
6 bulan sudah Reyhan menjalani rutinitas dengan penuh semangat karena sosok Sinta pacarnya. Waktu bertemu mereka pun semakin intens, dan bahkan setiap pergi kencan Reyhan selalu membelikan apa yang di mau oleh Sinta. Mulai dari tas, baju, boneka, pulsa, dan semua kebutuhan Sinta Reyhan yang mencukupi. Otomatis pengeluaran Reyhan pun akhir-akhir ini membengkak.
Gajian masih seminggu lagi, tapi dompet Reyhan sudah bisa dipakai sebagai kopyah saking isinya yang sudah raib.
"Seumur umur dompetku ngga pernah kosong tapi kenapa sekarang belum akhir bulan saja dompet ku sudah kaya sinetron judul nya, KU MENANGIS." gumam Reyhan disertai isakan.
'Apa bener yang di katakan mas Didi, kalo cewek yang baik itu ngga bakal mau di ajak pacaran, tapi maunya langsung nikah. Kalo pacaran bakalan rugi udah keluar uang banyak tapi ngga jadi nikah. Tapi, aku lihat Sinta orangnya baik, kalo di ajak bicara nyambung, keluarganya juga baik ke aku. Jadi sepertinya ngga mungkin kalo dia bakal ngrugiin aku, pasti suatu saat nanti dia bakal nikah sama aku. Nikah? ya ampun, gimana nanti rasanya kalo nikah. Bakalan seperti yang diomongkan mas Didi atau seperti mas Doni ya? Ah masa bodoh, nikahku masih lama. Ngapain ngurusin yang belum pasti, mending gimana caranya menggemukkan dompetku ini lagi.' Batin Reyhan.
Beberapa panggilan tak terjawab dan pesan masuk datang dari Sinta. Tapi, karena peningnya kepala Reyhan, dia sampai ketiduran dan tidak mendengar semua itu. Hingga suara Adzan Maghrib mengusik pendengarannya. Lamat lamat ia membuka mata dan mengecek jam di handphonenya. Alangkah terkejutnya ketika menyadari banyak nya panggilan tak terjawab dan pesan dari Sinta. Reyhan pun segera membalas pesan Sinta. Ditunggu beberapa saat tak ada tanda pesan masuk akhirnya Reyhan bergegas mandi dan melaksanakan sholat Maghrib.
Kali ini sholat nya lebih khusu', doanya pun lebih lama. Rupanya dia sedang mengadukan masalah ekonomi nya pada Tuhan nya. Setelah selesai sholat Reyhan segera mengecek handphone nya, tapi lagi lagi belum ada balasan pesan dari Sinta. Daripada menunggu lama ya di telepon aja pikirnya.
"Hallo Sinta sayang?" ucap Reyhan setelah panggilan kelima nya baru Sinta angkat.
"Kok ngga buru buru diangkat lagi ngapain"
"Jangan ngambek dong, ntar ilang kutu rambutnya. Eh ilang cantiknya maksudku sayang?"
..........
Akhirnya setelah 1 jam lebih bercerita Reyhan mematikan teleponnya.
"Huh, kenapa cewek suka ngambek sih, padahal aku cuma ketiduran doang. Untung bisa aku rayu." gumam Reyhan lalu merebahkan diri lagi di kasurnya.
'Minta uang ke ibu ngga mungkin rasa rasanya, karena niatku diawal kerja memang untuk membantu 2 krucil itu sekolah. Mau berhutang ke mereka (mas Doni Rudi dan Didi) rasanya juga ngga mungkin, bisa jatuh harga diriku. Ini aja Sinta udah ngomel ngga diajakin keluar.' batin Reyhan.
"Argh.... sial."
_____
"Biasanya kamu yang paling semangat kalo soal kerjaan, tumben ini kelihatan kusut Rey" tanya Doni yang melihat Reyhan kurang fokus dalam proses perbaikan mesin.
"Ah biasa aja deh mas aku, buruan lanjutin tuh kerjaannya biar cepet selesai." jawab Reyhan singkat sambil mengganti onderdil.
