
Semenjak Mega mendapatkan teror chat dan telpon dari seorang pria yang tak dikenal. Keindra posesif sekali. Setiap kali istri cantiknya memegang ponsel, Keindra selalu menanyakan.
"Yank...apa masih ada lagi yang menchat kamu?" tanya Keindra penasaran.
"Masih sih mas, ini..." Mega menunjukan ponselnya. Sudah ada banyak pesan yang masuk dan panggilan tak terjawab juga.
"Siapa sih ni orang?" ucap Keindra kesal. Sungguh Keindra dibuat kesal dan cemburu akan pesan dan telpon itu.
"Aku gak tahu mas. Aku juga kesal sama tu org. Sebelum kita pacaran, terus menikah, orang ini selalu mengirimi aku pesan mas." Seru Mega memberitahukan.
"Jadi, ini orang udah lama ganggu kamu?!" ucap Keindra sedikit meninggi.
Mega mengangguk. "Ck. Brengsek ni orang. Mas akan cari tahu siapa dia." kesal Keindra.
"Tapi mas, setiap aku telpon balik, dia gak pernah jawab. Terus aku telpon lagi. Nomornya nggak aktif. Terus lagi, besoknya ganti nomor lagi." ucap Mega kesal juga.
"Awas saja, kalau mas tahu siapa orangnya. Mas patahkan tangannya itu. Jangan ngusik punya mas dia." Ucap Keindra geram.
"Emang siapa punya mas?" tanya Mega menggoda. Mega sekarang suka sekali menggoda suaminya itu.
"Sayang ...."rengeknya. "Kamu itu, ya punya mas La." ucapnya manja.
"Manja banget suamiku sekarang?" ucap Mega terkekeh geli.
__ADS_1
Keindra memberikan senyum manisnya. Hidupnya sekarang sungguh bahagia sekali.
*****
Pasangan Rachel dan Ivan, lagi di perjalanan menuju Mansion papa Rio. Ivan ingin meminta restu kepada papa Rio dan mama Alya.
"Mas...aku takut..." ucap Rachel lirih.
"Tenang sayang ...ada mas." ucap Ivan. Pria itu menggenggam erat tangan kekasihnya. Kini mereka masih di dalam mobil menuju Mansion papa Rio.
Rachel sangat takut sekali bertemu dengan papa dan mamanya. Walaupun papa dan mama nya tak mengetahui dirinya hamil. Pasti, hari ini papa dan mamanya akan mengetahui sebenarnya.
Mobil yang di kendarain Ivan sudah berhenti di halaman Mansion papa Rio. Ivan melepaskan seat belt sang kekasih. Sebelum masuk kedalam, Ivan memberi ketenangan kepada Kekasih hatinya itu.
Rachel berkaca kaca, ia sungguh sangat terharu apa yang dikatakan kekasihnya itu. Ia bisa melihat di mata kekasihnya itu sebuah ketulusan.
"Mas...hiks." Rachel berhambur kepelukan Ivan. Rachel sempat meragukan Ivan, ia meragukan ketulusan Ivan. Ia berpikir Ivan hanya menginginkan tubuhnya saja. Tapi, nyatanya tidak, Ivan benar benar mencintainya.
Ivan mengajak Rachel masuk kedalam Mansion papa Rio. Ivan menggenggam erat tangan Rachel.
Ting...tong...ting...tong...
Ivan memencet bel Mansion. Pelayan Mansion membukakan pintu. Bibi Murti membuka kan pintu. "Nona Rachel?" seru Bibi Murti.
__ADS_1
"Bibi...papa ada?" tanya Rachel.
"Ada Nona. Mari silahkan masuk." ajak Bibi Murti.
Pasangan itu masuk dan duduk berdampingan di sofa. Rachel sangat gugup sekali. Ia seperti tak pernah bertemu dengan sang papa.
****
Diruang tv, Papa Rio, Mama Alya dan juga ternyata mama Rani nya Rachel lagi berkunjung ke Mansion. Mama Rani merindukan Rachel.
Bibi Murti datang menghampiri ketiganya. "Maaf Tuan, Nyonya. Nona Rachel dan den Ivan datang." ucap Bibi Murti memberitahu.
Mama Rani mengernyitkan dahinya. Apa ia tak salah mendengar, putrinya Rachel masih berpacaran dengan Ivan. Pria yang papanya telah ia rebut.
Papa Rio mengangguk. "Ya Bi. Suruh keduanya kesini saja." Seru papa Rio.
Bibi Murti mengangguk. Ia pun kembali ke tempat Nona Rachel dan Ivan.
"Nona, Tuan Rio, menyuruh Nona dan Den Ivan ke ruang tv saja." suruh Bibi Murti.
Keduanya mengangguk. Ivan menggenggam erat lagi tangan kekasihnya. Mereka berjalan menuju keruang tv.
Sampai diruang tv, Ivan dengan tiba tiba memberhentikan langkahnya dan mengepalkan tangannya. Darahnya mendidih, seperti ingin menerkam.
__ADS_1