Juragan Muda

Juragan Muda
102. Sebuah bukti


__ADS_3

"Apa! Dari mana kakak tahu kalau aku semalam teleponan?" Bayu seketika membulatkan matanya.


"Ngga usah tanya aku tahu dari mana, tugas ku sebagai kakak adalah menasehati. Terserah kamu teleponan dengan siapa saja, yang penting jangan sampai mengganggu waktu tidur. Jangan sampai meninggalkan sholat juga, itu kewajiban kita sebagai seorang muslim Bay. Ayam saja, pagi buta sudah bangun cari rezeki. Nah kamu, masih enak enakan molor. Buruan mandi sana, aku pamit dulu mau cek counter sekalian belanja. Assalamualaikum." dengan terkikik Reyhan meninggalkan adiknya itu.


"Sialan, aku disamain dengan ayam. Kelewatan tuh kak Reyhan. Buat apa aku capek capek keluar uang buat bayar karyawan, kalau aku ngga bisa santai menikmati waktu." dengan bersungut-sungut kesal Bayu berjalan menuju dapur mencari makanan untuk pengganjal perut yang sudah mulai keroncongan lagi.


Melihat menu makanan yang sudah tersaji di meja, air liurnya seakan menetes. Ada sayur bayem yang di campur dengan jagung wortel dan toge, sambal terasi, ikan asin. Menu sederhana yang menyegarkan. Bergegas ia mengambil piring dan langsung menuang nasi. Suara denting sendok yang beradu dengan piring menandakan ia benar-benar lapar, padahal sebelum tidur tadi malam ia sudah makan banyak.


"Seumur-umur aku tak pernah makan sebanyak ini. Apa jatuh cinta memang bikin lupa segalanya? Lupa bangun pagi, lupa sudah makan sepiring, dan sekarang mau nambah lagi." gumam Bayu sambil terkekeh, lalu kembali menuang nasi ke piring.


"Ah, belum kaya-kaya amat juga ngga apa-apa, yang penting hidup sudah lumayan enak. Ngga punya tanggungan hutang lagi. Hubungi Sinta ah." Bayu mulai menyandarkan tubuhnya di kursi teras setelah mandi siang, untuk sejenak bersantai. Dari semalam sampai sekarang pesan nya belum ada yang di balas satu pun oleh Sinta.


'Apa mungkin dia masuk kerja? Ya sudah, aku ke counter sajalah.' bergegas Bayu mengambil jaket dan kunci motor nya.


'Tumben sepi amat.' batin Bayu ketika melihat transaksi hari ini.


'Apa benar, rezeki di patok ayam gara gara bangun kesiangan? Ah, ada ada saja.' Akhirnya, seharian Bayu ikut menjaga counter, demi memastikan pendapatan nya hari ini.


Baru juga merasakan pendapatan nya yang mulai stabil, eh sekarang harus anjlok lagi. Kadang, di saat seperti itu, Bayu mulai frustasi lagi. Apalagi ini sudah sebulan lebih.


"Nah, gitu dong, bangun pagi. Ayo ke masjid bareng." ajak Reyhan ke Bayu, dia pun langsung mengangguk.


Setelah sebulan, mengalami penurunan omset, Bayu pelan pelan kembali melaksanakan sholat. Termasuk di pagi itu, dia sudah bangun dan bersama dengan kedua saudara nya berangkat ke masjid.


"Tumben ah, kak Bayu mau sholat subuh. Biasanya sholat subuh nya di jama' sama sholat dhuhur." gurau Bima.


"Mana ada sholat subuh di jama' dengan sholat dhuhur dodol." Bayu menjitak kepala adik nya. Bayu memang sering menganiaya adik nya seperti itu, berbeda dengan Reyhan yang lebih lembut dan tak pernah main tangan dengan kedua adiknya.

__ADS_1


Sesampainya di masjid, beberapa jama'ah juga melirik Bayu dengan tatapan yang sedikit aneh.


'Pasti mereka sedang membatin ku karena datang ke masjid.' batin Bayu sambil melirik ke arah beberapa orang bapak yang juga baru datang.


'Bodo amat, ngga usah di pikirin.' Bayu menyusul kedua saudaranya yang sedang melaksanakan sholat tahiyatul masjid.


