Cinta Seorang Single Daddy

Cinta Seorang Single Daddy
Bertemu Dengan Sandra


__ADS_3

Sandra senang rasanya. Ricko ternyata mengakui kalau ada anak di dalam perutnya. Ia mengakui kalau anak itu adalah anaknya.


Usia kandungan Sandra sudah berjalan empat bulan. Setiap bulannya ia selalu rutin cek kandungannya. Sandra ingin sekali ditemani oleh Ricko. Tapi itu tidak mungkin, sekarang Ricko mempunyai seorang istri. Ricko hanya bertanggung jawab kepada anaknya saja.


Hari ini adalah jadwal pemeriksaan Sandra. Ingin rasanya dia menelpon Ricko untuk menemaninya. Tapi ia tidak berani. Iya tahu posisinya sekarang, Ricko hanya bertanggung jawab hanya kepada anaknya saja.


Setelah pemeriksaan selesai dan kondisi janin baik - baik saja. Dokter hanya menyarankan untuk memakan makanan yang sehat seperti buah - buahan dan sayuran.


Sandra mampir ke sebuah mini market untuk membeli beberapa buah - buahan. Dan tanpa sengaja ia bertabrakan dengan Seorang wanita. "Aduh..." ucap wanita itu.


Sandra menolong wanita itu. "Maafkan saya mbak."


Wanita itu menoleh kearahnya. "Sandra Kan?" tanyanya.


"Mbak Shinta?" Shinta mengangguk iya.


"Kamu sendiri?" Tanya Shinta..


"Iya mbak. Kalau mbak?, Mas Ricko nya mana? Kok gak bareng?" tanya Sandra.


"Iya, tadi cuma sempat ngantar doang, terus dia langsung ke kantor." jawab Shinta.


"Oh.." Sandra hanya ber oh ria saja.


Obrolan mereka berlanjut di sebuah cafe di dekat mini market tersebut. Mereka kelihatan sudah sangat akrab. Banyak hal yang mereka obrolkan.


Mata Shinta menuju perut Sandra. Perutnya menonjol kedepan. Apakah mungkin Sandra hamil?. Entahlah.

__ADS_1


"Sandra, boleh nanya sesuatu?" tanya Shinta ragu - ragu.


"Kenapa mbak?"


"Kamu lagi hamil ya?" tanya Shinta.


Sandra terdiam sesaat, dan menghela nafasnya pelan. "Iya...mbak. Aku sedang hamil empat bulan." jawab Sandra lirih.


"Wah...selamat ya? Sebentar lagi kamu jadi seorang ibu."


Sandra hanya tersenyum. Ia merasa bersalah kepada Shinta. Ia merasa mengkhiati wanita baik seperti Shinta. "Maafkan aku mbak, anak ini anak suamimu." Batin Sandra.


Setelah berbincang - bincang merek pun akhirnya pulang.


********


Dirumah Reyhan dan Laras di siang harinya.


Sekarang Laras sudah berada di kamarnya. Ia sangat merindukan kamar ini. Kondisinya sudah mulai membaik. Hanya butuh istirahat saja. Reyhan tidak membiarkan istrinya banyak bergerak dulu. Untuk menjaga baby Kei, Reyhan menyewa jasa Babysitter.


"Sayang, kamu harus banyak - banyak istirahat, gak boleh banyak bergerak." tegas suaminya.


"Iya mas. Tapi gendong Kei boleh kan mas?." mohon Laras.


"Jangan dulu sayang. Sekarang Kei sudah bertambah bobot beratnya. Jadi kamu jangan gendong Kei dulu ya?." ucap Reyhan pelan.


"Iya deh." ucapnya cemberut.

__ADS_1


Reyhan menggelengkan kepalanya. Melihat wajah istrinya cemberut begitu sangat menggemaskan sekali.


"Kamu, istirahat dulu ya sayang. Mas mau kekantor sebentar, ada yang harus mas kerjakan bersama Miko." pamit Reyhan.


"Iya mas. Jangan lama - lama baliknya." Ucap Laras manja.


"Ok sayang." Mengecup dahi istrinya.


Diperjalanan menuju kantor di dalam mobil hanya keheningan yang ada. Miko yang sedang menyetir sedari tadi hanya melamun saja. Dia memikirkan bagaimana memberitahukan kepada Shinta tentang perbuatan Ricko suaminya.


"Ko?!. Kenapa Lo. Dari tadi aku lihat diam mulu. Sariawan?." Tegur Reyhan.


"ehhmm...Gak apa - apa." Jawab Miko dingin.


"Dingin banget jawabnya." Ujar Reyhan heran dengan sikap Miko. Reyhan teringat dengan kejadian di rumah sakit kemarin. Dimana Miko menatap tajam Ricko. Sepertinya Miko ingin sekali menghajar laki - laki itu. Reyhan tak tahu apa sebabnya.


"Ko. Lo ada masalah dengan Ricko?." Tanya Reyhan to the point.


Miko tidak menjawabnya. Ia hanya diam.


"Ko!!?. Apa Lo masih belum terima Shinta bersama Ricko?." tanya Reyhan lagi.


Lagi - lagi Miko hanya diam. Ia masih fokus menyetir.


"Miko!!!!". Teriak Reyhan memekikan.


Miko tersentak medengar teriakan Reyhan. "Apaan sih Lo Rey. Bisa - bisa tuli telinga gue." Jawab Miko ketus.

__ADS_1


"Bodo!!. Dari tadi gue nanyak elo. Diam mulu Lo." Ucap Reyhan sewot.


"Rey, gue pengen ngomong sesuatu sama Lo. Gue pikir, cerita sama lo bisa mengurangi beban gue." Miko memberhentikan mobil di sebuah cafe kecil. Ia harus bicara dengan Reyhan masalah ini. Mudah - mudahan Reyhan bisa membantunya.


__ADS_2