**********


Kata Dilan. Jangan Rindu, berat. Biar aku saja.


Benarkah rindu itu berat ? Bagi Miko, rindu itu seperti sebuah penyakit. Penyakit yang akan mampu membuat hati gelisah tak menentu. Rindu itu mampu membuat seorang sakit kepala dan candu.

__ADS_1


Begitulah Rindu yang dirasakan Miko. Dan sepertinya ia merindukan Shinta. Sejak seminggu yang lalu Miko tampak lesu. Pasalnya sudah sebulan ini ia sangat jarang bertemu Shinta.


Entah nagaimana kabar Shinta sekarang. Apa dia sehat ? Apa terjadi sesuatu dengannya ?


Siang ini Miko dihubungi Reyhan untuk datang kerumah mereka. Entah untuk acara apa, namun Reyhan berpesan kalau dirinya tak datang, mungkin akan menyesal. Sejak kapan seorang Reyhan punya hobbi mengancam orang?


Miko kembali memainkan ponselnya, ia menatap layar ponsel yang ada gambar Shinta. Wanita yang sangat dirindukannya. Hanya foto itu lah yang dia miliki.


"Kamu dimana Shinta?" tanya Miko lesu. Hatinya merindu. Sangat Rindu.


Miko menghela nafasnya. Dari pada seperti ini lebih baik dia pergi kerumah Reyhan. Setidaknya bermain dengan Alya princes kecil Reyhan akan membuatnya sedikit terhibur.


Shinta sudah ada dirumah Laras dan Reyhan sejak semalam. Ternyata hilangnya Shinta selama ini hanya untuk mengurus kepindahannya keluar negeri. Kebetulan tantenya Shinta berada diluar negeri. Tepatnya di Negara Amerika.


Keputusan Shinta sudah bulat ia akan pergi ke Amerika. Ia ingin melupakan Indonesia sejenak. Segala rasa pahit yang ia alami disini.


"Berapa lama kamu di Amerika Shin?" tanya Reyhan yang masuk kedapur.


"Belum tahu mas. Tapi, kata tante Dewi selamanya. Ia ingin aku nemani dia disana." Jelas Shinta tanpa meihat Reyhan.

__ADS_1


"Trus kehidupan kamu disini gimana ?" tanya Reyhan lagi.


Shinta terhenti. Laras langsung menatap Reyhan. "Aku gak ada kehidupan lagi disini kak." Lirih Shinta.


"Sipa bilang? Lo gak ingat gue? Mas Reyhan? Alya, Keindra? Dan mas Miko gimana?" Suasana seketika sunyi saat Laras selesai berbicara.


Terdengar hembusan nafas kasar dari Shinta. Dengan lesu, Shinta meletakan nampan yang tadi ia pegang diatas meja dapur dan berjalan menuju meja makan dan ia pun duduk.


"Gue gak tahu. Gue bingung. Apa yang bisa gue lakukan disini? Gua udah hancur...." Ucapnya lirih. Laras yang mendengarkan ucapan Shinta merasa sakit dan terluka.


"Kamu bisa kerja disini Shin. Trus butik Lo gimana?"


"Gak Ras, gue gak mau nyusain lo sama mas Reyhan. Terus masalah butik. Butik itu bukan butik gue. Itu milik mas Ricko.


"Lo gak nyusain kita Shin. Alya juga pasti akan mencari Lo. Anak gue udah sayang banget sama lo Shin. Please jangan pergi. Gue butuh lo disini." Ucap Laras memelas. Ia tak ingin sahabatnya itu pergi.


"Tapi..."


"Shinta?!!" mendengar teriakan dari pintu dapur, baik Shinta, Reyhan maupun Laras langsung melirik kebelakang.

__ADS_1


__ADS_2