"Kenapa muka mu di tekuk seperti itu?"


"Omset ku bulan ini turun drastis." bisik Bayu setelah menengok ke kanan kiri.


"O.... Jadi itu yang membuat mu bangun pagi dan ikut sholat di masjid." Reyhan mencemooh adik nya.


"Jangan keras-keras ah kak."


"Kenapa?"


"Kenapa harus takut dengan ibu? Tenang saja, kamu ngga bakal di marahi kok.


"Iya aku tahu, tapi aku ngga ingin bikin ibu sedih."


"Ya sudah, nanti aku coba bantuin kamu."


Benar saja, setelah sebulan di bantu oleh Reyhan, counter Bayu mulai mengalami peningkatan omset lagi. Beberapa langganan Reyhan yang rumahnya dekat counter Bayu di arahkan untuk membeli di sana. Tak hanya itu saja, Reyhan kembali memberikan harga paling istimewa untuk Bayu ketika berbelanja. Karena Bayu tidak terlalu aktif seperti Reyhan dalam mencari supplier termurah, maka nya ia selalu mengambil stok dari counter kakaknya.


"Thanks ya kak sudah di bantuin." Reyhan hanya mengangguk saja sambil sibuk dengan handphone nya.


"Bikin es kopi sana dong." titah Reyhan tanpa melihat adik nya karena sibuk membalas chat. Karena sudah merasa di bantu, akhirnya Bayu meletakkan handphone nya di meja dan berjalan menuju dapur untuk membuat es.

__ADS_1


Drett....


Handphone Bayu bergetar sejak tadi. Reyhan yang penasaran akhirnya melongokkan kepalanya untuk melihat siapa yang menghubungi Bayu. Ia mengernyitkan dahinya ketika, membaca sederetan pesan atas nama Sinta melalui notif yang mengambang tanpa menggulir layar handphone.


Ia kembali pura pura sibuk dengan handphone nya sambil berpikir siapa Sinta itu.


"Nih es nya." Bayu meletakkan es itu di meja dan Reyhan segera menuang ke gelas. Sedangkan Bayu kembali mengecek handphone nya, lalu senyum senyum sendiri sambil mengetik pesan.


'Ada banyak perempuan yang bernama Sinta di dunia ini. Tapi, kenapa ketika aku membaca nama nya, kembali teringat dengan Sinta yang memutuskan aku? Kalau beneran Sinta yang itu, kenapa mereka berdua bisa kenal?' batin Reyhan sambil menatap Bayu.


"Kenapa menatap ku seperti itu?" Bayu yang merasa tak nyaman karena kakak nya tengah menatap nya dengan intens.


"Aku perhatikan kamu senyum senyum sendiri sejak tadi, kenapa?"


"Dapat pesan dari Susi, katanya hari ini omset nya naik lagi." sengaja Bayu berdusta.


"Oh, syukurlah kalau begitu. Aku ke kamar dulu." Reyhan bangkit dari duduk nya.


'Pesan nya mesra sekali, kelewatan banget sih ni anak. Eh, bukannya itu...... foto Sinta? Sepertinya benar dugaan ku, itu Sinta yang aku maksud. Baru saja kemarin ketemu dengan nya dan ngaku nya putus dari Andre, sekarang udah berani deketin adik ku. Kenapa harus orang orang di sekitar ku yang kamu deketin? Dasar ular betina.' maki Reyhan dalam hati.


Sebenarnya ia tidak benar-benar masuk kamar, melainkan berdiri di kaca jendela belakang Bayu. Sehingga ia bisa melihat dengan jelas apa yang di lakukan Bayu. Sejenak Reyhan berpikir, tentang apa yang harus ia lakukan, sebelum Bayu bernasib sama seperti diri nya. Entah kenapa sampai sekarang Reyhan selalu berpikir buruk tentang Sinta. Padahal manusia bisa saja berubah.


'Aku harus mengambil langkah cepat.'


Hai kak tetap dukung terus mas Reyhan untuk menemukan cinta sejatinya ya dengan tekan like hadiah vote dan favorit 😘🤗


Terimakasih semoga selalu diberi kesehatan dan kelancaran rezeki yang berlimpah 😘😘

__ADS_1


__ADS_2