
Sisil terus berakting sedih. Jantung Rachel berdegup kencang, menunggu wanita yang berada di depannya mengatakan sesuatu tentang calon suaminya.
"Mbak Sisil? Mbak kenal dengan mas Ivan?" tanya Rachel.
Sisil mengangguk pelan. "Aku...dan Mas Ivan...hiks..." air mata palsu Sisil terjatuh.
"Aku, ingin bertemu dengan mas Ivan, aku mau minta pertanggung jawabannya." seru Sisil terisak.
Deg...
Ada apa ini, kenapa harus minta pertanggung jawaban. Apa yang dilakukan oleh calon suaminya itu.
"Ma...maksud nya apa mbak?" ucap Rachel terbata - bata.
"Mas Ivan...hiks..."Sisil masih terus berakting.
Rachel sungguh khawatir. Apa yang telah dilakukan oleh calon suaminya.
"Tolong saya mbak. Pertemukan saya dengan mas Ivan...hiks...hiks..." Sisil masih berpura - pura menangis.
Rachel masih belum bisa berkata kata apa pun. Apakah Ivan melakukan kesalahan yang sangat fatal.
Rachel menelan salivanya dengan kasar. "Mbak...iya, saya akan mempertemukan Anda dengan mas Ivan." Seru Rachel terbata - bata.
Sisil tersenyum licik. Akhirnya ia bisa membuat Rachel ketakutan. Padahal ia hanya menakuti saja. "Hiks...hiks...terimakasih." ucap Sisil.
Sisil pamit kepada Rachel. Besok siang keduanya akan bertemu kembali bersama dengan Ivan.
__ADS_1
***
Semenjak pertemuannya dengan Sisil di sebuah mall. Rachel masih saja memikirkan ada hubungan apa antara Ivan dan Sisil. Pikirannya tak fokus. Bahkan ponselnya yang berdering sedari tadi tak didengarnya. Karena sangkin terpikir, perut Rachel menjadi keram.
"Sshhtt...sakit banget." gumam Rachel sambil memegang perutnya.
Rachel membaringkan tubuhnya ke atas ranjangnya. Ketika ingin memejamkan matanya, ponsel Rachel berdering lagi. Dengan perlahan Rachel mengambil ponselnya diatas nakas.
Dilihatnya nama yang tertera dilayar ponselnya. 'My Lovely', Ivan menelponnya.
"Ha...hallo Mas..." seru Rachel menahan sakit.
"Sayang...kamu kenapa?" Ivan bertanya.
"Ma...mas,...sshhs..." Rachel masih meringis kesakitan.
Ivan sangat panik mendengar ringisan sang kekasih. "Sayang...kamu kenapa sayang?!" pekik Ivan disebrang sana.
Ivan tak banyak bicara lagi, ia mematikan ponselnya dan bergegas ke tempat Rachel. Mengendarain mobilnya dengan kecepatan penuh. Sangat khawatir dengan keadaan Rachel.
Rachel masih meringis kesakitan diatas ranjangnya. Kini Rachel berada di apartemennya.
Ivan sudah sampai di basment apartemen Rachel. Dengan gerak cepat pria itu berlari ke unit sang kekasih. Dengan berlari Ivan menuju unit Rachel. Sampai didepan pintu unit Rachel. Ivan menekan tombol kunci dengan menekan nomor tangggal jadian mereka.
Braakk...
Dengan kasar Ivan membuka pintunya. Dan ia langsung menuju kamar Rachel. Dibukanya pintu kamar sang kekasih.
__ADS_1
Ceklek...
"Sayang...!" pekik Ivan. Pria itu melihat sang kekasih meringkuk kesakitan. Perutnya sakit sekali, wajah Rachel begitu pucat menahan sakitnya.
"Mas...sakit." seru Rachel memegang perutnya.
"Sayang...kita kerumah sakit." Tanpa pikir panjang Ivan langsung menggendong tubuh Rachel menuju mobilnya dan Ivan membawa wanitanya kerumah sakit.
Mobil Ivan telah sampai dirumah sakit. Suster jaga langsung membawa Rachel ke UGD. Ivan sangat panik sekali. Pria itu mondar mandir di luar ruangan UGD.
"Sayang...bertahanlah. Semoga kalian tidak apa apa." Ivan terus berdoa agar Rachel dan calon anak mereka tidak apa apa.
dua puluh lima menit berlalu, Dokter yang menangani Rachel keluar dari ruangan UGD.
"Dok...bagaimana keadaan kekasih saya dan anak ka...kami." tanya Ivan panik.
"Kekasih Anda dan calon anak kalian tidak apa apa. Untung anda cepat membawanya kemari." seru sang dokter.
Ivan bernafas lega. Bersyukur Rachel nya tidak kenapa napa. "Boleh saya melihatnya Dok?" tanya Ivan.
"Silahkan Tuan." jawab Dokter.
Ivan bergegas masuk keruangan Rachel. Kekasihnya masih terbaring sangat lemah.
"Sayang..."Bisik Ivan.
Rachel membuka matanya perlahan. Ia menatap wajah Ivan yang begitu sangat mengkhawatirkan dirinya. Namun, seketika ia teringat akan perkataan Sisil.
__ADS_1
"Hiks...hiks...mas..." Rachel menangis terisak.
Bersambung....