
"Aku suka melihatmu yang terlihat bersemangat." Bayu menghentikan aktivitas membalas chat di market place. Lalu, menoleh ketika mendengar suara kakaknya.
Reyhan duduk di depan Bayu dan meletakkan seteko es kopi kesukaan mereka. Duduk bersantai di depan rumah adalah satu hal yang sangat menyenangkan bagi mereka, karena sangat jarang bisa dilakukan, mengingat kesibukan masing-masing yang cukup padat.
Tak lama kemudian, pak Somad menghampiri mereka dengan membawa sepiring cilok hangat yang membuat perut berdangdut ria.
"Buat temen ngopi." kata pak Somad sambil tersenyum dan meletakkan diatas meja.
Reyhan segera merogoh saku celananya berharap menemukan uang untuk membayar cilok.
"Ini gratis untuk kalian mas, cuma tinggal itu saja, biar bapak cepat pulang." pak Somad sudah mendahului sebelum Reyhan berhasil menemukan uang dalam sakunya.
"Terimakasih, jadi ngrepotin bapak." ucap kakak beradik itu kompak.
"Bagaimana perkembangan countermu?" Reyhan mulai bertanya sambil mencocolkan cilok pada saos dan melahapnya.
"Lumayan sih, setelah beberapa bulan jatuh bangun, bulan ini mulai ada kenaikan omset. Yah, walaupun ngga sebanyak omset kamu tentunya." Bayu masih merasa kikuk ketika berbicara dengan kakaknya.
"Alhamdulillah, seberapapun hasilnya harus disyukuri. Tidak hanya dalam bentuk lisan, tapi juga dalam perbuatan."
"Maksudnya?" Bayu mengernyitkan dahi dan menunda makan cilok.
"Kalau dalam lisan ya selalu berucap syukur Alhamdulillah. Kalau dalam bentuk perbuatan, ya berbagilah pada yang kurang mampu."
"Seperti menyumbang ke panti asuhan misalnya?" tanya Bayu lagi, Reyhan pun mengangguk.
Dari dalam rumah, bu Rohmah tersenyum lega. Karena melihat kedua anaknya yang perlahan mulai akur.
Dalam hati bu Rohmah, ia selalu mendoakan segala kebaikan untuk semua anaknya.
_____
"Lhoh, kamu?" ucap Sinta ketika melihat Bayu berada di counter Reyhan.
Awalnya Sinta ingin membeli paket data sekalian berharap bisa bertemu dengan Reyhan. Namun, Reyhan sangat susah untuk ditemui.
Dan, ketika bertemu dengan Bayu di counter Reyhan, Sinta langsung berbinar bahagia. Begitu juga dengan Bayu, yang sudah lama menunggu Sinta menghubungi nya tapi tak juga ada kabar.
"Sinta?" saking bahagianya, suara Bayu terdengar bergetar.
Setelah menyelesaikan urusan mereka, Sinta dan Bayu mengobrol di kedai jus yang dekat dengan counter.
__ADS_1
"Aku kira kamu sudah lupa sama aku."
"Mana mungkin aku lupa sama cowok yang jalannya kayak kereta, main nylonong aja sampai nabrak orang." Sinta terkekeh mengingat awal pertemuannya dengan Bayu.
"Maafkan aku, saat itu aku lagi capek dan kurang fokus."
"Masalah kerjaan?" tebak Sinta. Bayu mengangguk, karena tak mungkin ia bercerita yang sebenarnya ke orang yang belum akrab.
Keduanya bercerita dengan sangat antusias, sampai terdengar bunyi handphone Sinta yang terasa mengganggu.
Sinta segera berjalan sedikit menjauh agar Bayu tidak mendengar, ketika melihat nama Andre yang menghubungi nya.
"Hallo sayang." jawab Sinta dengan suara berbisik.
"Oh, iya sebentar lagi aku sampai rumah, baru beli paket data." cukup singkat pembicaraan mereka, agar Bayu tak curiga dengan Sinta.
"Maaf ya mas, ngga bisa lama-lama, ibuku sudah menghubungi." dusta Sinta agar terlihat seperti orang polos.
"Itu tandanya ibumu sangat menyayangi mu. Tidak apa-apa segera pulang saja." Sinta tersenyum mendengar penuturan Bayu dan mengucapkan terima kasih.
"Tunggu! Tulis nomor telepon mu dulu. Aku ngga mau kehilangan kesempatan untuk berteman dengan mu." Bayu menyodorkan handphonenya. Sinta tersenyum dan mengambil handphone itu, lalu mengetikkan nomor teleponnya.
"Terimakasih Sinta." ucap Bayu sambil menerima handphone nya.
