
Tak terasa waktu bergulir. Sepuluh hari lagi, pernikahan Rachel akan dilaksanakan. Namun, Rachel masih mode kecewa, membuat Ivan semakin frustasi saja. Pria itu tak ingin gagal menikahi pujaan hatinya.
Seperti saat ini, Ivan lagi berada di rumah calon mertuanya, karena Mega masih menginap disana. Sudah berbagai cara pria itu lakukan agar Rachel memaafkannya.
Ivan duduk di kursi makan, duduk melamun memikirkan cara apalagi untuk meminta maaf pada Rachel. Sementara Rachel masih setiap didalam kamarnya, wanita itu masih tak ingin bertemu dengan Ivan, walaupun sebenarnya dia sangat merindukan sosok pria yang dicintainya. Namun, egonya terlalu besar.
Ivan menghabiskan teh yang dibuat oleh bi Ijah. Pria itu beranjak dari duduknya dan menuju kamar sang kekasih.
Tok...tok...tok....
"Sayang...bukan donk pintunya, jangan marah terus dong Yank. Kamu gak kangen sama mas?" panggil Ivan dari luar.
Rachel mendengarnya. Rachel kasihan sekali, ingin rasanya ia membuka pintu kamar dan memeluk Ivan dengan erat.
"Yank...buka dong pintunya." teriak Ivan lagi.
Rachel tak bisa lagi berlama - lama. Dia turun dari tempat tidurnya dan berjalan menuju pintu.
Ceklek....
Keduanya masih terpaku, saling memandang. "Yank....maaf." Bisik Ivan lirih.
__ADS_1
Rachel dapat melihat wajah sendu Ivan, sangat kusut sekali. Haruskah Rachel memaafkan Ivan.
"Rachel sayang, mas minta maaf. Mas sudah mengaku semua kesalahan mas." seru Ivan memohon.
Rachel menarik nafasnya dan menghembuskannya. "Baiklah, aku memaafkan mas, tapi...kalau mas berbuat salah lagi. Aku gak akan maafin mas." Ucap Rachel tegas.
"Mas janji sayang. Mas akan selalu berkata jujur sama kamu." Janji Ivan. Walaupun sebenarnya Ivan masih menyembunyikan masalah yang sebenarnya. Bahwasannya Rindi sang adiklah yang menyuruhnya untuk balas dendam. Ivan tak ingin adiknya dibenci oleh Rachel.
"Terimakasih sayang." ucap Ivan dan memeluk Rachel dengan erat. Dia begitu merindukan Wanitanya itu.
Rachel mengangguk di pelukan Ivan.
"Apa kamu tidak menginginkan makan sesuatu sayang?" tanya Ivan sambil menangkup kedua pipi Rachel.
Ivan tersenyum. Ivan mengajak Rachel masuk kedalam kamar dan duduk diatas ranjang.
"Sini mas peluk sayang." ajak Ivan.
Rachel menyandarkan kepalanya ke dada bidang Ivan. Sangat nyaman sekali.
******
__ADS_1
Rindi sangat marah sekali, mantan sahabatnya akan menikah dengan sang kakak. Kakaknya berkhianat, seharus nya balas dendam kepada Rachel, malah sang kakak mencintai.
"Kak Ivan brengsek...!!" teriak Rindi didalam kamarnya.
Rindi semakin benci saja kepada Rachel. Sampai kapan pun Rindi tak akan pernah mau berdamai dengan mereka. Rindi akan membalas dengan caranya sendiri.
****
Begitupun dengan Sisil, wanita itu semakin gila saja. Seluruh barang yang ada dikamarnya sudah berserakan kemana mana. Dia tak terima diperlakukan seperti ini. Habis manis sepah dibuang.
Walaupun sebenarnya dia hanya menginginkan harta Ivan saja. Sisil memiliki kekasih lain. Pria yang begitu mencintainya. Ivan ATM berjalannya. Sedangkan sang kekasih adalah pemuas nafsunya saja.
***
Rachel dan Ivan sudah berbaikan. Malah Rachel pengennya selalu dekat dengan Ivan.
Seperti sekarang ini, Rachel ikut ke kantor nya Ivan.
Ivan duduk di kursi kerjanya sedangkan Rachel duduk di sofa sambil memakan cemilan. Selama kehamilannya nafsu makan Rachel selalu bertambah.
Melihat sang pujaan hati memakan makanan nya yang tiada hentinya, membuat Ivan menggeleng gelengkan kepalanya. Sungguh sangat menggemaskan sekali.
__ADS_1
Pernikahan mereka berlangsung lima hari lagi. Karena Ivan masih ada pekerjaan, jadi mau tak mau dia harus menyelesaikannya terlebih dahulu.