
Dua minggu sudah Rio dan Alya tidak bertemu. Rio kecewa dengan Alya, ia masih saja berpacaran dengan Reza. Sidang perceraian Rio dan Rani pun sudah berjalan. Hanya menunggu sidang terakhir saja. Setelah itu ia akan resmi bercerai. Dan mendapat julukan baru yaitu Duda.
Dua minggu juga Rio tidak ke kampus. Segala urusan kampus ia serahkan ke Vino sahabatnya. Entah kenapa ia tidak ingin ke kampus. Melihat Alya saja dadanya serasa sesak. Apakah Rio akan merelakan Alya setelah resmi bercerai? Hanya author yang tahu. Hahahaha
Di kampus Alya tidak bersemangat. Sang Rektor sudah dua minggu tidak ada kabar. Ingin rasanya Alya menemuinya.
"Yank..."teriak Reza.
Alya menoleh ke arah suara. "Reza?"
"Yank...kantin yuk. Kamu belum makan kan?" ajak sang kekasih.
Alya masih belum menjawab. Hari ini, Alya ingin mengakhiri hubungannya dengan Reza. Sudah hampir sebulan ia menjalin hubungan dengan Reza, namun belum ada tumbuh rasa cinta untuk Reza. Walaupun Reza selalu memberi perhatiannya. Tapi Alya tidak bisa tersentuh.
"Za, ada yang ingin aku omongin ke kamu." ucap Alya.
"Ngomong apa yank?" tanyak Reza.
"Nanti malam kita ketemuan di cafe biasa ya?"
"Ok sayang. Sekarang kita makan siang dulu ya?" ajak Reza lembut.
Alya menganggukan kepalanya. Mereka berdua berjalan ke kantin kampus untuk makan siang. Ketika lagi berjalan berdua, Alya tanpa sengaja tetabrak seorang pria.
"Aww..."Adu Alya kesakitan.
Pria itu menoleh kearah Alya. Mereka berdua saling pandang dan jarak mereka begitu dekat.
__ADS_1
"Mas..."ucap Alya lirih.
Rio hanya memandang sendu wanita yang sangat ia rindukan. Ia menahan kerinduannya.
"Maafkan saya nona Alya." ucapnya dingin. Dan Rio meninggalkan Alya setelah minta maaf.
Alya terpaku memandang kepergian sang Rektor. Ingin rasanya ia memeluk tubuh pria itu tadi. Meluapkan rasa Rindunya. "Mas, kenapa kamu cuekin aku?" Batin Alya dalam hati.
"Yank..." panggil Reza memecah lamunan Alya.
"Iya.."
"Ayo kita jalan lagi."
"Iya."
Malam ini Alya membuat janji dengan Reza di cafe tempat biasa mereka makan.Ia memutuskan akan mengakhiri hubungannya dengan Reza. Alya tidak ingin memberikan harapan terlalu dalam sama Reza. Ia akan mengakhiri malam ini juga.
Reza ternyata sudah nyampai di cafe duluan. Menunggu kekasih hatinya. Yang di tunggu - tunggu pun telah tiba. Dengan senyum khas Reza, ia menyambut sang kekasih.
"Yank, cantik banget sih?" pujinya.
Alya hanya tersenyum."Makasih."
"Kamu mau pesan apa yank?" tanya Reza.
"Minum aja. Orange Juice." jawabnya.
__ADS_1
Pesanan mereka pun datang. Alya sebelum ngomong ia menyeruput juice nya. Ia pun menghela nafasnya pelan. "Za,...sebelumnya maafkan aku. Aku ingin kita akhiri hubungan kita ini." ucap Alya to the point.
"Maksud kamu apa yank? Kamu ingin kita putus?" tanya Reza tak percaya.
Alya mengangguk. "Maaf." lirihnya.
Reza masih tidak percaya apa yang di katakan Alya. Ketika dia lagi cinta - cintanya dengan wanita yang ada duduk di depannya. Hubungan mereka baru berjalan sebulan, Alya sudah minta putus.
"Kenapa kamu ingin mengakhiri hubungan kita?" tanya Reza sedih.
"Maaf Za, sebulan ini kita berhubungan, tapi...aku belum bisa mencintai kamu." ucap Alya lirih sambil menunduk.
"Biar aku saja yang mencintai kamu." sahut Reza.
"Gak bisa gitu Za. Itu akan menyakiti hati kamu." ucap Alya lagi.
"Aku gak peduli, biar saja aku yang mencintai kamu. Biar saja aku yang sakit nantinya. Aku gak peduli Alya!!" ucap Reza dengan suara meninggi.
"Za..."
"Sayang ... aku mohon?." Mohon Reza. Reza menggenggan tangan Alya.
Sepasang mata tak sengaja melihat mereka. Pria itu sangat cemburu melihat Alya dan Reza. Sampai sekarang ini mereka masih saja kelihatan mesra. Pria itu adalah Rio, "Apa kau terus menghukum aku seperti ini terus Alya? Apa kau tidak mencintai aku lagi." Gumamnya di dalam Mobil.
Rio terus memandangi Mereka. Reza yang tidak ingin melepas tangan Alya. "Seharusnya mas yang genggam tangan kamu seperti itu Alya." Gumamnya lagi.
Dengan rasa sesak di dadanya. Karena tidak sanggup melihat mereka Rio pergi dari tempat itu. Tujuannya lagi - lagi ke kantor. Ia akan bermalam di kantor lagi.
__ADS_1
Sementara itu, Alya dan Reza. "Za, maaf aku gak bisa." ucap Alya melepaskan genggaman tangab Reza. "Aku harus pergi Za. Semoga kau menemukan cinta sejati kamu. Dan...jangan jadi playboy lagi." ucap Alya tersenyum. Alya pun meninggalkan cafe itu. Reza masih terduduk memikirkan ucapan - ucapan yang dikatakan Alya.