_____
"Mas Andre, sudah lama nunggunya?" tanya Sinta menghampiri Andre yang duduk diteras rumah Sinta.
"Ayo, kamu mau jalan jalan kemana?" tanya Andre yang membuat Sinta sangat bahagia dengan penawaran nya.
"Nemenin aku ke salon yuk. Aku kan harus selalu tampil cantik, agar kamu tidak lirik sana sini." gurau Sinta. Andre langsung mengangguk setuju.
Andre mencintai Sinta pada pandangan pertama karena kecantikan yang dimiliki Sinta. Tapi, sampai sekarang Andre tidak pernah mengetahui. Bahwa, dibalik kecantikan Sinta, tersemat kebusukan hatinya.
Karena Sinta tak hanya mencintai Andre seorang, melainkan ada beberapa laki-laki yang saat ini sedang dikejar oleh Sinta karena kekayaannya.
Uang memang bukan segalanya, tapi segalanya butuh uang. Tanpa uang manusia tidak akan bisa memenuhi kebutuhan hidupnya yang terlampau banyak.
Itulah prinsip hidup Sinta yang sangat dipegang kuat. Agar kehidupannya senantiasa terlihat mewah dan menyenangkan.
"Kamu semakin terlihat cantik sayang ku." tak ragu Andre memuji Sinta setelah Sinta selesai melakukan treatment kecantikan.
__ADS_1
"Aku cantik juga berkat kamu, karena kamu yang selalu membayarkan biaya treatment." Sinta menggamit lengan Andre dengan mesra agar Andre selalu royal padanya.
"Sayang, aku sudah ngga tahan sama terik matahari. Sepertinya kamu harus cepat cepat beli mobil deh." Sinta mulai berkeluh-kesah.
"Sabar ya sayang, kan harga mobil ngga cuma seribu atau dua ribu. Tapi, berjuta juta. Belum lagi, aku juga harus mengumpulkan uang untuk biaya pernikahan kita."
DEG!
Jantung Sinta seakan berhenti berdetak. Petualangan cinta nya belum berakhir dan tiba-tiba ia diingatkan tentang sebuah pernikahan. Ia lupa menyadari, bahwa hubungannya dengan Andre tidak hanya sekedar pacaran, tapi sudah resmi bertunangan. Seketika raut wajah Sinta berubah datar.
"Ayo naik sayang." tiba-tiba suara Andre mengejutkannya. Sinta terpaksa senyum dan segera membonceng Andre.
'Kenapa dulu, aku terburu-buru mengiyakan ajakan Andre untuk bertunangan?' batin Sinta.
Sinta bersiap siap tidur karena hari memang sudah larut malam. Badannya terasa capek karena seharian pergi dengan Andre. Handphone nya bergetar pertanda ada pesan masuk.
"Nomor baru?" gumam Sinta sambil mengernyitkan dahi. Mencoba untuk berpikir jernih, karena takut terkena pesan penipuan yang memang sering terjadi.
"Astaga, Bayu!" Sinta memekik terkejut karena ternyata itu pesan dari Bayu, lalu segera membalasnya sambil senyum-senyum sendiri.
Mereka saling berbalas chat sampai tak sadar, salah satunya tertidur duluan.
Sinta sangat terkejut ketika tiba-tiba alarm handphone nya berbunyi dengan nyaring. Dirinya segera bangkit dari tidur dan bersiap siap untuk berangkat kerja.
'Astaga, gara-gara Bayu aku hampir saja telat masuk kerja.' batin Sinta ketika sudah sampai di tempat kerjanya.
Hal yang sama juga terjadi dengan Bayu. Sebuah serangan kecoak yang jatuh tepat di mukanya membuat ia tersentak kaget, dan langsung tersadar dari tidurnya.
"APA! Jam 12 siang?" Bayu membelalakkan matanya tak percaya ketika melihat jarum jam dinding.
"Perasaan aku baru saja berbalas pesan dengan Sinta kenapa sudah siang?" Bayu menggerutu kesal.
Bayu langsung keluar kamar, dan menyaksikan bahwa rumahnya sudah benar benar sepi. Dia sudah tahu kemana anggota keluarganya pergi.
"Kalau ketahuan kak Reyhan bangun ku sesiang ini, pasti bakalan di marahin habis habisan." gumam Bayu.
Bangun tidur ke terus mandi, sepertinya tidak berlaku untuk Bayu. Karena nyatanya dia lebih memilih membuka tudung saji, melihat menu yang ada. Perutnya terasa sangat melilit kelaparan.
Hai kak, sambil nunggu author update bab selanjutnya, mari mampir di karya besti author.
Jangan lupa selalu tinggalin jejak ya. like hadiah vote favorit 😘😘
__ADS_1