
Hubungan antara Mega dan Keindra lagi tak akur. Keindra merasa sakit hati dengan penolakan Mega. Kenapa istrinya itu tak ingin berdekatan dengan dirinya.
Keindra duduk di ruang tv sendirian. Mami dan Papi sedang pergi karena ada urusan diluar. Hanya ada Mega dan Keindra di Mansion beserta pelayan.
Mega menghampiri suaminya di ruangan itu. "Mas, kamu mau sarapan apa? Biar aku buatin." Ucap Mega lembut Namun masih dari kejauhan.
"Gak usah.!" Keindra ingin pindah keruangan kerjanya, ia pun berdiri dari duduknya dan membawa secangkir kopi yang dibuatnya tadi. Keindra melewati Mega tanpa menoleh kearahnya.
Perbuatan Keindra membuat Mega menggigit bibirnya dengan keras, merasakan sakit karena dicueki oleh suaiminya. Mega tahu beberapa hari ini ia menjauhi suaminya yang selalu ingin menempel itu. Tapi hal itu Mega lakukan karena setiap kali dekat dengan suaminya ia selalu ingin muntah dan mual. Kenapa suaminya tidak peka sekali? Matanya sudah berkaca kaca sekarang. Sambil berjalan dengan perlahan menuju dapur, Mega menghapus air mata yang jatuh dipipinya. Kemudian dia terduduk di lantai dapur dan mulai menangis.
Dicuekin oleh Keindra tak ingin ia rasakan lagi. Dulu, sebelum mereka berdua saling jatuh cinta, Keindra bersikap acuh kepada Mega rasanya sudah seperti neraka. Apalagi sekarang keduanya sudah saling mencintai.
Sebenarnya Mega ingin berkata jujur kepada Keindra tapi takut menyinggung perasaannya. Tapi ternyata tanpa mengatakannya pun sudah membuat Keindra semarah itu. Rasanya sangat sedih sekali. Bahkan air mata Mega seolah tidak ingin diberhentikan. Sudah lebih dari sepuluh menit Mega menangis dan belum ingin menghentikannya.
Tiba tiba saja ada keinginan kuat dalam dirinya untuk merasakan pelukan hangat suaminya. Tapi, rasanya mustahil, Keindra pasti masih sangat marah. Mega benar benar marah pada dirinya sendiri sehingga hanya menangis yang bisa dilakukannya.
***
Diruang kerja Keindra merasa frustasi, pria itu sangat merindukan istrinya, sangat rindu pelukan sang istri. Kei tak bisa berbuat apa apa. Mengingat perkataan sang istri masih membuatnya sakit hati.
Keindra butuh teman curhat, curhat dengan Rachel tak mungkin apalagi dengan Ivan. Keindra melihat gelas kopinya yang sudah kosong, ia ingin membuatnya lagi.
Keindra berjalan menuju dapur, ia dapat melihat istri tercintanya duduk dilantai sampai menangis tersedu sedu. Membuat Keindra merasa bersalah. Dengan pelan pelan ia berjalan dan mendekat, kemudian Keindra memeluk sang istri. Tapi reaksi wanita itu justru membuatnya kaget. Mega langsung berdiri dan lari menuju westafel dan muntah.
__ADS_1
Keindra mulai memahami situasi, pria itu pernah membaca sebuah buku hamil. Ibu hamil memang sangat sensitif dengan bau seseorang.
"Sayang, kamu mual dekat aku?" tanya Keindra yang sudah paham akan tingkah sang istri.
Dengan masih terisak dan lemas, Mega mengangguk. "Maaf mas." serunya lemas.
Keindra sangat tak tega, ia menyodorkan segelas air hangat untuk sang istri agar meminumnya. "Kamu kenapa gak bilang sayang? Mas jadi salah paham sama kamu." ucap Keindra lembut.
"Aku takut buat kamu sakit hati mas." jawab Mega lirih.
Keindra tersenyum lembut. "Mas akan maklum sayang. Ibu hamil pasti akan sangat sensitiv dengan bau seseorang. Kamu pasti merasakannya kan?" ucap Keindra.
"Iya, tapi aku juga pengen dipeluk sama kamu. Aku kangen sama kamu mas." seru Mega menunduk malu. Keindra tersenyum lembut. Keindra megulurkan tangannya meuju perut istrinya dan mengusapnya dengan lembut.
Setelah elusan di perut itu, Mega tak lagi mual didekat sang suami. Mega semakin mengeratkan pelukannya. "Terimakasih mas." seru Mega.
"Kamu udah minum susu sayang? Mas buatin ya?" Mega mengangguk dipeukan Keindra.
Kei mendudukan sang istri di kursi makan. Sementara itu ia membuat susu untuk Mega.
Mega memperhatikan suaminya membuat susu, entah kenapa setiap kali Kei yang membuatkan susunya selalu saja enak. Coba kalau wanita itu buat sendiri rasanya tak seenak yang dibuat sang suami.
******
__ADS_1
Di Mansion Ivan dan Rachel.
Ivan sudah berada didalam kamar bersama sang istri, setelah lama ia menggedor pintu kamar agar dibukakan istrinya. Akhirnya Rachel mau membukanya.
Namun Rachel sedari tadi mendiamkan Ivan terus. Wanita itu masih marah dengan Ivan.
"Sayang...udah dong marahnya. Mas gak tau kalau Sisil datang sayang." seru Ivan lembut.
"Bohong! Mas yang nyuruh dia datang kan?" ujar Rachel tak percaya.
"Sumpah sayang. Yang kamu lihat tadi itu salah paham sayang. Mas gak mungkin berkhianat lagi sayang. Wanita yang mas cinta itu cuma kamu." Ucap Ivan menjelaskan. Pria itu tak ingin berlarut larut.
"Tapi, kenapa kamu biarin wanita itu menyentuh dada kamu mas." Ujar Rachel.
"Mas juga gak menyangka sayang, gak ada perasaan apa pun dengan sentuhan wanita itu. Bahkan mas tak suka dengan sentuhannya. Maafkan mas sayang. Udah ya marahnya." Mohon Ivan.
"Aku mau tidur sendiri dulu. Mas tidur di kamar tamu saja." pinta Rachel.
"Jangan dong Yank. Mana bisa mas tidur tanpa pelukan kamu." seru Ivan panik.
"Pokonya aku mau tidur sendiri dulu." Keputusan yang tidak bisa terbantahkan.
Dengan sedikit frustasi Ivan akhirnya mengalah. Pria itu pun melangkah kan kakinya dan berjalan menuju pintu kamar dan keluar dari sana menuju kamar tamu.
__ADS_1
Bersambung....