
Ivan dan Rachel menuju sebuah butik yang menyajikan baju pengantin. Ivan membawa ke butik termahal dan terbagus di Jakarta.
Dilampu merah,mobil Sisil berhenti. Menunggu sampai lampu hijau. Mata Sisil melirik kesana kemari, matanya berhenti melirik ketika ia melihat sebuah mobil yang sangat ia kenal. Mobil itu milik Ivan.
Karena penasaran Sisil mengikuti mobil Ivan kemana. Lampu hijau menyala, berarti seluruh kendaraan yang berhenti harus melaju lagi. Sisil mengikuti kemana mobil Ivan melaju. Ivan memberhentikan mobilnya di parkiran sebuah butik ternama. Ivan membukakan pintu mobil untuk sang kekasih hatinya dan mengulurkan tangannya kepada Rachel. Ia menggenggam erat tangan sang kekasih masuk menuju butik.
Sisil melihat itu sangat kesal sekali. Ternyata Ivan membawa Rachel ke butik khusus baju pengantin. Ia memukul setir mobilnya dan berteriak tertahan. "Brengsek!! Brengsek kau Rachel. Ivan milik aku!!" teriak Sisil tertahan.
Dengan perasaan kesal bercampur aduk, Sisil menunggu sampai keduanya keluar dari butik itu. Ia ingin tahu kemana lagi Ivan membawa Rachel. Setelah menunggu selama dua jam. Akhirnya Ivan dan Rachel keluar juga dari butik itu. Dan melanjutkan perjalanan mereka. Ivan mengantarkan Rachel ke Mansion papi Reyhan, karena Keindra dan Mega telah kembali dari bulan madu mereka. Rachel ingin meminta oleh oleh kepada mereka.
Ivan tak bisa singgah, karena masih ada pekerjaan kantor yang harus diselesaikannya. "Yank...maaf ya. Gak bisa singgah." seru Ivan bersalah.
"Gak apa apa Mas. Mas kerja aja yang baik. Kumpulin uang, untuk baby kita nanti." Ucap Rachel sambil mengelus perutnya.
"Iya sayang...papa pergi dulu ya Nak. Baik baik sama Mama ya." seru Ivan kearah perut Rachel yang masih rata dan mengecupnya.
Ivan pergi ke kantornya. Dan mobil Sisil yang menunggunya sedari tadi, mengikutinya lagi. Ternyata Ivan menuju kantornya. Sisil terus mengikutinya.
Sampai di kantor, Ivan melanjutkan pekerjaannya yang tertunda. Dan akan segera menyelesaikannya agar ia bisa bertemu lagi dengan Rachel.
Pintu ruangan Ivan terbuka.
Ceklek...
"Hai sayang..." sapa Sisil dengan manja.
Ivan mendongakan kepalanya. Ck. Mengganggu saja pikirnya. Ivan tak memperdulikan kedatangan Sisil, membuat wanita itu sangat kesal. Kini ia di cuekin oleh pria yang selalu memuja tubuhnya dulu.
__ADS_1
Dengan berani Sisil menghampiri Ivan ke kursi kerjanya dan duduk di atas pangkuannya.
"Sayang...kau tak merindukanku?" bisik mesra Sisil.
Sisil terus menggoda Ivan. Ia mengelus pipi Ivan dan mengecup singkat pipinya. Bahkan Sisil berani membuka satu kancing kemeja Ivan dan memasukkan tangannya kedalam untuk mengelus dada bidang Ivan. Namun sebelum Sisil melakukannya. Tangan Ivan menahannya.
"Jangan sentuh aku Sisil." seru Ivan kesal dan ia pun menepis tangan Sisil.
"Kau tak merindukanku? Kau tak ingin aku goyang?" bisik Sisil menggoda. Ia tak pernah gentar untuk menggoda Ivan.
"Ck. Aku bukan Ivan yang dulu Sisil." Seru Ivan tegas.
"Oya..? Apa kau menemukan wanita yang baru, untuk memuaskan hasrat mu?" seru Sisil lagi.
"Hah. Pergilah. Jangan ganggu aku lagi." Ivan menurunkan Sisil dari Pangkuannya, bahkan Sisil hampir terjatuh.
"Aku tak ingin di ganggu." jawab Ivan datar dan dingin.
"Apa ini semua gara gara Rachel?" tebak Sisil.
Ivan sedikit terkejut. Namun ia tak boleh menampakan, ia tak ingin membahayakan Rachel. Dan tak ingin rencana pernikahannya dengan Rachel diketahui Sisil. Namun sayang Sisil sudah mengetahuinya.
"Bukan urusan mu." ucap Ivan ketus.
"Aku sudah tau, kau ingin menikah dengan Rachel kan?" ucap Sisil mengejek.
Ivan sontak terkejut. Sisil mengetahuinya. Tapi Ivan bersikap biasa saja. Anggap Sisil tahu tentang rencana pernikahannya. Namu Sisil tak tahu itu kapan terjadi. Dan tak boleh tahu.
__ADS_1
"Terus, kenapa aku ingin menikah dengan Rachel?" tanya Ivan biasa saja.
"Kau tak akan bisa menikahinya. Kalau itu terjadi, aku akan memberitahukannya kepada Rindi." ancam Sisil.
"Coba saja. Kau akan menyesal." seru Ivan.
"Kau berani menantangku sayang?" tanya Sisil.
"Pergilah Sisil. Jangan ganggu aku lagi." Ia tak ingin berdebat dengan wanita itu.
"Kau mengusirku?" Sisil tak habis pikir.
Ivan mengambil ponselnya diatas meja kerjanya. Dan menelpon pos security. Ia ingin security mengusir Sisil.
Ceklek...
"Kalian sudah datang? Bawa wanita ini keluar. Dan jangan biarkan ia masuk ke kantor ini lagi. Kalian mengerti?!" tegas Ivan.
"Baik Tuan." sahut kedua security itu.
Kedua security itu menarik Sisil paksa agar keluar dari ruangan CEO mereka. "Lepaskan aku?!!" teriak Sisil, ia tak terima diperlakukan seperti ini.
"Ivan!! Berani sekali kau memperlakukan aku seperti ini. Awas kau, aku akan membalasnya!!" teriaknya. Security itu membawa Sisil keluar dari gedung perusahaan itu.
Sisil sangat marah. Ivan nya sudah berubah. Ivannya tak seperti dulu. Dulu Ivan di rayu dan disentuh saja sudah tergoda.
Ivan menghela nafasnya. Ia harus melakukan sesuatu, agar rencana pernikahannya dengan Rachel berjalan dengan lancar.
__ADS_1
Bersambung...