Cinta Seorang Single Daddy

Cinta Seorang Single Daddy
Season 2 Mulai Dekat


__ADS_3

Suasana sangat hening di pagi ini. Rio yang sudah berada di meja makan, tidak ada suara yang keluar dari mulut mereka. Rio dan Rani tidak ada yang berbicara. Apalagi Rio ia sangat malas untuk berbicara dengan Rani.


"Mas, kamu mau makan apa?" tanya Rani memecah keheningan.


Rio tidak memperdulikan Rani. Rio mengambil makanannya sendiri. Dan ia pun memakannya.


Rani yang meihatnya hanya menghela nafasnya pelan. Suaminya sekarang bersikap acuh kepadanya. Menganggap dirinya tidak ada. Ia tahu ia salah. Meninggalkan mereka berbulan - bulan demi karirnya.


Langkah kecil seorang gadis. Ia adalah Rachel Baharsyah. Putri kecil Rio dan Rani. Rachel berumur 12 tahun yang mulai beranjak remaja. Dengan langkah kecilnya ia menuruni anak tangga menuju ruang makan. Ia ingin sarapan bersama orang tuanya. "Pagi mama, pagi papa." sapa gadis kecil yang beranjak remaja itu.


"Pagi sayang. Kamu mau sarapan apa?." tanya sang mama. Rachel tahu kalau mamanya sudah kembali kerumah. Bahkan tadi malam pun ia tidur bersama mamanya.


"Nasi goreng aja deh ma." jawabnya.


Rani mengambilkan nasi goreng untuk Rachel.


"Terimakasih mama." ucap Rachel.


Rio hanya melirik sebentar kearah Rachel dan Rani. Rio semakin muak dengan sikap berpura - pura Rani. "Sayang. Kamu pergi sekolah sama papa kan? Papa sudah selesai sarapannya." ucap Rio.


"Iya pa. Tunggu bentar ya.?" jawab Rachel.


"Papa tunggu di mobil aja ya?. Jangan terburu - buru makannya. Santai saja." ucap Rio lembut sambil mencium pucuk kepala sang anak.


Rio pun pergi dari tempat itu tanpa memperdulikan Rani yang sedari tadi memandangnya.

__ADS_1


"Ma. Rachel pergi sekolah ya.?"


"Iya sayang."


Setelah kepergian anak dan suaminya Rani pun juga akan pergi ingin bertemu dengan kekasih gelapnya. Mereka temu janji di sebuah hotel. Kalian tahu la kalau ketemu di hotel ngapain.


Rio sampai di sekolahan anaknya. "Sayang belajar yang bener ya?" ucap Rio.


"Iya pa." jawab Rachel.


Setelah Rio mengantar anaknya sekolah. Rio mampir sebentar ke Kampus. Di perjalan ke kampus ia melihat mobil istrinya. "Mau kemana lagi dia?." gumam Rio. Ia pun mengikuti istrinya.


Ternyata istrinya berhenti di sebuah hotel berbintang lima. "Ngapain dia kemari. Apa ingin bertemu dengan kekasihnya?. Cih...perempuan murahan." ucap Rio geram.


Rio pun pergi dari tempat itu. Ia menuju kampusnya. Sebelum ke kantor. Rio mampir ke kampus dulu. Ia ingin melihat - lihat kampus dan berkenalan dengan dosen - dosen yang berada disana.


Yang jelas Rio sangat senang bertemu dengan dosen cantik itu. Walaupun di awal bertemu Rio bersikap dingin. Itu semata - mata menutupi kegugupannya.


Sampailah ia di parkiran kampus. Rio memarkirkan mobilnya di tempat khusus Rektor. Dengan penampilan yang gagah, rapi dan tampan. Dengan gaya bak model, Rio berjalan menuju ruangannya. Semua para mahasiswi sangat antusias melihat Rektor baru mereka. Menurut mereka sangat Tampan.


Dengan gagahnya ia berjalan. Dan tanpa sengaja ia menabrak seseorang, sampai orang itu terjatuh. "Maafkan saya Nona." ucapnya.


Wanita itu kesakitan. Dengkul kanannya sedikit memar. Sehingga ia susah untuk berdiri. Rio membantu wanita itu berdiri. "Mari saya bantu Nona." tawarnya.


Wanita itu mendongak ke arah wajah sang pria. Mereka saling pandang cukup lama. "Pak Rio? Maaf saya tadi tidak lihat jalan. Saya terburu - buru." ucap Alya.

__ADS_1


"Tidak apa - apa Nona Alya. Mari saya bantu." ucap Rio. Rio pun membantu Alya berdiri di rangkulnya pinggal ramping Alya.


Alya merasa gugup dan malu. Karen para mahasiswa dan mahasiswi melihat mereka berdua berjalan menuju ruangan Rektor dengan cara Rio merangkul pinggang Alya.


Sampai di ruangan Rektor. Rio mendudukan Alya di sofa. Rio ingin megobati luka lebam di lutut Alya. Rio mengambil kota obat di laci mejanya. Ia ingin mengoleskan salep ke lutut Alya.


Alya begitu terpesona melihat wajah tampan sang Rektor. Ternyata sang Rektor sangat perhatian dan lembut.


"Aw...sakit pak." ucap Alya meringis.


"Maaf Nona. Saya akan pelan." ujar Rio mengoleskan salep dan mengembus lutut Alya.


Selesai sudah. Rio pun menyimpan kotak obat ke tempat semula. Dan Rio mendudukan tububnya di sofa dan pas di sebelah Alya.


"Nona Alya. Apa masih sakit?." tanya Rio sangat lembut.


"Udah gak Pak Rio. Terimakasih." jawab Alya. Ia merasa gugup sekali duduk berdekatan dengan sang Rektor. Alya terus menundukan wajahnya yang sudah bersemu merah.


"Nona Alya.?" panggil Rio sangat lembut.


Alya mendongakan kepalanya tepat di depan wajah Rio. Pandangan wajah mereka sangat dekat. Bahkan hidung mereka berdua bersentuhan. Saling tatap, semakin dekat. Rio semakin mendekatkan wajahnya ke Alya. Di pandanginya bibir merah Alya. Ingin rasanya ia mencium dan ******* bibir mungil dan merah itu.


Rio semangkin mendekatkan wajahnya. Ketika bibir mereka akan bersentuhan. Tiba - tiba ada yang mengetuk.


Tok...tok...tok....

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2