Cinta Seorang Single Daddy

Cinta Seorang Single Daddy
S3. Part 72


__ADS_3

Jimmy harus jujur dengan Rindi. Agar hubungannya dengan Rindi akan baik baik saja. Jimmy menghela nafasnya pelan.


"Baby....aku akan jujur sama kamu." Bisik Jimmy lirih.


Jimmy akan memulai berkata jujur dengan Rindi. Tak ingin menyimpan suatu rahasia.


"Dengarkan aku Baby, aku...dan Sisil...dulu, memang ada sebuah hubungan." Ucap Jimmy dan sebelum meneruskannya Jimmy menarik nafas dalam dalam dan menghembuskannya perlahan.


"Hubungan apa mas?" potong Rindi.


"Sisil partner ranjangku." Jujur Jimmy. Pria itu menjelaskan semuanya. Siapa dia sebenarnya. Banyak wanita yang sudah menjadi teman ranjangnya. Jimmy juga mengatakan kepada Rindi bagaimana hubunga nya dengan Sisil.


Rindi shock mendengarnya. Ingatanya kembali beputar, ketika dirinya berkunjung ke aparteman Sisil, disana ada Jimmy, kondisi Jimmy saat itu hanya bertelanjang dada saja. Seperti habis melakukan sesuatu saja.


"Baby, itu masa laluku. Sekarang aku tidak lagi berhubungan dengan Sisil, atau pun dengan wanita lainnya. Hanya kamu wanitaku." Jimmy berkata jujur. Pria itu sangat takut kalau Rindi akan mengakhiri hubungan mereka. Karena dapat dilihat dari wajah sang kekasih, begitu banyak kekecewaan.


Dilihat dari matanya, Jimmy tak berbohong. Namun jauh dilubuk hatinya Rindi masih belum yakin dengan ketulusan Jimmy.

__ADS_1


"Yang mas lakukan tadi, bersama Sisil apa? Kalian mengenang masa lalu?" tanya Rindi pelan.


"Maksud kamu? Sisil datang secara tiba - tiba."


"Apa kau tidak bisa menolaknya?" Jujur saja Rindi cemburu.


"Maafkan aku Baby. Maaf?" Mohon Jimmy.


"Aku ingin pulang mas. Aku ingin sendiri. Jangan menghubungi aku dulu." Pinta Rindi. Untuk saat ini Rindi sangat kecewa. Dengan mata berkaca - kaca Rindi berdiri dari duduknya dan berjalan menuju pintu ruangan sang kekasih. Rindi pergi meninggalkan ruangan itu dengan linangan air mata.


Apa seperti ini rasanya dikhianati. Rindi jadi ingat Rachel sang sahabat. Dirinya merasa bersalah. Rindi menangis tergugu di dalam mobilnya. "Hiks...hiks..." Rindi memukul dadanya. Rasanya sakit sekali.


Merasa sudah tenang, Rindi melajukan mobilnya menuju Mansion sang kakak Ivan. Mungkin Rindi akan meminta maaf kepada mereka.


***


Diruangan Jimmy.

__ADS_1


Pria itu sangat frustasi, sang kekasih pasti sangat kecewa. Seharusnya tadi dia menolak kedatangan Sisil, seharusnya tak dibiarkannya Sisil duduk dipangkuannya. Jujur selama berpacaran dengan Rindi pria itu tak lagi menyentuh seorang wanita. Tapi, ketika bertemu dengan Sisil tadi, hasratnya sedikit datang.


Jimmy merutuki kebodohannya. Harusnya dia bisa menahannya. Jimmy mengambil ponselnya di atas meja kerjanya. Mencoba untuk menelpon sang kekasih, berkali kali tak ada jawaban. Jimmy melemparkan ponselnya kelantai sampai pecah.


Jimmy mengambil kunci mobilnya dan keluar dari ruangannya untuk menyusul sang kekasih. Jimmy tak bisa berpisah dari sang kekasih. Tempat yang ditujunya pertama adalah rumah sang kekasih.


***


Rindi sudah memarkirkan mobilnya di depan sebuah Mansion besar sang kakak. Rindi menatap sejenak Mansion itu. Apa sang kakak mau memaafkannya.


Menghela nafas berkali - kali, akhirnya Rindi meutuskan untuk turun dari mobilnya dan berjalan menuju pintu utama Mansion.


Ting ....tong...ting...tong....


Sekali memencet bel pintu. Pintu Mansion terbuka. Tampak seorang wanita parubaya menyapanya. "Nona Rindi? Apa kabar Nona?" tanya Bi Isah. Bibi pelayan dirumah orang tua Rindi dan Ivan. Ivan membawanya ke Mansionnya untuk menjaga Rachel yang lagi hamil besar.


"Bi...Kak Ivan ada?" tanya Rindi lirih.

__ADS_1


__ADS_2