
Ivan sungguh sangat kacau sekarang. Hari harinya di temani minuman saja. Pikirannya sungguh sangat kacau. Ia selalu saja memikirkan keadaan wanita yang sangat ia cintai yaitu Rachel. Iya, Ivan memang sudah snagat mencintai Rachel. Rasa cintanya semakin besar ketika Ia merenggut mahkota berharga milik Rachel. Dari kejadian itu, ia selalu saja memikirkan Rachel.
Gimana keadaan kekasihnya itu sekarang. Ivan tahu, kalau Rachel mencarinya, namun, Ivan selalu saja bersembunyi. Bahkan Ivan menyuruh anak buahnya mencari tahu kabar kekasihnya itu. Anak buahnya selalu saja mengabari kepadanya, kalau keadaan Nona mereka sama seperti dirinya yang begitu kacau.
Rasa bersalah itu semakin besar saja. Untuk itu Ivan terus memerintahkan anak buahnya untuk mengawasi wanita yang di cintainya itu.
Sudah entah berapa botol minuman yang ia teguk. Sampai membuat tenggorakannya panas. Wanita pemuas nafsunya yang bernama Sisil itu sangat muak melihat kondisi Ivan sekarang. Sesungguhnya, Ivan hanya menganggap Sisil sebagai pemuas nafsu nya saja, tak lebih dari itu. Karena kalau masalah cinta. Hanya Rachel yang ia cintai.
"Ivan, sayang. Kamu kenapa sih?! Minum terus dari tadi?!" ucap Sisil kesal.
"Jangan campurin urusan gue! Pergi Lo dari sini?!!" bentak Ivan yang sudah mabuk berat.
"Kamu berubah Ivan! Tak pernah lagi menyentuhku! Apa kau sudah bosan?! Atau kau masih memikirkan wanita sialan itu?!" teriak Sisil kesal.
"Ck. Berisik banget Lo! Iya...gue bosan sama Lo?! Dan...jangan pernah Lo bilang, kalau Rachel wanita sialan?! Elo yang sialan!!" teriak Ivan.
Sisil mengepalkan tangannya. Sungguh sangat keterlaluan sekali. Ia tak terima diperlakukan seperti ini. Ivan adalah miliknya, Ia tahu, kalau Ivan seperti ini.
"Takkan ku biarkan, siapa pun merebut kamu. Kau hanya milik ku Ivan." Batinnya.
Ivan sungguh tak sanggup menahan rasa sakit di kepalanya. Ia membaringkan tubuhnya diranjang. Ia selalu menggumamkan nama Rachel saja. Tanpa memperdulikan keberadaan Sisil di sampingnya. Ivan memejamkan matanya dan terlelap dalam mimpi. Berharap didalam mimpinya sang kekasih hatinya hadir.
*******
__ADS_1
Sisil sungguh tak terima Ivan membuangnya. Terbesit di kepalanya sebuah ide. Ia teringat akan Rindi. Adik dari Ivan. Hanya Rindi yang mau di dengarkan oleh Ivan. Ivan selalu menuruti kemauan sang adik. Bahkan, Sisil juga tahu, aksi balas dendam kedua kakak beradik itu. Menghancurkan Rachel. Semua itu di manfaatkannya. Sisil akan menghasut Rindi.
Kini Sisil sudah berada dirumah mewah milik Ivan. Wanita itu tahu, kalau Rindi pasti ada dirumah sang kakak.
Ting....tong....ting...tong...
Asisten rumah tangga membukakan pintu rumah. Sang Asisten rumah tangga itu melihat malas ke tamu tersebut. Ia sungguh sudah sangat mengenal siapa wanita itu.
"Permisi, Bik Surti. Apakah Rindinya ada?" ucap Sisil sombong. Wanita itu juga tahu, kalau bi Surti itu sangat tidak menyukainya.
"Ada. Nona Muda dikamarnya." ucap Bi Surti ketus. Bi Surti memasuki rumah dan ingin memanggil Nona Mudanya.
Sisil sungguh kesal dengan perlakuan pembantu kurang ajar itu. Sungguh tak sopan.
Sambil mengumpat kesal, Bi Surti menaiki tangga menuju kamar Nona Mudanya. Ia tak suka, kalau Nona mudanya terlalu dekat dengan wanita murahan itu. (Ada alasan kenapa Bi Surti tidak suka dengan Sisil ya Guys. Nanti saja dibahasnya).
Mendengar kalau Sisil yang datang, Rindi dengan cepat bergegas menghampiri Sisil. Sisil pasti membawa kabar tentang Rachel, pikirnya. Dengan senyuman nya ia menyapa.
"Hai...kak Sisil. Apakabar?" sapa Sisil Ramah.
"Hai, cantik. Kabarnya aku baik Kok. Kamu sendiri?" sahut Sisil.
Rindi hanya membalas dengan anggukan saja dan senyuman manisnya.
__ADS_1
"Ada berita apa kak?" tanya Rindi antusias.
Sisil tersenyum sinis. Sudah di duganya. Rindi pasti menanyakan kabar mantan sahabatnya itu.
Menghela nafasnya pelan. Sisil memasang wajah sendunya. "Rindi...maaf, sepertinya, kakak kamu sangat mencintai Rachel." ucapnya lirih dan berpura pura sedih.
"Maksud kakak apa?" tanya Rindi.
"Kakak kamu, sepertinya tak akan pernah tega untuk membalaskan dendam kalian." Ucapnya sendu.
Rindi mengepalkan tanganya. Ini gk boleh terjadi. "Tak akan ku biarkan. Kakak ku gak boleh cinta sama Rachel!" ucap Rindi meninggi.
"Tapi, kenytaannya seperti itu." lirih Sisil.
"Apa yang harus kita lakukan kak?" tanya Rindik frustasi.
"Huh. ...kalau boleh...apa bisa kau meminta kakak mu...menikah dengan ku?" bisiknya sendu. Menikah dengan Ivan memang sudah impiannya. Ia bisa menikmati harta Ivan.
Bersambung....
Uda ya...uda 3 bab aku up...
besok lagi....kepalaku mendadak pusing....
__ADS_1
Insyallah besok aku double up lagi....jangan lupa like, vote, hadiah dan komen ya.
Terimakasih.