
Sedangkan di tempat lain, Silvi dan Evan sedang berpesta ria. Usaha mereka untuk mengacaukan pikiran Reyhan ternyata berhasil.
Namun sampai saat ini Laras belum bisa di jangkau oleh Silvi membuat wanita itu nyaris frustasi. Sebegitu cintanya kah Reyhan dengan wanita sialan itu? Sampai pria itu rela kacau sendirian dan tak mengizinkan Laras tau permasalahannya.
"Kau bisa bayangkan Evan seberapa gilanya Reyhan sekarang." seru Silvi dengan senyum iblisnya.
Evan menatap Silvi dengan tatapan meremehkan. "Ini belum seberapa Sayang, kau belum bisa menyentuh istri kesayangannya , jadi itu artinya kau masih lemah." ejek Evan sambil menggoyang - goyangkan gelas yang ada di tangannya.
"Kita lihat saja nanti. Kita tunggu tanggal mainnya."
"Hahahahaha!. Kau memang iblis sayang."
Evan mendekati Silvi dan merengkuh tubuh wanita itu erat. Kiltan nafsu terpancar dari mata Evan dan sedetik kemudian semuanya berubah menjadi erangan dan desahan.
Ya, Silvi memang terus memanfaatkan Evan dengan cara membuatnya tergila- gila padanya dengan menghandalkan tubuhnya. Agar pria itu mau membantu semua rencananya.
Cukup lama mereka bermain, bahkan Evan tak pernah bermain lembut. Namun itu membuat Silvi semakin bernafsu. Wanita itu sungguh sudah gila. Di sebut apa untuk menggambarkan sosok Silvi saat ini?
__ADS_1
Silvi kembali memasang pakaiannya sambil menatap Evan yang masih memainkan miliknya di atas ranjang.
"Kau tak lelah?Kita sudah bermain cukup lama." ucap Silvi jengah.
Tubuh Evan tak seindah tubuh Reyhan. Evan tidak memiliki perut yang berotot seperti Reyhan. Tapi wajah Evan tak kalah tampan dari Reyhan. Walaupun masih tampanan Reyhan kemana - mana.
Tapi Evan memiliki keperkasaan yang sangat besar, keras dan berurat. Dan itu semua bisa membuat memuaskan nafsunya juga. Walaupun tak senikmat hentakan Reyhan.
"Kau tak ingin lagi bermain denganku? Dia sudah siap kembali."
"Aku lelah. Kau sudah bermain berapa ronde dan sekarang aku lelah." ucap Silvi jengah yang sudah selesai memakai pakaiannya.
Evan tak peduli, pria itu berdiri dari tidurnya dan menarik Silvi menuju ranjang. Wanita itu memberontak kuat, bahkan tenaganya tak cukup untuk melawan tenaga Evan yang memang kuat.
Dalam hitungan detik, rok mini ketat yang digunakan Silvi tersingkap ke atas. Tanpa melepaskan celana dalam Silvi, Evan kembali menghujam miliknya ke dalam milik Silvi. Mereka pun melakukan kegiatan panas itu lagi.
BRAAKKK!!.
__ADS_1
Suara hantaman pintu yang terbuka membuat kedua orang itu terkejut, namun sedetik kemudian Evan melanjutkan kegiatannya. Tak peduli Silvi yang terus memberontak untuk di lepaskan.
Di depan pintu kamar itu kini tengah berdiri Shinta dengan tatapan yang nanar dan membunuh. Bagaimana tidak, di depan matanya ia melihat sepupu laki-lakinya sedang menikmati wanita yang telah membuat keluarga sahabatnya hampir hancur.
"KAK EVAN!!." teriak Shinta yang sangat geram melihat tingkah mereka.
Ia tak percaya Kak Evan sekarang tega mengkhianati istrinya sekaligus kakak ipar Shinta yang sedang mengandung anaknya.
"Lihat lah. Adik sepupu mu, sepertinya dia tidak suka kau menikmatiku." ejek Silvi dengan posisi di atas Evan.
"Jangan pedulikan dia sayang. Tenang kan saja juniorku ini. Cepat!!." Evan yang sudah tak tahan.
Dengan cepat mereka melanjutkan kegiatannya tadi sampai hentakan keras menandakan ia sudah sampai.
Shinta merasa emosi melihat adegan panas tersebut. Kakak sepupunya tega melakukan itu dirumahnya sendiri. Bagaimana nanti kalau kakak iparnya akan melihat ini semua dia pasti akan hancur. Melihat suami yang begitu dia cintai sudah mengkhianatinya.
Shinta begitu menyayangi kakak iparnya itu. Sudah dianggapnya sebagai kakak kandungnya sendiri.
__ADS_1
"Kalian sama - sama manusia bajingan, brengsek, tak tahu diri!!!." Shinta semakin histeris.
bersambung.....