
Karena tak tahan untuk menunggu sampai di Paris. Keindra melakukan malam pertama mereka di pesawat saja. Sungguh nikmat rasanya, melakukan itu semua dengan istri sendiri. Apalagi memiliki istri yang sangat cantik.
Di pandanginya wajah lelah istrinya, akibat perbuatannya. Kei, tak ingin menunggu lama untuk memiliki momongan. Apalagi seluruh keluarga ingin segera mereka memiliki anak.
Dengan senyum liciknya, Kei akan mengurung sang istri di kamar hotel nantinya. Kei mengelus lembut pipi sang istri.
Mega merasa terganggu. "Mas..." bisiknya.
"Sayang...lagi yuk?" bisik Keindra mesra di telingan istrinya.
Mega langsung membuka matanya dan melototkannya. Suaminya ingin lagi? Ini saja masih sangat sakit.
"Mas...ini aja masih sakit." rengek manja Mega.
Keindra terkekeh. "Kamu bikin nagih sayang." bisik Kei lagi.
Mega menutup seluruh tubuhnya dengan selimut dan merapatkannya. Tak ingin mendapat serangan lagi oleh suaminya.
Sementara itu Keindra tertawa geli, melihat tingkah meggemaskan istrinya itu. Keindra menarik paksa selimut Mega sampai terbuka.
"Mas...!!" pekik Mega.
__ADS_1
Tanpa menunggu aba aba, Keindra sudah mengukung Mega di bawahnya. "Janji sayang, sekali lagi. Setelah itu kita lakukan lagi di hotel." bisik Keindra mesra.
Mega hanya pasrah saja. Membairkan suaminya bermain main di atasnya. Bohong, kalau Mega tak menikmatinya. Sang suami sungguh sangat liar di ranjang.
Ternyata Kei tak menepati janjinya, janjinya satu kali. Keindra malah melakukannya berkali kali. Mega serasa remuk sekali. Mau menolak berdosa.
"Terimakasih sayang..." ucap Keindra mengakhiri permainannya dan mengecup dahi sang istri dengan sayang.
Keindra membiarkan Mega tertidur sebentar. Sementara itu Keindra membersihkan tubuhnya dan memakai pakaian rapi. Kira - kira satu jam setengah lagi, mereka akan mendarat di Paris.
Keindra membangunkan istri tercintanya. "Yank...bangun yuk. Mandi dulu, sebentar lagi kita sampai." bisik Keindra.
Mega mendengar bisikan suaminya. Rasanya malas sekali ia untuk bangun. Namun, akhirya ia terpaksa bangun. Mega juga sudah mandi dan memakai gaun cantiknya.
Genggaman tangan Keindra tak pernah lepas dari tangan Mega.
*******
Rachel tak tahu harus bagaimana lagi, tak mungkin menyembunyikan kehamilannya dari kedua orang tuanya. Pasti akan kelihatan. Rachel sudah memeriksakan kandungannya, sudah berumur empat minggu.
Ia mengelus elus perutnya. "Maafkan mama sayang, sampai sekarang papa kamu belum bisa mama temuin." lirihnya.
__ADS_1
Rachel kini tak lagi pernah tinggal di apartemen nya. Ia lebih nyaman di Mansion sang papa. Tapi, ada rasa khawatir juga, kalau papanya tahu ia hamil, pasti papa Rio akan sangat sangat kecewa.
Ceklek...
"Boleh, papa masuk Nak?" ujar Papa Rio.
"Masuk aja pa." Rachel sedari tadi memang di kamar nya saja. Ia melewatkan makan siangnya.
"Kamu kenapa Nak? Kenapa gak makan sayang?" Seru Papa Rio penuh kasih sayang.
"Iya pa. Nanti saja, tadi Rachel uda banyak ngemil pa." ucap Rachel beralasan.
"Oya pa. Rafi mana?" tanya Rachel beralasan lagi. Ia tak ingin papanya terlalu banyak tanya.
"Adik kamu, di rumah kakek dan nenek." sahut Papa Rio.
"Kakek, Nenek gak balik lagi ke Luar Negeri pa?" tanya Rachel.
Rio menggelengkan kepalanya. "Kakek, Nenek mau netap di Indo aja."
"Rachel...apa yang terjadi? Kamu kenapa selalu mengurung diri di kamar?" tanya papa Rio.
__ADS_1
Deg...
Rachel menelan salivanya. "Pa...Rachel cuma malas aja, pa." bohongnya.