Doni yang melihat tingkah aneh Reyhan pun akhirnya diam saja.
Jam sudah menunjukkan pukul setengah 12 siang saat nya mereka beberes, menuju mushola lalu terakhir makan siang.
"Wah, tumben nih jadi anak mami, ke pabrik bawa bekal. Lagi mode hemat ya." celetuk Rudi yang melihat Reyhan mengeluarkan bekal nasi dari tasnya.
Reyhan yang ditanya seperti itu pun cuma diem saja kurang memperhatikan pertanyaan Rudi.
Doni Rudi dan Didi yang melihat hal itupun heran, tumben tumbenan Reyhan bersikap seperti itu.
"Kamu ada masalah Rey? kalo ada apa apa cerita dong ke kakak kakak senior." ucap Doni sambil meneguk segelas es teh.
__ADS_1
"Hey." Didi menyenggol lengan Reyhan yang duduk di sampingnya.
"Eh kenapa mas?" tanya Reyhan ke Didi dengan ekspresi terkejut.
"Ya Allah gusti... kenapa anak ini tumben tumbenan kabelnya konslet? diajak ngomong ngga nyambung gini." ungkap Doni.
"wkwkwk" akhirnya mereka kompak tertawa.
"Aku.... ngga papa kok mas, lagi di fase males kerja pengen nya rebahan mulu." jawab Reyhan akhirnya sambil menyuap nasi yang sejak tadi di aduk aduk saja.
"Eh kamu lupa ya, kalo kita punya ilmu penerawangan, jadi kamu ngga bisa bohong ke kita, mau ngomong langsung atau.....?" Rudi sengaja menggantung kalimat nya untuk memancing Reyhan bercerita.
"Ayo ngomong." Didi pun segera menyenggol lengan Reyhan lagi memaksa cerita.
"Soal Sinta kaan...?" lagi Doni menyudutkan Reyhan dengan pertanyaan nya.
"Huh ... "
Reyhan segera mengambil nafas panjang sebelum bercerita ke teman teman nya yang sudah di anggap sebagai kakaknya sendiri. Toh merahasiakan hal apapun pasti mereka akan tau.
Kejadian soal menyukai Evi yang ternyata sudah memiliki pacar anak tuyul itu Rudi dapatkan dari salah satu saudara yang merupakan tetangga Evi yang bahkan melihat kejadian itu langsung tatkala membuka pagar rumah. Juga kejadian soal Reyhan menyukai Ratna yang sudah memiliki suami dan anak diketahui oleh Doni yang kebetulan mendengar percakapan Ratna dengan teman teman nya. Dan, semua itu mereka bongkar di meja hijau kantin pabrik. Tentu saja hal itu membuat Reyhan malu setengah mati dihadapan mereka.
"Jadi kamu mau bercerita atau mengheningkan cipta Rey." untuk kesekian kalinya Didi menyenggol lengan Reyhan.
"Iya iya.."
"Bwahaha...." tawa ketiga temannya bagai badai ditelinga Reyhan.
"Nah kan.... Giliran aku cerita malah diketawain, dasar!" maki Reyhan.
"Engga... kita cuma mendramatisir suasana aja biar lebih dapat angel nya." potong Doni.
Mereka pun perlahan lahan mengurangi suara tawanya walaupun masih ada yang sempat terkikik.
"Tapi aku ngga terima, dibantu solusi kek." protes Reyhan.
"Trus kamu maunya gimana? Putus?" ucap Didi.
"Kok putus mas, ngga ada yang lain gitu?"
"Aku tuh suka banget sama Sinta selain cantik, kalo diajak ngomong dia juga gampang nyambung, ngga usah aku suruh pegangan dia juga pegangan sendiri, apalagi ya...... pokoknya Sinta tuh banyak kebaikannya. Lagian nih ya, keluarga Sinta udah akrab banget sama aku. Tiap kesana pasti minta beli es krim, ibunya minta dibeliin tikar. Jadi, ngga mungkin deh kita putus." Terang Reyhan.
