Cinta Seorang Single Daddy

Cinta Seorang Single Daddy
Season 2 Rasanya Ingin!!!


__ADS_3

Sepasang pengantin sekarang berada di kamar hotel tempat mereka akan melangsungkan resepsi pernikahannya. Ada waktu banyak untuk mereka berdua istirahat, karena akad nikah dilaksanakan pada pukul sembilan tiga puluh pagi tadi. Dan akadnya selesai pukul setengah satu siang. Sementara itu resepsi akan di gelar pada malam hari pukul 19.30 malam. Jadi, masih banyak waktu untuk mereka beriatirahat melepas lelah dengan rangkaian acara akad tadi. Sambil menunggu para MUA akan datang untuk menandani mereka.


Mereka memanfaatkan waktu dengan mandi dan menyegarkan tubuh mereka. Selesai bersih - bersih keduanya berbaring diatas kamar pengantin mereka. Berpelukan, bermesraan dan berciuman saja yang mereka lakukan. Sang suami sebenarnya sudah tidak tahan untuk melakukan malam pertama mereka. Namun sang istri masih belum siap untuk melakukannya. Alya akan melakukannya setelah resepsi selesai.


"Yank...ayo dong, mas udah gak tahan?" ajak Rio dengan wajah memelas.


"Mas...sabar dong sayang" ucap Alya sambil menangkup kedua pipi suaminya.


"Tega kamu yank" seru Rio cemberut dan mengalihkan pandangnnya dari istrinya.


Alya hanya menggelengkan kepalanya saja melihat tingkah suaminya. Alya menarik nafasnya pelan dan menghembuskannya. Alya merentangkan tangannya. "Sini peluk Alya aja ya mas?" seru Alya masih merentangkan tangannya ke hadapan suaminya yang masih cemberut itu.


Dengan wajah masih cemberut Rio memeluk tubuh istrinya dengan erat. Rio pun menyandarkan kepalanya ke dada sang istri. Rasanya sangat nyaman sekali diberikan bantal yang empuk. Muncul ide nakal di benak Rio. Walaupun tidak bisa merasakan malam pertama. Paling tidak Rio ingin merasakan empuknya tempat bersandarnya sekarang ini.


"Yank..." serunya dengan suara serak. "Boleh ya?" meremas dada sang istri dengan lembut di balik baju sang istri.


"Maasss..," ucap Alya kaget suaminya meremas dadanya.


"Yank...boleh ya?" ujar Rio memasang wajah memelas. Rio masih meremas dada sang istri dengan lembut. Membuka kancing baju piayama sang istri satu persatu. Tampaklah penutup dadanya.


"Yank? Bolehkan?" menatap istrinya.


Alya memandang wajah suaminya. Merasa kasihan melihat suaminya menahan hasratnya sedari tadi.


"Boleh?" tanya Rio lagi. Karena tak tega Alya menganggukan kepalanya tandanya ia membolehkan.


Dengan semangat empat lima Rio melancarkan Aksinya. Dibukanya pengait penutup dada sang istri. Ia mulai mengusap, meremas bahkan mengisap dadanya. Rio melakukannya dengan lembut menikmatinya. Cukup lama ia melakukannya. Alya pun sangat menikmatinya. Menutup mulutnya menahan desahannya. Rio mengusap bibirnya dan merebahkan badanya di samping istrinya. Ia memejamkan matanya. Menyadari pangkal pahanya yang mengeras sempurna. Ia tidak ingin memaksa istrinya dan meminta lebih kepada istrinya. Rio memejamkan matanya menahan hasratnya.

__ADS_1


Alya memandang suaminya yang tiba - tiba membaringkan tubuhnya di sampingnya. Ia sangat mengerti dengan keadaan suaminya. Alya memberanikan dirinya untuk memegang milik suaminya. Dengan ragu Alya menggenggamnya dibalik celana suaminya. dan mengusapnya dengan pelan.


"Sayang...biarkan saja. Nanti juga dia lemas sendiri" bisik Rio sambil memejamkan matanya.


Namun Alya masih terus saja mengelus milik suaminya, mengusap perlahan dan mulai bergerak cepat. Napas Rio tersengal. Rasanya sangat nikmat, istrinya sangat mengerti.


"Terimakasih sayang?" ucap Rio sambil mengelap tangan Alya dengan tissu. Membersihkan sisa - sisa kenikmatannya.


Rio mengecup dahi Alya sangat dalam. Kecupannya turun kebibir dab leher jenjang milik istrinya. Memberikan tanda kepemilikannya.


"Mas...udah yah? Sabar dulu ntar malam kita lanjut" bisik Alya. Rio tersenyum. "Iya sayang...makasih ya?"


Alya megangguk." iya mas"


Setelah melakukan itu mereka berdua tidur saling peluk. Rio meyandarkan Alya di dadanya. Dan mereka pun terlelap. Memasang alarm. Agar nantinya mereka bangun sebelum MUA datang.


Di kamar hotel yang lain. Seorang anak perempuan berbaring di atas kasur kamar hotel. perasaannya masih dilema. Ingin memejamkan matanya untuk tidur sebentar.


Namun suara ponselnya berdering. Ia melihat di layar ponselnya tertera nama sang mama tertulis. "Mama?" gumamnya. Alya menggeser tombol hijaunya untuk meghubungkan panggilannya.


"Hallo sayang.." ucap sang mama.


"Mama, ada apa ma?" tanyanya.


"Gak boleh mama nelpon anak mama."


"Boleh ma, gimana keadaan mama?"

__ADS_1


"Buruk sayang...papa kamu...papa kamu tega sayang...hiks..." isak Rani berpura - pura. Mungkin dengan cara berpura - pura sedih Rachel masih ingin membantunya.


"Maafkan Rachel ma."


"Sudahlah sayang...biarkan mama sendiri. Mama sangat mencintai papa kamu...hiks...hiks..."


"Ma, mama jangan nangis."


"Rachel sayang...mama...hiks...hiks...sayang mama,..." Rani terus berpura - pura.


"Ma...mama kenapa?! jangan buat Rachel khawatir ma? Mama jangan nangis" Rachel sangat khawatir mendengar mamanya menangis.


"Sayang...bisa besok kita ketemu?"


"Iya ma. Besok Rachel ketempat mama. Tapi, mama jangan nangis lagi ya? Maafin Rachel"


"Iya sayang, mama mau istirahat dulu. Kepala mama pusing sekali sayang. Rasanya sakit" ucap Rani lirih.


"Mama sakit? Ma...jangan sakit. Ada Rachel yang akan selalu menjaga mama."


"Terimakasih sayang" ucap Rani pelan. Memutus panggilan telponnya. Dengan senyum kemenangannya Rani berhasil membuat anaknya akan kembali mendukungnya. "Awal yang baik" ucapnya tersenyum bahagia.


Setelah mendapat telpon dari sang mama, Hatu dan pikiran Rachel semakin bimbang saja. Mendengar mamanya kesakitan seperti tadi. Membuat Rachel ingin segera menemui mamanya. Ada apa dengan mamanya. Apakah mamanya sakit?


"Ma..." lirihnya.


bersambung....

__ADS_1


__ADS_2