
Acara makan malam di Mansionnya Rio dan Alya berlangsung dengan hangat. Seluruh keluarga datang.
Mega, si gadis cantik itu menikmati cake coklat buatan kakak Alya, ia menikmatinya bersama sang sahabat. Semua itu di perhatikan oleh Keindra, pria tampan itu sedari tadi terus menatap Mega dari kejauhan. Masih dengan kebingungannya, kenapa sikap wanita pengganggu itu berubah. Kenapa menjadi cuek.
Mega tahu kalau sedari tadi ia di perhatikan oleh Keindra. Ia tersenyum tipis, "Kak Kei mandangin aku terus, hihihi..." gumam Mega terkikik dalam hati. Mungkin cara seperti ini, cara tidak memperdulikan pria arogan itu, agar pria itu menghargai keberadaannya.
Pandangan Keindra juga teralihkan ke Rachel dan kekasihnya. Keindra cemburu berat, melihat kemesraan keduanya.
Mega pun memperhatikan nya. Ia pun cemburu, Keindra masih saja menoleh ke Rachel.
Seluruh keluarga sudah kembali ke rumah masing - masing, kecuali Mega dan Mili. Keduanya masih di Mansion tersebut.
"Mami, papi, Mega dan Mili boleh nginap kan. Soalnya sudah larut malam Mi, Pi." seru Mega.
"Boleh dong sayang. Nginap aja. Kamu ajak Mili ke kamar kamu." sahut mami Laras. Mega memang memiliki kamar pribadi di Mansion itu.
"Iya Mi. Mega ke kamar ya Mi." pamit Mega.
Mega dan Mili berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya yang di lantai dua. Di setengah anak tangga, ia berpapasan dengan Keindra si manusia arogan.
__ADS_1
Langkah mereka berhenti dan saling tatap. Namun Mega, mengalihkan pandangannya ke arah lain dan menarik tangan sahabatnya untuk segera naik keatas.
Jantung Keindra berdetak kencang. Ada rasa aneh yang dirasakannya. Keindra juga kesal ke Mega, kenapa gadis itu terus cuek terhadapnya. "Menyebalkan..." gumamnya.
Ia pun melangkahkan kakinya menuruni anak tangga, dengan perasaan dongkolnya, Keindra bergumam tak jelas.
Mami dan Papi nya saling pandang, mengisyaratkan ada apa dengan putra tampan nya itu.
"Kamu kenapa Kei?" Tanya sang papi.
"Menyebelin!!" jawab Keindra ketus.
"Bu...bukan Pi. Bukan papi." sahut Keindra takut. Papinya salah paham.
"Terus...siapa?!" tanya sang papi.
"Mega!" jawab Keindra ketus.
"Kenapa dengan Mega?" kali ini mami Laras yang bertanya.
__ADS_1
"Mega cuekin Kei terus Mi. Apa salah Kei coba?!" ceplos Keindra tak sengaja.
"Terus kenapa?" tanya papi Ryan.
"Bukannya kamu gak suka ya di ganggu sama Mega?" seru mami Laras.
"I...iya sih. Ah...sudah lah mi, pi. Kei gak peduli. Bagus lah...dunia ini terasa aman dari wanita pengganggu itu!" padahal hatinya berkata lain. Iya sangat marah karena Mega mencuekin nya. Karena ego yang besar Keindra tak mengakuinya.
"Ough...mami pikir kamu, marah sama Mega karena di cuekin" goda mami Laras.
"Bukan marah Mi. Malah senang...!" ucapnya.
Langkah kaki terdengar, dan berhenti tepat di belakang sofa yang di duduki Keindra. Mega, ia turun ke lantai satu untuk ke dapur mengambil air minum. Ia mendengar semua perkataan Keindra. Ternyata pria itu senang di cuekin. Mega kecewa, awalnya hanya mengetes Keindra saja, namun ternyata malah Keindra memang senang.
"Mami, papi..." bisik Mega.
Keindra mengenal suara itu. Ia menelan kasar saliva nya. Pasti Mega mendengar semua ucapannya dengan papi dan maminya tadi. Ia pun menoleh ke arah Mega. Gadia itu menatap sendu ke Keindra.
"Awas aja Lo, pria es batu dan arogan. Aku akan diamin lo terus...sampai lo sendiri yang ngajak gue bicara duluan..." gumam Mega dalam hati. Mega memasang wajah sedihnya.
__ADS_1
"Pasti, si cewek pengganggu ini dengar semuanya. Ah ...pasti dia akan terus cuekin di ni...kita liat aja, sampai mana ia tahan." gumam Keindra dalam hati.