"Tikar buat duduk?" tanya Didi.
"Tikar: Roti Bakar." jelas Reyhan. Mereka pun kembali terkekeh.
__ADS_1
"Pegang apa?" ganti Doni yang bertanya.
"Itu... pegang motor bagian belakang. " poles Reyhan.
"Uhuk uhuk. Kita ngga percaya." sanggah Rudi sambil tersenyum mengejek.
"Nah, kalo kamu udah tau dia banyak baiknya ya lanjut aja tapi kalo banyak buruknya ya ganti aja sama yang baru." Rudi melanjutkan bicaranya.
"Kamu pikir sandal jepit mas, kalo udah putus langsung beli yang baru?"
"Kalo aku potong uang bulanan untuk keluarga takut nya ibuku curiga. Tadi aja ibuku tanya liat aku bawa bekal."
"Trus.. kamu jawab gimana?" ucap Doni serius menatap Reyhan sambil mengupas kacang.
"Ya... aku jawab aja lagi pengen bawa bekal seperti teman-teman lainnya gitu."
"Menurutku, kamu kurangin aja waktu ketemu dengan Sinta, lagian di pabrik juga udah sering ketemu kan. Makin sering ketemu pasti jadi makin sering bikin dosa. Anak muda zaman sekarang mah pasti gitu." Didi menasehati.
"Iya pak ustadz." jawab Doni dan Rudi sambil cengengesan tentunya.
"Betul itu Rey, lagian niat awal kamu kerja kan buat bantuin ibumu kasian kan kalo dipotong. Jadi ya mending seperti apa kata Didi aja dikurangi jadwal berkunjung pasiennya, eh berkunjung ke rumah pacar. Kalo pengen tiap hari ketemu ya nikah, dah beres."
"Ah... entahlah..." jawab Reyhan masih ngambang.
"Ya udah yuk buruan masuk, waktu bimbingan konseling udah habis." Kata Doni.
Mereka pun segera meninggalkan kantin.
Niat hati ingin mengurangi jalan jalan dengan Sinta tapi tetap tidak tega, akhirnya tetap seperti biasa bertemu. Jalinan cinta mereka semakin erat.
Pagi itu Reyhan sampai di ruang absen karyawan, dirinya penasaran melihat para karyawan mengerubungi papan pengumuman. Reyhan pun berniat mendekat.
"Ada apa mas? kok pada berjubel di sini, udah kayak antri sembako aja." Reyhan bertanya ke Doni yang ikut berjubel.
"Hush, mulutmu di jaga! kalo antri sembako, biar berjubel tetep ada hasilnya seneng, kalo ini berjubel tapi berita duka bagi kita," jawab Doni.
"Apa maksudnya, mas?" kata Reyhan makin penasaran lalu segera meninggalkan Doni dan ikut mengerumuni papan pengumuman. Akhirnya berhasil menerobos kerumunan dan mulai mengamati deretan tulisan.
'APA... aku ngga lagi mimpi kan?!' batin Reyhan, tangannya menunjuk deretan namanya yang terpasang di papan pengumuman.
'Perasaan kerjaku baik, tapi kenapa juga aku ikut tereleminasi.' batin Reyhan sambil berlalu menjauh dari kerumunan.
"Perasaan baru aja kemarin aku cerita masalah Sinta tapi malah sekarang aku dapat masalah lagi kayak gini, aku makin bingung mas." keluh Reyhan.
"Sabar ya Rey, aku doain semoga cepat dapat kerjaan lainnya." kata Doni menepuk pundak Reyhan.
__ADS_1
"Makasih ya mas udah mau jadi temanku, bantuin aku selama kerja disini. Aku minta maaf ya kalo ada salah. Sampaikan salam ku ke mas Didi dan Rudi ya."
Doni menjawab dengan anggukan sambil tersenyum lalu keduanya saling berpelukan. Doni pun hanya bisa menatap dengan iba ketika Reyhan mulai berjalan ke arah pintu keluar.